Wednesday, June 27, 2007

Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah I


Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah I
Pendidikan Kilat untuk Mengasa Keahlian Bahasa Arab)



Rasa bahagia yang ada pada diri ini tidak bisa kuungkapkan dalam bentuk apapun, bahkan kata-kata pun tidak bisa untuk merangkai rasa bahagia yang kurasakan saat ini. Sudah lama sekali aku kagum pada Universitas Cairo Mesir, salah satu universitas di Mesir yang banyak telah mencetrak kader-kader bangsa yang berintelektual, mungkin dalam segi pembelajaran keagamaannya tidak sebagus Universitas al-Azhar sebagai satu-satunya universitas di Mesir yang berbasis agama Islam dan termasuk universitas tertua di dunia setelah Universitas Oxford di Inggris. Sejak lama ingin sekali hati ini untuk belajar di sana, tapi tidak mungkin bisa tercapai keinginan besar ini, dari segi uang tidak akan mampu membayar pembayaran yang begitu besar, begitu juga dari segi keahlian bahasa yang begitu rendah. Tapi kemarin hari Sabtu tanggal 24 Mei 2007 aku bersama tiga teman mendaftarkan diri untuk mengikuti Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah (Pendidikan Kilat untuk Mengasa Keahlian Bahasa Arab). Diklat (Pendidikan Kilat) ini bekerja sama antara Cairo University dengan The King Abdel Aziz Babthin dalam hal karya sastra dan pendalaman syair Arab. Diklat ini diberikan untuk para pelajar di Mesir sebagai pelajaran untuk pembuatan karya sastra dan pendalaman syair secara gratis.

Mungkin diantara tujuan diklat ini adalah supaya para pelajar Arab mampu membuat karya sastra (syair) dan dapat mendalaminya, karena sejak akhir beberapa tahun ini karya sastra Arab dalam bentuk syair mulai turun, kebanyakan orang Arab sudah beralih ke syair modern yang sudah mengindahkan qawafi-aturan syair-. Maka dari sini raja Saudi Arabia memberi biaya untuk memberi pelajaran secara singkat tentang dunia keahlian membuat syair dan membenarkan kesalahan-kesalahan bahasa Arab yang saat ini banyak terjadi pada kalangan orang-orang Arab. Diktat yang diberikan oleh Cairo University dan King Abdel Aziz ada dua bentuk, yang pertama adalah keahlian berbahasa Arab Fusha dan keahlian Arudhiah atau ilmu yang menerangkan kaidah-kaidah dalam pembuatan syair Arab dan musik-musik yang dikeluarkan oleh syair-syair itu. Ilmu Arudh diciptakan oleh Khalil bin Ahmad (100-170 H), sedangkan kata Arudh diambil dari salah satu nama Saudi Arabia, ilmu ini dinamakan Arudh karena Khalil bin Ahmad ingin supaya ilmu ini bisa memberi berkah kepada siapa saja yang menpelajari dan mendalaminya. Di dalam ilmu Arudh dijelaskan kaidah-kaidah dasar sebuah syair Arab dan lagu-lagu yang dikeluarkan oleh syair tersebut, seperti Bahr Rajaz ¬(lagu Rajaz) yang syairnya selalu berbentuk sedikit, lagunya tampak ringan dan lincah, karena biasanya orang Arab melagukan syair dalam bentuk lagu Rajaz untuk menggembalakan kambing, sehingga lagu-lagunya selalu lincah selincah larinya kambing-kambing.

Dari dua macam diklat itu, saya mengambil diklat keahliah bahasa Arab-nya, saya ingin memiliki keahlian dalam hal kebahasaannya. Baru tanggal 26 Mei 2007 saya dan teman-teman mengikuti diklat yang pertama, ternyata anak Indonesia yang mengikuti tidak begitu banyak, bisa dihitung. Yang mengikuti diklat ini luar biasa banyaknya, kalau diitung-itung ada sekitar 200 mahasisiwa, mahasiswa-mahasiswi tumplek-amblek jadi satu dalam ruangan yang cukup besar itu. Untuk mahasisiwa menempati deretan bangku sebelah kiri dan untuk mahasisiwinya menempati deretan sebelah kanan. Dalam perteman pertama ini saya dan temen-temen terlambat masuk sekitar setengah jam-an, saya mendapatkan bangku dibelakang mahasiswi yang ada pada belakang sendiri, rasanya malu dan gerogi menyerang diriku. Selama sekolah di Mesir, saya sendiri belum pernah belajar dalam satu ruangan dengan mahasiswi, apalagi mahasisiwi Mesir yang membuat merinding. Dalam sepuluh menit itu, saya tidak bisa konsentrasi mendengarkan penjelasan dari Dr. Ibrahim Dhouah, rasa grogi dan malu masih membuatku tidak tenang. Akhirnya lama-kelamaan rasa itu hilang bersamaan dengan enaknya penjelasan yang dibawa oleh Dr. Ibrahim. Dr. Ibrahim menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan kebahasaan yang ada pada nas-nas syair dan beberapa naskah pers. Penjelasannya hanya gelobal saja, untuk penjelasan secara mendetail akan diterangkan pada pertemuan mendatang. Diklat yang akan memakan waktu sekitar tiga bulan ini akan dibawakan oleh dosen-dosen yang sudah pakar dalam bidang kebahasaan dan kesusasteraan.




Yang membuatku tahjub dan senang adalah kecakapan dan keaktifan dari para mahasiswa Cairo University Mesir yang mengikuti diklat ini, keaktifan seperti ini jarang saya lihat pada mahasiswa al-Azhar, setiap saya mengikuti pelajaran di kelas dan beberapa diklat seperti ini di al-Azhar, jarang sekali melihat mahasiswa yang aktif. Dari sini saya bisa melihat keunggulan mahasiswa dan manajemen pendidikan yang diberikan oleh universitas Cairo. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Cairo Universitas adalah tempat para mahasiswa yang aktif, kreatif dan sensitif, sedangkan al-Azhar University adalah tempat para pelajar yang tawadhu’. Dari sekelumit pengalaman ini juga saya bisa sedikit membenarkan kata-kata Dr. Thaha Husyan selaku mantan menteri pendidikan Mesir beberapa tahun silam, Dr. Thaha mengatakan bahwa al-Azhar terlalu mengungkung para mahasiswanya sehingga tidak bisa maju ke permukaan, hanya para syaikhnya saja yang maju digaris terdepan. Sedangkan Cairo University selalu menjunjung kebebasan (bukan pergaulan bebas) mahasiswanya dan mendukung mereka untuk maju digaris terdepan, sedangkan para dosennya hanya dibelakang mereka sebagai penggerak dan peneliti. Perbedaan anatara kedua universitas ini sangat mencolok sekali, bahkan saya merasakan apa yang dikatakan oleh Dr. Thaha setelah merasakan pendidikan kedua universitas ini, walaupun baru sebentar.

Dr. Ibrahim mengatakan bahwa kesalahan yang sering terjadi pada koran-koran, syair, danmajalah-majalah adalah karena telah tercemari oleh bahasa ‘Amiyah (bahasa pasaran), bahasa ‘Amiyah Mesir sangat merusak bahasa Arab Fusha (pemersatu atau fasih). Pendapat seperti ini pernah saya dengar juga dari Dr. Hani Muhammad Mahdi dalam diklatnya setahun yang lalu, walaupun bahasa Arab ‘Amiyah Mesir masih tergolong bahasa yang paling dekat dengan bahasa Arab aslinya. Memang bahasa Arab ‘Amiyah Mesir adalah bahasa yang paling dekaty dengan bahasa aslinya, bahasa Arab Fusha. Hanya saja dialek yang digunakan oleh orang-orang Mesir berbeda jauh dengan bahasa aslinya, begitu juga denagn susunan kaidah-kaidahnya sangat berbeda dengan bahasa aslinya. Walaupun dekat tapi tetap jauh, kedekatan bahasa Arab ‘Amiyah dengan bahasa Arab Fusha hanya dilihat dari segi kata-katanya saja, bukan dari segi susunan dan dialektikalnya. Kalau kita mau mendengar dengan jelas, bahasa Arab ‘Amiyah yang ada di Mesir sebenarnya terbagi menjadi dua , yaitu bahasa Arab ‘Amiyah Selatan dan Utara, kedua bahasa ini pun berbeda dalam segi dialektikal.

Dua jam diklat berlangsung, selama dua jam itu Dr. Ibrahim hanya memperlihatkan kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa saja, tanpa memberi penjelasan secara mendetai, untuk penjelasannya akan disampaikan dalam pertemuan selanjutnya. Diklat ini akan berlangsung selama tiga bulan dan akan diadakan ujian diakhir pertemuan, bagi para mahasiswa yang ikut akan diberi syahadah (ijazah) dari Universitas Cairo dan The King Abdel Aziz Saudi Babthin. Setelah selesai diklat ini juga, The King Abdel Aziz akan mengadakan perlombaan pembuatan sayair dengan hadiah yang cukup besar. Selesai diklat, saya dan teman-teman jalan-jalan melihat-lihat gedung Cairo University. Dalam perjalanan keliling-keliling itu sempat beberapa kali hati saya harus berdebar-debar kencang, rasa tahjub, bangga, senang, dan malu cempur aduk semua. Dari mulai gedung, ternyata Cairo University mempunyai kesamaan dengan universitas-universitas yang lainnya, bangunannya cukup tua kecoklat-coklatan dan besar-besar. Bangunan yang mengingatkanku pada bentuk arsitektur bangunan kuno Yunani dan Romawi itu membuatku semakin suka, apalagi ketika kulihat sebuah monumen yang dipinggirnya melekat jam dalam ukuran yang besar sekali, luar biasa hebatnya.

Dari segi luasnya, Universitas Cairo tidak kalah dengan Universitas al-Azhar pada fakultas umumnya, sedangkan dari segi kebersihan pun cukup membuat bangga dan senang orang yang datang menjenguknya. Di dalamnya dihiasi dengan berbagai tumbuhan dan pohon yang hijauh dan segar, di bawah pohon-pohon besar dengan daunnya yang hijauh dan rindang dipasangi beberapa bangku untuk beristirahat. Belum lagi ada beberapa Kantin di dalamnya, walaupun kecil tapi makanan dan minuman yang disajikan cukup elit juga, ini menambah nilai plusnya. Taman yang ada di dalam Universitas Cairo juga dijaga dengan baqik, dipinggirannya dipasangi juga beberapa bangku untuk beristirahat dan belajar bagi para mahasiswa. Yang membuat hati-hati iniberdebar-debar adalah disetiap bangku di bawa pohon dan taman itu duduk beberapa mahasiswa dan mahasiswi, kebanyakan berkelompok, ada juga yang berduaan saja. Sepertinya mereka habis belajar dan mendiskusikan sesuatu, atau hanya sekedar bercanda bersama teman-temannya. Hatiku bertambah berdebar-debar ketika ada beberapa mahasiswi yang sedang duduk itu melihat dengan matanya yang indah kepada kami, sepertinya mereka agak kaget dengan kehadiran kami di situ, atau mungkin sepertinya mereka ingin mengajak kenalan kami. Karena setahu saya hanya ada beberapa orang Indonesia saja yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di sana, sehingga kehadiran kami di sana membuat mereka bertanya-tanya.

Untuk menutupi betapa geroginya diri ini, saya hanya pasang senyum ke sana ke mari sambil mengalihkan pandangan ke arah lainnya. Pengalaman sekelumit ini akan menjadi pengalaman yang menggembirakan buatku, walaupun hanya bisa belajar di Cairo University tiga bulan saja, ini pun cukup memuaskan hati untuk melegahkan rasa penasarnku pada Universitas favorit ini. Dari jalan-jalan ini saya banyak mendapatkan inspirasi, semoga novel yang masih saya kerjakan ini segera selesai, karena kebanyakan setting yang ada pada novelku ini ada pada Cairo University. Semoga Allah mengabulkan do’a dan keinginanku ini, amin.

Bathniyyah, 26 Mei 2007



Baca Selanjutnya Bro..

Monday, March 26, 2007

Pelangi Definisi Sastra, Antara Versi Arab dan Indonesia



Tulisan ini akan mencoba untuk menelaah ulang tentang definisi sastra yang hingga saat ini belum ada kata kesepakatan pasti, definisi yang pas untuk kata ’sastra’ masih belum ditemukan, dari dekade-ke dekade definisi untuk sastra selalu berubah-ubah dan berkembang. Hingga para pakar bahasa dan sastrawan sendiri sebagai pelaku dan pembuat sastra (walaupun penulis tidak menyetujui sebutan ini) masih belum bisa menemukan definisi sastra, baik secara konklusif atau formalitatif. Meminjam kata seorang teman ketika ditanya tentang apa definisi sastra, ia menjawab bahwa mencari definisi sastra bisa dikatakan sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Apakah mencari definisi untuk sastra sesulit itu?.






Tulisan ini akan mencoba untuk menelaah ulang tentang definisi sastra yang hingga saat ini belum ada kata kesepakatan pasti, definisi yang pas untuk kata ’sastra’ masih belum ditemukan, dari dekade-ke dekade definisi untuk sastra selalu berubah-ubah dan berkembang. Hingga para pakar bahasa dan sastrawan sendiri sebagai pelaku dan pembuat sastra (walaupun penulis tidak menyetujui sebutan ini) masih belum bisa menemukan definisi sastra, baik secara konklusif atau formalitatif. Meminjam kata seorang teman ketika ditanya tentang apa definisi sastra, ia menjawab bahwa mencari definisi sastra bisa dikatakan sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Apakah mencari definisi untuk sastra sesulit itu?.

Dari dulu sampai sekarang, tidak ada kata sepakat dalam pendefinisian sastra, baik di dunia Indonesia ataupun di dunia Arab, karena arti sastra sendiri selalu berubah-ubah sesuai perkembangan zaman. Makanya penulis memakai judul untuk tulisan ini dengan pelangi definisi sastra, antara versi Indonesia dan Arab, dengan tujuan untuk menelaah ulang definisi-definifi yang diberikan para pakar bahasa dan sastrawan kita untuk sastra dan membandingkannya dengan definisi sastra yang diberikan para pakar bahasa dan sastrawan di dunia Arab. Sehingga dari sini kita bisa membandingkan dan menarik benang merah (kata sepakat) dari keduanya.

Kita mulai mendefinisikan kata sastra dengan mengambil artinya lewat KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), menurut KBBI arti sastra adalah:
Þ Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
Þ Karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
Arti yang diberikan KBBI ini sama dengan arti yang diberikan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Sedangkan dalam kamus Ilmiah Populer diartikan sebagai kitab; tulisan; karangan; buku ilmu; dan kesusastraan. Dari definisi yang diberikan kamus kita ini, kita bisa mengartikan sastra sebagai bahasa yang diungkapkan dalam bentuk tulisan atau karangan dengan memiliki daya artistik dan keindahan, baik dalam isi atau ungkapannya. Arti dari kedua kamus itupun tidak jauh dari arti asal sastra dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai makna huruf, bahasa dan karya. Arti yang kita dapatkan dalam dua kamus ini adalah definisi secara minimum, yakni minim-minimnya sastra itu berkisar tentang tulis-menulis. Bagaimana dengan adanya teater, drama, film, nyanyian, pembacaan puisi dan sinetron, apakah semua ini tidak termasuk katagori dalam sastra?.

Sekarang kita coba melihat definisi sastra secara maksimum. Plato dalam bukunya republic, ketika ia menjelaskan tentang dunia ide, ia sedikit menerangkan tentang fungsi sastra. Ia mengatakan bahwa sastra adalah sebuah karya tiruan realitas, yang nota bene adalah wujud tiruan dari dunia ide. Dengan ini Plato mengatakan bahwa sastra jauh dari kebenaran, dalam artian sastra jauh dari dunia nyata kehidupan kita, semuanya hanya daya hayal yang tidak bisa dipegang dan dijadikan poatokan. Beda dengan muridnya, Aristoteles. Ia lebih menempatkan sastra sebagai sesuatu yang agung. Ia berpendapat bahw sastra, terutama tragedi, adalah dunia kemungkinan yang ditemukan dan diciptakan secara nyata oleh pengarangnya. Dengan kata lain, seeorang sastrawan bisa membuat karya sastra yang sangat mirip dengan kehidupan seseorang atau mengambil contoh kehidupan seseorang untuk dijadikan karya sastra.

Dr. Syafiq Abdul Razzaq Abu Sa'dah dosen fakultas Bahasa Arab universitas al-Azhar mengartikan sastra umumnya dan puisi khususnya adalah cerminan kehidupan manusia, ia juga refleksi dari perkembangan kehidupannya dari yang kecil sampai yang besar. Atau Hernowo dalam salah satu tulisannya pernah mengatakan bahwa sastra adalah bagian dari kehidupannya, ini tidak jauh dari definisi yang diberikan Marcel Proust, ia mengatakan bahwa sastra adalah masa lalunya. Dari definisi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sastra adalah refleksi dari kehidupan seseorang yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang menggugah.
Kalau menurut Nio Joe Lan beda lagi, ia mendefinisikan sastra sebagai cerminan segala apa yang berada dalam sanubari manusia. Dengan definisi ini bisa dikatakan Nio Joe Lan lebih mendekati definisi yang diberikan oleh Hernowo dan Marcel Proust, inti dari sastra ada pada diri sastrawan itu. Mungkin definisi akan tampak bertentangan dengan definisi yang diberikan Dr. Syafiq yang obyek dari sastra lebih banyak dari luar sastrawan itu sendiri.
Di sisi yang lain, orang-orang bayak yang menghubungkan sastra dengan keindahan, kata orang-orang sastra itu harus indah, terus pertanyaannya apakah sastra itu harus indah?. Menurut penulis sastra tidak harus indah, karena letak inti dari sastra pada dasarnya adalah bukan pada keindahan saja, tapi harus didukung dengan tujuan sastra itu. Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, alangka baiknya kalau kita menengok sebentar tentang sastra dalam bahasa Arab (adab), dengan begitu kita bisa mengambil kesimpulan dari keduanya.
Ibn Mnadzur dalam kamusnya Lisanul Arab dan Zubaidi dalam kamusnya Tajul ‘Arusy mengatakan bahwa kata asal adab diambil dari kata adbu atau adb yang bermakna undangan atau ajakan untuk makan. Dari kata itu muncullah kata adab yang diartikan sebagai mengajak seseorang untuk berbuat baik, jadi muaddib adalah seseorang yang mengajak kepada kebaikan dan menyuruh meninggalkan kejelekan. Lamaban laun arti adab menjadi bergeser dari undangan atau ajakan untuk makan menjadi budaya. Sedangkan pada abad ke-3 makna adab digunakan hanya untuk karya prosa dan puisi.

Sedangkan Ibn Khuldun mengartikan adab sebagai mutu (hasil) pada keindahan prosa dan puisi dengan gaya orang-orang Arab. Syamsuddin as-Syakhawi berpendapat bahwa adab adalah sebuah disiplin ilmu yang menerangkan tentang apa-apa yang ada di sanubari seseorang dengan kata-kata atau tulisan. Ada juga yang mengartikan adab sebagai setiap makna kehidupan yang diungkapkan dengan gaya bahasa yang indah.
Begitu juga kata literature dalam bahasa Inggris mempunyai arti creative writing of recognized artistic value. Dalam bahasa Inggris sastra lebih didefinisikan sebgai tulisan yang indah.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa semua definisi tentang sastra dari Indonesia dan Arab hanya berkisar tentang cermin kehidupan-baik seseorang atau secara umum-, tulisan, bahasa, dan keindahan. Dari masa ke masa arti sastra sendiri selalu berubah-ubah mengikuti perubahan dunia. Mungkin orang-orang Indonesia dan Arab mengartikan sastra sebagai bahasa, tulisan dan keindahan, karena pada zaman itu masih belum ada audio dan visual. Hingga saat ini arti sastra masih tersangkut pada masa itu, sehingga banyak orang yang tidak puas dengan definisi sastra yang diberikan para pakar bahasa dan sastrawan sendiri.
Adapun menurut mereka yang mengatakan bahwa sastra itu harus ditulis dengan bahasa yang indah, itu juga bukan sebagai patokan sastra untuk saat ini. Banyak juga karya sastra yang keluar dari batasan keestetikaan yang kita dapatkan pada dunia sastra saat ini. Seperti karya novelis Naguib Mahfouz (1911-2006) yang kental dengan simbolisnya, ia lebih mendekati arti dan tujuan karyanya dari pada keindahan kata-kata dalam karya-karyanya. Sastra seperti juga manusia, keindahan bisa diibaratkan sebagai bentuk tubuh manusia, sedangkan tujuan dan arti dari sastra lebih bisa dibiratkan sebagai dalaman manusia. Saya tidak menafikan keindahan yang digembar-gemborkan sebagian orang, tapi saya lebih memandang perlunya kedua-duanya jalan bersama, dengan begitu mutu sastra itu akan lebih tampak berganda.
Dari semua definisi di atas dan permasalahannya dalam kehidupan era-sekarang, saya bisa menyimpulkan bahwa sastra adalah cerminan dari kehidupan-baik dari sastrawan itu sendiri atau dari lainnya- yang direfleksikan melalui media-media, baik bahasa, tulisan, ataupun audio-visual dengan hiasan artistik, keindahan dan lainnya, dan dengan tujuan tertentu.
Pelangi definisi sastra telah banyak membuat bingung para pakar bahasa dan sastrawan di mana-mana, sejak dahulu hingga sekarang belum ada kata sepakat di dunai sastra untuk mendefinisikan. Mungkin sastra tidak perlu didefinisikan, seperti yang pernah dikatakan Ibn Khuldun. Karena sastra tidak perlu didefinisikan dan tidak butuh pada definisi-definisi, ia akan lebih bebas tanpa baju definisi. Jika orang mendefinisakan sastra, berarti tanpa sengaja ia membatasi ruang cakupan sastra itu sendiri. Sastra itu tidak ada batasannya.



Baca Selanjutnya Bro..

Penjegalan Karya Sastra



"Tidak ada suatu kebenaran yang mutlak kecuali hanya milik-Nya"

Pada tahun 1911, tepatnya tanggal 11 Desember 1911 lahir sastrawan besar Mesir di sebuah kota yang penuh debu dan kotor. Kota Gamaleya yang berada di belakang Khan el-Khalily di sebelah mantiqah al-Azhar dan Husain. Kota itu pernah menjadi ibu kota pada kekhalifaan Fathimiyyin, dari tempat itu muncul ulama'-ulama' dan sastrawan besar. Seorang sastrawan besar berkembagsaan Arab yang bernama Naguib Mahfouz (1911-2006) mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra pada tahun 1988, sastrwan inilah yang membuat harum bangsa Arab, karena ia adalah orang Arab yang pertama mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra. Ia telah menolehkan tinta emas pada bengsanya yang telah dikenal beribu-ribu tahun dengan keindahan sastranya.




"Tidak ada suatu kebenaran yang mutlak kecuali hanya milik-Nya"

Pada tahun 1911, tepatnya tanggal 11 Desember 1911 lahir sastrawan besar Mesir di sebuah kota yang penuh debu dan kotor. Kota Gamaleya yang berada di belakang Khan el-Khalily di sebelah mantiqah al-Azhar dan Husain. Kota itu pernah menjadi ibu kota pada kekhalifaan Fathimiyyin, dari tempat itu muncul ulama'-ulama' dan sastrawan besar. Seorang sastrawan besar berkembagsaan Arab yang bernama Naguib Mahfouz (1911-2006) mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra pada tahun 1988, sastrwan inilah yang membuat harum bangsa Arab, karena ia adalah orang Arab yang pertama mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra. Ia telah menolehkan tinta emas pada bengsanya yang telah dikenal beribu-ribu tahun dengan keindahan sastranya.

Ia mulai karirnya menulis Novel dan Cerpen semenjak kecil dan mulai dikenal oleh orang luar berkat sebuah penyataan langsung dari pemikir dan sastrawan Mesir Dr. Thaha Husain. Ia dinyatakan mempunyai tulisan yang indah dan bakat yang tinggi, ia mendapatkan pernyataan itu ketika sebuah cerpennya dibaca oleh Dr. Thaha Husain di sebuah majalah di Cairo. Setelah membaca tulisan Naguib ini, Dr. Thaha Husain langsung menulis sebuah pernyataan langsung berupa resensi cerpennya, bukan main akibat dari tulisan dari Sang Pemikir itu, orang-orang Mesir berbondong-bondong membeli dan membaca tulisannya. Dari situ nama Dr. Naguib Mahfouz melecit jauh melebihi Dr. Thaha Husain sendiri. Kemudian pada tahun 1959 ia menulis sebuah novel yang berjudul "Anak-anak Gebelawii (Children of Gebelawii/Aulad Harrtina)", novel ini ia kirmim ke sebuah majalah untuk diterbitkan secara berkala, baru satu kali saja penerbitan Dr. Naguib Mahfouz dan penerbitnya diperotes oleh kaum agamis, khususnya dari al-Azhar yang pada waktu itu masih kuat-kuatnya memegang pemerintah. Dari mulut Presiden Gamal Abdul Nasir langsung Dr. Naguib Mahfouz mendapatkan kecaman, karena hampir setiap hari sang Presiden mendapatkan telpon protes dari syaikh-syaikh al-Azhar.

Kenapa novel Anak-anak Gebelawii mendapatkan kecaman yang begitu keras dari kaum agamis?, tidak lain karena novel itu dianggap menghujat dan menghina Allah dan agama-agama Abrahamik monoteistik, Yudaisme, Kristen dan Islam sendiri. Setelah mendapatkan kecaman dan protes dari mana-mana itulah nevel Anak-anak Gebelawii tidak jadi diteruskan dan tidak boleh diterbitkan kembali dalam bentuk apapun. Pada tahun 1988 novel ini mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra. Tapi begitu pun, novel ini tetap tidak boleh diterbitkan, bahkan kecaman malah menjadi-jadi, beberapa kalangan Mesir yang agamis menjatuhi hukuman "mati" dan murtad, ini mengingatkan kepada seorang penulis asal India yang bernama Salman Rushdie, ia mengarang sebuah buku berjudul "Satanic Verses (1988)", karena dalam buku ini Allah dijadikan tokoh utamanya. Berbagai negara melarang dan memprotes terbit dan beredarnya buku ini. Bahkan pemimpin Iran pada waktu itu Ayatollah Khomeini berpidato pada sebuah radio tentang Rushdie, ia berkata bahwa Rushdie telah keluar dari Islam (Murtad) dan perkataan itu disebut sebagai sebuah fatwa pada waktu itu, padahal Ayatollah sendiri belum pernah membaca bukunya itu.

Begitu juga dengan Dr. Naguib, ia sendiri mendapatkan berbagai tentangan dan protes dari berbagai kalangan, bahkan pernah ia akan dibunuh di dalam rumahnya, sejak itulah kemana pun ia pergi selalu dikawal. Namanya diabadikan dalam sebuah judul lagu milik pemain terompet dan komponis AS Dave Doglas. Pada dasarnya pengalaman Dr. Naguib yang berwarna-warni itu adalah sebuah kehidupan yang wajar dan penuh gairah untuk menangkap pernik-pernik kehidupan, karena itu adalah sebuah tntunan alami seorang sastrawan. Penjegalan terhadap karya sastra seperti inilah yang akan membuat orang semakin menurunkan nilai kemanusiaan, karena hasil karya yang begitu hebat itu tidak mampu dinikmati orang lain yang mestinya akan menikmatinya. Begitu banyak kita jumpai seseorang yang telah mengungkap sebah kenyataan hidup dijadikan bahan guncangan dan bahan tertawaan orang, begitu banyak orang yang telah mampu membuat hidup ini semakin hidup, tapi dijadikan sasaran kebodohan mereka sendiri. Salah satunya adalah karya sastra Dr. Naguib Mahfouz sendiri, banyak orang yang belum mampu menikmati karyanya yang banyak mengangkat tentang kehidupan menengah ke bawah dengan tpendekatan dan gaya surelis. Bagaimana seseorang bisa menhukumi sesuatu yang belum mutlah kesalahan dan kebenarannya itu, novel Anak-anak Gebelawii yang dilarang terbit selama beberapa puluh tahun ini dianggap menyimpang jauh, bahkan menghina Allah, karena di situ dianggap membawa tokoh Allah. Penulis kira Dr. Naguib sendiri tidak bermaksut untuk membawa tokoh Allah dalam novelnya itu, karena tidak pernah dijumpai tokoh yag bernama "Allah" di situ, walaupun penulis tidak menafikan sebuah tokoh yang mempunyai kekuasaan besar di situ. Memang arti Gabalawii sendiri bermakna Pencipta, Penguasa dan Pemaksa, karena kata Gabalawii sendiri dari kata Jabala.

Gabalaweii sendiri mempunyai beberapa anak yang bernama Idris, Abbas, Ridhwan, Jalil dan Adam, mereka semua berasal dari satu ibu, kecuali Adam yang terlahir dari seorang budak. Cerita novel Anak-anak Gabalaweii mirip seperti cerita Nabi Adab, Iblis, dan Hawa di Syurga di awal penciptaan manusia. Novel ini menceritakan tentang keserakahan dan kekuasaan seseorang yang selalu memaksa kehendak orang lain yang lebih lemah, pernah ada orang yang menyerupakan tokoh novel ini (Gabalaweii) dengan presiden Gamal Abd Naseer sehingga ia marah besar. Mungkin saja novel ini akan menjadi sebuah novel pengkritik bagi siapa saja yang selalu memaksakan kehendaknya terhadap si lemah. Dari anak-anak Gabalaweii itu, hanya Adab yang diberi kepercayaan untuk memegang dan mengelola badan wakaf milik ayahnya itu, karena hanya dia saja yang mampu membaca, menulis dan berhitung. Dari sini timbul rasa iri dan dendam pada saudara-saudar lainnya seperti Idris dan lainn-lainnya. Tidak lama kemudian Adam menikah dengan Umaimah, sekali lagi dari nama ini muncul dugaan bahwa ia adalah simbol dari Hawa sendiri, karena Umaymah berasal dari kata Um yang berarti Ibu. Tidak lama kemudian keduanya diusir oleh keluarganya karena telah berani membaca surat rahasia rancangan masa depan dari sang Ayah. Cerita ini sangat mirip dengan cerita nabi Adab dan Hawa, maka banyak sekali orang-orang yang menganggap bahwa Gabalaweii adalah simbol dari Tuhan, sedangkan Adab dan Umaymah adalah simbol dari nab Adab dan Siti Hawa, begitu juga dengan Idris dan saudara-saudaranya lannya dianggap sebagai simbol dari Iblios dan anak cucunya. Hingga saat ini novel ini banyak diteliti oleh para pemikir dan sastrwan. Novel ini mempunyai makna yang ganda, karena setiap orang bisa menafsirkannya dengan seenak hati dan sesuai kadar pemikiran dan pengetahuan masing-masing.

Dalam sejarah kehidupan Dr. Naguib Mahfouz, kita dapat menemukan bahwa ia pernah menjadi pengikut Saad Zaghlul Pasha, pemimpin partai Wafd yang berhaluan nasionalis. Keterlibatan politik itu diakui oelh Naguib sendiri dengan bangga dalam wawancaranya di majalah Eropa. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa Naguib sendiri mungkn berkeinginan untuk menyindir dan memperbaiki sebuah pemerintahan yang otoriter seperti di Mesir ini. Ia mungkin tidak bermaksut untuk menjadikan Tuhan sebagai tokoh dalam novelnya ini, arti seperti inilah yang belum diktehui oleh orang-orang ada sat itu, itu semua karena mereka menghukumi sesuatu dengan membabi-buta tanpa memeriksa dan mempelajari bahan itu sendiri. Pada awal tahun 2006 novel Anak-anak Gebalawii telah diterbitkan kembali atas pengantar Ahmad Abdul Kamal Abu Ahmad, bahkan tidak diketahui bahwa pada tahun yang sama Dr. Naguib Mahfouz meninggal dunia.

Kairo, 02 Desember 2006



Baca Selanjutnya Bro..

Catatan Akhir di Gamalea



Kisah hidup di Gamalea memang penuh dengan kisah menyenangkan, di sana aku bisa merasakan ketinggian budaya Mesir. Dari sana aku mendapatkan banyak kenangan, baik manis atau pahit. Dari sana juga aku jadi tahu, bahwa novelis besar Naguib Mahfouz Rahimahumullah memang benar-benar novelis realis, aku mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar novelis yang hebat. Mungkin dalam sejarah kenovelan belum pernah ditemukan sosok seorang novelis kedua setelah Naguib.

Kisah hidup di Gamalea memang penuh dengan kisah menyenangkan, di sana aku bisa merasakan ketinggian budaya Mesir. Dari sana aku mendapatkan banyak kenangan, baik manis atau pahit. Dari sana juga aku jadi tahu, bahwa novelis besar Naguib Mahfouz Rahimahumullah memang benar-benar novelis realis, aku mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar novelis yang hebat. Mungkin dalam sejarah kenovelan belum pernah ditemukan sosok seorang novelis kedua setelah Naguib.


Gamalea telah banyak mengajariku tentang kehidupan, tentang arti kehidupan ini. Bagiku kehiupan adalah sebuah novel terpanjang, yang di dalamnya kita bisa menemukan semuanya dan memungkin segala sesuatu untuk berubah begitu saja sesuai dengan jalan ceritanya.

Seperti diriku saat ini, aku hidup di daerah Gamalea hanya sekitar tiga bulan. Padahal sejujurnya aku ingin sekali berada di sana sampai belajarku tuntas. Di sana aku bisa belajar melihat kultur budaya Mesir yang tinggi, bisa hidup dengan manusia-manusia yang berbeda dengan lainnya, di sana ada jutaan manusia yang berbeda-beda watak dan karakteristik, sangat unik sekali. Di sana pengalamanku semakin bertambah, ide yang kudapatkan mengalir deras dan bahan untuk tulisan tidak pernah habis.


Naguib memang tidak salah menempati tempat di sana, semua jalan cerita yang ada pada novel-novelnya benar-benar bisa kutemukan di Gamalea. Luar biasa. Aku juga jadi tahu bahwa di sana masih ada orang yang buta huruf, aku kira di kota Kairo ini tidak akan pernah ditemukan seorang pun yang buta huruf, ternyata di Gamalea yang dekat dengan Khan el-khalily dan al-Azhar Area itu terdapat banyak orang yang buta huruf. Padahal di sana ada berjuta-juta manusia yang hebat, yang menarik lagi adalah hampir penduduk Gamalea menguasai bahasa Inggris, walaupun itu hanya sekedarnya. Aku sering disapa dengan menggunakan bahasa Inggris, hingga anak kecil yang baru berumur sekitar lima tahunan sudah mampu ngomong dengan menggunakan bahasa Inggris, bahasanya bagus lagi.

Di apartemenku ada seorang anak kecil yang baru berumur sekitar lima tahunan, setiap ia bertemu denganku, ia selalu berucapa "Hallo, i love you", dengan bahasa yang renyah dan enak didengar, aku geli sekali mendengarnya. Aku pun menjawab dan mengajaknya bicara dengan sekedarnya, ternyata ia mampu mengimbangiku, benar-benar gadis cilik yang hebat.

Itu semua hanya bagian kisahku di Gamalea saja, untuk yang lainnya mungkin aku akan mengabadikannya lewat sebuha novel atau hanya sekedar catatan harian. Sejak hidup di sana, aku memang jarang menyentuh inmternet, makanya ceritaku tidak mampu kutulis dan kupasang di blog (maaf bagi teman-teman yang lagi menuggu). Hari ini aku ingin menuangkan semuanya di sini, mumpung ada kesempatan.

Sekarang langsung saja aku akan mengisahkan perpisahanku dengan mama dan anak-anknya (tuan rumah). Setelah sekitar satu bulan aku dan temen-temen muter-muter untuk mencari rumah kos baru, akhirnya pencarianku membawa hasil, aku dan temen-temen mendapatkan rumah kos baru di daerah yang bernama Bathniyyah di belakang masjid al-Azhar, cukup enak dan strategis. Kami pindah rumah karena memang teman-teman sudah malas jalan dari Gamelai ke Kampus, jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Kita ingin mencari rumah yang dekat dengan Kampus dan lebih besar, rumah yang kami tempati di Gamalea itu cukup sesak juga, tidak cocok untuk kehidupan seorang mahasiswa.

Di malam perpisah kami dengan tuan rumah di Gamalea, kami harus menitikkan air mata, sedih sekali. Terus terang saja, belum pernah aku menemukan tuan rumah yang begitu baik daripadanya. Kehidupan mereka cukup harmonis, supel dan menyenangkan. Hingga malam itu kami bertiga meminta izin untuk pergi dari rumah itu, kami disuruh masuk dan disuguhi dengan minuman. Di dalam rumahnya hanya ada mama dan anak-anknya Hebah, Suzan dan Hamid. Suaminya lagi keluar. Ketika kami ngomong mau pergi, mereka semuanya kaget, karena selama ini kami belum pernah mengatakan akan pergi.

Mama mendengar ini pun nangis, terlihat matanya langsung merah dan suaranya serak seklai, begitupun Suzan yang cantik dan imut-imut tak mau kalah dengan ibunya, mbaknya Hebah juga begitu. Untuk menengkan kekagetan mereka, aku harus mengalihkan pembicaraanku dari mulai menanyakan kabar satu persatu, tentang kabar sekolah Hamid dan Suzan juga. Dalam pembicaraanku dengan mereka, aku tahu bahwa Hamid termasuk orang yang cukup terpelajar juga, ia dapat mengikuti kabar-kabar terbaru, sedangkan Suzan diam tidak mengikuti arah pembicaraan kita. Ia hanya sesekali tanya ke mabaknya Hebah yang cukup pintar juga. Sebenarnya Suzan mempunyai tampang yang cantik, tapi agak kurang baik dalam segi pengetahuan saja. Tema yang kami bicarakan waktu itu adalah tentang gempa di Aceh dan Jawa, juga tentang Naguib Mahfoz, dan tentang bahasa ‘amiyah (pasaran) Mesir dan bahasa Indonesia.

Setelah agak lama, kami akhirnya bisa mnetralisir keadaan, dari kesedihan menjadi kelakar yang menyenangkan. Lucunya, temanku ada yang mengatakan kepada mereka bahwa aku adalah penulis, aku bisa menulis novel, cerpen dan puisi. Hingga Suzan berkata, "Apa benar kamu bisa menulis puisi?"
"Coba buatkan puisi untukku"mintanya padaku, semuanya diam.
"Wah, aku hanya bsia membuat puisi berbahasa Indonesia, puisi dalam bahasa Arab sangat sulit"kayaku padanya.
Ia juga menanyakan cita-citaku, aku menjawabnya bahwa cita-citaku adalah bisa mengabdikan diriku untuk masyarakat Indonesia, baik dengan wasilh tulisan atau lainnya. Aku juga bercerita bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir ketika pulang akan menjadi seorang guru, itu minim-minimnya.

Selanjutnya aku mengalihkan tema perbincangan kita ke Naguib Mahfouz, ternyata mama adalah orang yang bisa diajak bediskusi, ia mengenal dan mengatakan kepada kami.
"Ia orang yang besar dan mulia"katanya setelah menceritakan sedikit tentang Naguib.
"Banyak karyanya yang kita baca di sekolah"kata Hamid tidak mau kalah dengan ibunya.
Dari tema Naguib, kita alihkan ke bahasa amiyyah dan bahasa Indonesia. Dari mulut mama aku mendapatkan banyak mufradat bahasa amiyyah Mesir. Ketika membicarakan bahasa Indonesia dan tentang bangsa Indonesia, mereka mendengarkan dengan seksama, seperti seorang guru menerangkan materi pelajarannya ke murudnya, seperti itulah kami menerangkan tentang keindonesiaan. Dalam akhir perbincangan kami dengan mereka, aku menanyakan kepada mereka untuk jalan-jalan ke Indonesia.
"Ngak mau, di sini enak"kata Suzan ketika kami tanya apakah ia mau diajak ke Indonesia.
Semunaya tertawa dengan jawaban Suzan, memang negara Mesir adalah negara yang enak, indah dan asyik. Kata orang-orang Mesir, Mesir adalah syurga dunia. Perkataan itu memang agak bernada sombong dan mau menang sendir, tapi jiga kita pernah hidup di Mesri, maka akita akan dapat merasakan apa yang dikatakan orang-orang Mesir itu, memang benar dan di dalamnya banyak bidadari-bidadari yang membuat kita lupa segalanya.

Akhirnya kami diizini untuk peergi walaupun dengan berat hati, tapi sebelum kami kembali ke flat kami. Mama bepesan bahwa jika kami ingin kembali lagi, mereka mempersilahkan. Sekarang kami hidup di Bathniyyah dengan kebiasaan yang berbeda,dan kebudayaan yang berbeda pula, walaupun jarak antara Gamalea dengan Bathniyya hanya sekitar limja kilo-an, tapi perbedaan kebudayaan sangat berbeda dan dapat kurasakan perbedaan itu. Kalau di Gamalea, suasannya bising dan keras, sedangkan di Bathniyyah suasananya tenang dan enak untuk belajar, lagi dekat dengan univesitas al-Azhar.


Puisi Untuk Suzan


Bulu mata lentik berseri
Bagai rumput panjang di pagi hari
Sepasang alis hitam kecil melengkung
Menggeliat-liat malas di kedua ujung
Bibir merah basah menantang
Bentuk indah gendewa terpentang
Hangat lembut mulut juwita
Sarang madu sari puspita
Senyum dikulum bibir gemetar
Tersingkap mutiara indah berjajar
Segar sedap lekuk di pipi
Mengawal suara merdu sang dewi!



Puisi Untuk Gamalea


Kekosongan tiba
Saat meninngalkanmu wahai Gamalea
Di sana kudapat berjuta rasa
Kisah penuh kebudayaan buatan para dewa
Di sana kujadi dewasa
Matang dalam berfikir dan asa
Cita-cita juga tampak jelas di mata
Gamalea...
Berjuta-juta bidadari menari di sana
Bersama lantunan ramai anak bangsa
Di sana Naguib mengabadikan rasa
Dari sana Taufiq Hakim belajar bahasa
Juga mengajarkannya untuk anak bangsa
Di sana para mufti berfatwa
Di sana ilmu memancar dari dua menara
Gamalea...
Realis dan tampak ceria
Dengan Khan el-Khalili dan masjid Hussainnya
Juga kebudayaannya
Gamalea...
Di dalamnya penuh misteri
Dari perabotan cantik sampai anak dekil kecil

Kumengenalmu karena agungmu
Kumengertimu karena hidup di dalammu
Kumenyanjungmu karena ada Naguib besarmu
Di sana ada ceritaku yang tidak pernah habis
Walau umur terus terkikis
Gamalea...
Tempat kisah, budaya, ilmu dan mengertiku
Baca Selanjutnya Bro..

Sunday, December 03, 2006

Sha'alik pada Zaman Pra-Islam

Hubungan antara masyarakat pada zaman pra-Islam sangat erat, hubungan kehidupan mereka berada di bawah naungan persaudaraan yang telah mereka kenal sejak ribuan tahun dari nenek moyang mereka. Hubungan persaudaraan ini biasanya dikenal dengan "fanatisme" atau persaudaraan sedarah. Diantara suku yang hidup pada zaman ini, telah memiliki keakraban dan rasa persaudaran yang erat natara sesama suku mereka, mereka tidak segan-segan membela dengan nyawa mereka, ketika suku mereka diserang suku lainnya. Saling serang antar suku seperti itu pada zaman itu dianggap biasa, karena hidup mereka banyak yang berpindah-pindah untuk mencari rumput dan air untuk hewan gembala mereka. Rumput yang segar dan air yang jernih adalah dua hal yang selama ribuan mereka cari dan mereka perebutkan antar suku di daratan gersang Arab.





Ditengah-tengah mereka ada bebrapa orang yang mereka muliakan setelah ketua suku mereka, orang-orang itu biasanya dianggapnya sebagai orang yang akan menolong dan membantu mereka ketika terjadi pertikaian dan perselisihan baik diantara suku sendiri atau antar suku lainnya. Mereka juga dianggap sebagai orang-orang yang akan mampu mengangkat drajat suku mereka menjadi suku yang mulya dan disegani. Dengan datangnya orang-orang itu juga, semua silsilah dan cerita yang ada di dalam suku mereka akan dapat dipertahankan, dalam artian akan ada orang-orang menyatat dengan baik-baik semua itu. Mereka adalah para penyair yang akan diingat jasa-jasanya dalam gerak-geriknya dan akan selalu diperhatiakn semua kata-katanya, karena kata-kata yang keluar dari mulut mereka bagaikan sebuah intan dan air.

Diantara penyair-penyair yang terkenal itu, biasanya akan muncul beberapa penyair yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda daripada penyair-penyai lainnya. Penyair itu biasanya dinamakan "penyair sha'alik", penyair ini tidak terdiri dari satu orang saja, tapi terdiri dari puluhan penyair yang membentuk sebuah kelompok semacam kelompok para penyair. Kelompok inipun tidak terdiri dari satu suku saja, tapi terdiri dari beberapa suku. Setap penyair dari Sha'alik ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda, mereka tidak terikat oleh peraturan adat sama sekali, mereka hanya mempunyai ikatan persaudaraan yang erat antara satu dengan lainnya, bahkan hubungan erat ini lebih erat dari pada hubungan saudara kandung sendiri. Hubungan ini tercipta dari alam yang mereka tempati. Gurun pasir, panas yang menyengat, hewan-hewan liar, udara dingin, kilat yang menyambar-nyambar, kelaparan, kahausan adalah keadaan yang dapat menyatukan persatuan mereka.

Walaupun mereka berkelompok, tapi kebebasan mereka masih terjaga, mereka mempunyai naluri yang bisa membedakan mana lawan dan teman, mereka bisa merasakan mana yang baik dan jelek untuk mereka. Mereka akan bersatu ketika alam memanggil mereka untuk bersatu, mereka mempunyai hubungan darah yang lebih dekat dari pada lainnya. Sha'alik mepunyai makna yang bermacam-macam, secara harfiah "sha'alik" adalah orang miskin yang tidak punya harta sedikit pun [1]. Azhari menambahkan, bahwa sha'alik adalah orang-orang miskin yang tidak berharga dan tidak punya pekerjaan. Hatim at-Tha'i berkata dalam syairnya :
غنينا زمانا بالثصعلك والغني * فكلا سقاناه بكأسيهما الدهر
Hatim at-Tha'i dalam syairnya ini menyatakan, bahwa makna sha'alik adalah fakir/miskin sebagai lawan dari kaya. Syair ini telah menjadi dalil dari makna sha'alik sendir, tentu makna ini tidak akan lepas dari perubahan bersamaan dengan berkembangnya bahsa sendiri. Pada saat ini kata sha'alik sendiri telah mengalami perluasan makna yang dari pertamanya hanya bermaknya kefakiran/kemiskinan sendiri, telah meluas menjadi "seseorang yang malamnya dijadikan siang, sedangkan siangnya dijadikan malam atau begadang malam hari". Makna ini menjadi luas setelah ditemukan kata sha'alik dalam syair lainnya yang tidak mengacu pada makna sebenarnya, syair itu milik Amr bin Barraqah al-Hamdani [2]. Di dalam syairnya ini, dua kata sha'alik tidak menunjukkan makna aslinya yaitu kefakiran, tapi bermakna orang yang begadang malam untuk mengerjakan pekerjaan pada malam hari, seperti mencuri, membegal, merampok, dan pemberontakan. Amrul Qais sendiri mengatakan dalam syairnya, bahwa penyair-penyair sha'alik adalah teman-temannya yang membantunya dalam peperangan dan pemberontakannya, pemberontakan yang dilakukan di waktu malam hari tentunya. Amrul Qais biasanya memberi julukan kepada mereka dengan julukan serigala-serigala padang pasir, karena merekabergerak berkelompok seperti serigala-serigala padang pasir yang kejam dan ganas.

Walaupun mereka terkenal dengan kekejaman dan keganasannya, tetapi mereka masih mempunyai naluri persaudaraan yang erat sesama mereka. Walaupun mereka melakukan pekerjaan yang kotor berupa pencurian, perampokan, pembegalan dan pemberontakan, tapi mereka selalu memperhatikan nasih teman-teman dan suku-sukunya. Disamping mereka terkenal dengan kekejamannya, juga mereka terkenal dengan syair-syairnya yang indah—indah, siapa yang tidak kenal dengan seorang pimpinan sha'alik pada abad ke-8 yang berjulukan Syanfarah [3], sedangkan syair-syairnya terkenal disebut lamiyatul arab lil syanfarah [4], bahkan khalifah Umar bin Khattab Ra berkata mengenai dirinya dengan perkataan yang membanggakan dan memujinya dengan pujian : "ajarilah anak-anakmu lamiyatul arab, karena ia akan menjadikannya fasih dan mengajarinya akhlak-aklhlak yang bagus". Nama aslinya adalah Awas bin Hajar bin Hunu bin Azdy [5] dan berakhir nasabnya pada Kahlan bin Saba'. Lainnya adalah 'Urwah bin al-Ward, Salik bin as-Salakah, dan Ta'abbath Syirran.

Sejak dahulu kala, para penyair sha'alik juga terkenal dengan orang-orangnya yang pemberani dan perkasa, walaupun terkadang mereka terlalu ganas dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak baik. Mereka lebih banyak berdampngan dan besahabat dengan hewan-hewan liar di gurun pasir, seperti serigala-serigala liar, cheta, harimau, macan tutul, singa, kerbau liar dan lain-lain. Dari pengalaman-pengalaman yang luar biasa ini, terlahir syair-syair yang indah dan penuh filsafat tentang kehidupan. Semua gerak-gerik mereka terekam dalam syair-syair yang akan diingat sepanjang zaman. Mereka adalah kumpulan penyair-penyair miskin yang merangkap sebagai kelompok yang liar dan ganas tanpa aturan, pemberontak-pemberontak yang gagah pemberani, dan para perampok-perampok. Kehidupan mereka selalu berpindah-pindah dan menikmati pengalaman dan kehidupan mereka sendiri. Kelompok yang selalu hidup bersahabat dengan alam yang ganas dan hewan-hewan yang liar, mereka itulah kelompok sha'alik yang biasa disebut serigala padang pasir.

1- Lihat kata sha'alaik pada kamus lisanul arab
2- تقول سليمي : لا تعرض لتلفة * وليلك عن ليل الصعاليك نائم
وكيف ينام الليل من جل ما له * حسام كلون الملح أبيض صارم
ألم تعلمي أن الصعاليك نومهم * قليل اذا نام الخلي المسالم
3- Artinya orang yang mempunyai bibir yang tebal
4- Atau lidahnya orang Arab, sayyidah Aisyah Ra, juga seorang penghafal syair-syairnya Syanfarah, bahkan beliau seorang periwayat syair-syairnya juga di waktu masih kecil.
5- Azdy dinisabkan kepada Azd, sebuah suku di Yaman yang terpecah setelah banjir bandang dan pecahnya bendungan Ma'rab mencadi pecahan suku yang banyak, diantaranya adalah suku Azd Syanu'ah, Azd Umman, Azd as-Sarrah dan Azd Gassan.




Cairo, 29 Oktober 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Saturday, November 25, 2006

Gamaliah ke-III

Apartemen-apartemen itu masih menancap kuat. Bersamaan dengan waktu yang selalu berjalan ke depan tanpa mau menengok atau berhenti di tengah-tengah jalan. Bau tidak enak menyebar hampir di seluruh kawasan ini, ketuaan kawasan Gamaliah tidak pernah membuatnya kesepian, hampir puluhan ribu, bahkan mungkin jutaan orang berlalu-lalang dan bertempat di tengah-tengahnya. Salah satunya aku yang sudah sekitar dua bulan setengah bertempat di kota lama ini, atau kota novelis besar Mesir Naguib Mahfouz (1911-2006). Beliau dilahirkan di kota ini, kota yang saat ini kutempati.

Setiap kuberjalan melewati bangunan yang sudah berumur ribuan tahun ini, setiap kumenelusuri lorong-lorong sempit, setiap kumelihat anak-anak kecil Gamaliah yang sedang bermain bersama dengan teman-temannya atau mereka anak-anak kecil Gamaliah yang baru saja pulang dari sekolah, di situlah kumerasa melihat bagaimana Naguib kecil hidup, mungkin seperti itulah novelis besar itu hidup pada masa kecilnya. Mereka berlaria-larian atau kadang-kadang bermain sepak bola. Kadang-kadang aku tak terasa tersenyum sendirian, bagaimana mungkin seorang Naguib kecil yang hidup di sebuah daerah yang tua penuh debu dan kotoran seperti itu bisa membuahkan sebuah karya yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang-orang. Di sini memang kehidupannya sangat menyenangkan, aku bisa merasakan bagaimana Naguib kecil bermain dan belajar, aku juga bisa merasakan bagaimana kebudayaan khilafah Fatimiyyin mulai dibangun dan mendapatkan masa keemasannya.
Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Pernah suatu kali temanku kuajak mampir ke flatku ini, ia kuajak menelusuri lorong-lorong yang lusuh dan berdebu, bahkan baunya tidak enak. Ketika ia mulai masuk ke tempat ini, ia kaget, bahkan ia bertanya kepadaku "bagaimana kamu bisa hidup dan bertahan di tempat ini?" aku tidak pernah menjawabnya. Aku hanya memberi jalan supaya ia mau menjawab dirinya sendiri. Ia berpendapat, bahwa kota Gamaliah adalah kota terburuk di Mesir, kota terkumuh dan terkotor di Mesir. Mungkin mereka banyak berpendapat seperti itu, aku tidak pernah menyalahkan pendapat mereka, kenapa? Ya...karena mungkin setiap pendapat tidak akan pernah mempunyai kebenaran yang mutlak. Aku mungkin berpendapat yang berbeda dengan mereka, aku berpendapat bahwa kota Gamaliah adalah kota terindah dan terbaik di seluruh Mesir ini, baik dari awal pembangunannya sampai saat ini. Di sini setelah aku hidup sekian lama itu, aku bisa melihat miniatur dari kehidupan seluruh orang Mesir, bahkan semua kehidupan orang di seluruh dunia. Dari mulai anak kecil sampai tua, dari laki-laki sampai wanita, dari pekerjaannya sampai bagaimana mereka tidur. Luar biasa sekali, budaya yang jarang sekali kita temui di tempat lainnya di seluruh negeri ini.

Dari kota ini saja, Naguib Mahfouz bisa membuat dua buah novel yang bersetting di Gamaliah sendiri, seperti Khan El Khalily yang menceritakan tentang hari dan malam-malam di bulan Ramdhan di kota Gamaliah dan sekitarnya termasuk Husain dan masjidnya. Yang kedua adalah Lorong Mida (Ziqaqul Midaq) yang menceritakan lorong-lorong jalan yang ada di Gamaliah, lorong-lorong yang diapit oleh apartemen-apartemen yang sudah tua, bahkan mau runtuh. Lorong-lorong di Gamaliah tidak pernah ada akhirnya, ia bercabang-cabang dan sempit, unik dan berbahaya sekali, karena sekali anda tersesat, mungkin anda tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Sampai sekarang, entah sudah berapa kali aku melewati lorong-lorong itu, aku pernah mencoba untuk melewati sebuah lorong yang belum pernah kukenal sama sekali, akibatnya aku harus kembali lagi, karena aku tersesat entah ke mana. Sangat menakutkan sekali, apalagi ketika malam hari, di sana ada puluhan anjing liar yang sedang tertidur atau mengorek-ngorek sampah untuk mendapatkan makanan. Sekali anda lewat tanpa teman atau membawa kayu, anjing-anjing itu akan mengejar anda, karena merasa kawasannya telah dilewati. Belum lagi ketemu dengan pemuda-pemuda yang nakal, wah...anda bisa pulang tanpa pakaian sama sekali. Lorong-lorong yang mengerikan sekali.
Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Aku berharap sekali dari hidup di kota Naguib ini, aku bisa mendapatkan sebuah pengalaman hidup dan dapat mengenal kebudayaan di Mesir. Aku memang suka berpetualang, suka dengan hal-hal yang sukar dan menegangkan. Sampai sat ini, aku sudah sering mengunjungi tempat-tempat pariwisata dan kota-kota yang sudah dianggap hilang, itupun harus lihat kantong dulu, apa sedang tebal atau kering. Seperti satu bulan kemarin, ketika selesai Idul Fitri, aku sebenarnya tidak ada niat untuk kemana-mana, waktu itu ada teman yang mengajakku ke Piramid, sebenarnya sudah sejak pertama kali aku berkeinginan sekali untuk melihat dari dekat salah satu bangunan dari tujuh keajaiban dunia itu. Tapi aku selalu tidak ada kesempatan, baru pada waktu itulah aku mulai mengunjungi bangunan bersejarah itu. Ternyata tiket untuk masuk ke Piramid itu tidak semahal yang kubayangkan dahulu, hanya 20 pound untuk pelajar, sedangkan 50 pound untuk Turis dan pelancong, untuk orang Mesir sendiri hanya 5 pound. Di sana aku bisa mendapatkan banyak pengalaman dan bisa mengenal kebudayaan orang lain. Aku sempat membayangkan bagaimana orang-orang Mesir membuat Piramid sebesar itu. Aku juga membayangkan bagaimana seandainya aku bisa ketemu dengan Dr. Zahi Hawas, ia seorang arkeolog (ahli purbakala) Mesir yang diberi tanggung jawab untuk meneliti, mengatur dan merawat semua hal yang berhubungan dengan keperpubakalaan. Bahkan namanya terkenal di dunia arkeolog Eropa, seperti Prancis, Amerika Serikat dan Inggris.

Tidak lama kemudian, sekitar dua hari kemudian aku bersama teman-teman serumah pergi jalan-jalan kembali ke Madinatul Qanathir, kota ini termasuk kota parawisata di Mesir. Untuk pergi ke kota itu bisa ditempuh dengan dua jalan, yang pertama lewat darat dengan menggunakan bis dari Tahrir atau Ramsis. Yang ke dua lewat sungai, bisa menggunakan kapal angkutan lewat sungai Nil. Jalan ke dua itulah yang sedang kugunakan waktu itu, karcis yang digunakan sebesar 5 pound, waktu yang ditempuh dalam perjalanan ini sekitar 2-3 jam. Untuk masuk ke kapalnya, kami harus antri bersabar dan diperiksa oleh petugas, karena tidak semua orang diperbolehkan masuk ke kapal, hanya orang-orang yang membawa keluarganya saja yang boleh masuk ke kapal. Mereka yang mau berduaan saja tidak boleh masuk ke kapal, kecuali mereka yang sudah bertunangan dengan membawa cincin atau surat dari orang tua mereka. Ditengah perjalanan antara Tahrir ke Qanathir itu, aku melihat keindahan sungai yang terawat rapi, burung-burung semacam Bangau hidup di pinggir-pinggir sungai Nil, atau kadang-kadang mereka membuat sarang di tengah-tengah sungai yang berumput tenggi.
Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Yang paling menakjubkan adalah suguhan live-ya, di atas perahu angkutan itu, aku melihat anak kecil berumur sekitar 16 tahunan sedang menari dengan diiringi tepuk tangan dari orang tua dan keluarganya. Pinggul digoyang sampai hampir mau patah, belum pernah dalam hidupku di Mesir ini melihat tari perut live seperti itu. Beberapa menit kemudian kakak perempuannya yang sudah berumur sekitar 20-an bergoyang menggantikan adiknya, tapi goyangan kakaknya ini tidak seberani goyangan adiknya tadi, walaupun goyangannya tidak kalah indahnya juga. Kami menikmati semua sajian seperti itu di kapal yang membawa kami ke Qanathir. Untuk mengisi waktu yang kosong, aku bersama teman-teman berfoto bersama pemuda-pemudi Mesir yang ada di samping kami.

Dua jam kemudian kapal berhenti di sebuah terminal Qanathir, hari itu pengunjung banyak sekali, jalan-jalan dipadati orang-orang yang sedang melakukan rekreasi liburan Hari Raya. Yang paling banyak adalah muda-mudinya. Lagu remix dari kafe-kafe di pinggir-pinggir jalan terdengar keras sekali, muda-mudi berjoget ria di dalamnya dengan penyanyi seorang laki-laki muda. Untuk masuk ke kafe-kafe itu kita hanya dipungut biaya 1 pound, itu belum makanan dan minumnya, itu hanya tiket masuknya saja. Sebenarnya hari itu aku bersama teman-teman mau mancing ikan di bendungannya, tapi itu tidak jadi kami lakukan karena kami melihat tidak ada yang memancing di sana. Kalau hari-hari biasa mungkin banyak sekali orang-orang yang sedang mancing ikan di bendungannya. Setelah Ashar kemudian kami pulang, tapi sebelum kami pulang kami akan mampir ke rumah teman kami yang ada di Madinatul Qanathir, dengan tempat pariwisata itu. Dalam perjalanan itulah aku terkejut bukan main, karena aku melihat keindahan yang luar biasa, aku melihat keindahan sungai Nil di waktu sore di atas jalan yang di bangun di atas sungai Nil. Sayang kamera yang kupegang baterainya sedang habis, jadi aku tidak bisa memotretnya. Suasananya cukup indah dan membuat orang menjadi bengong. Pengalaman-pengalaman berharga seperti itu muncul begitu saja tanpa terkirakan. Mungkin suatu saat aku akan pergi ke Qanathir lagi, aku masih belum puas untuk menjelajahinya.

24 November 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Tuesday, October 17, 2006

Kisah di Gamaliyyah II

Kemarin hawa di Cairo mulai agak dingin, sebentar lagi musim dingin akan datang. Air yang mestinya bisa menyegarkan badan kemarin berubah dingin sekali. Bulan Ramadhan sebentar lagi akan segera habis, entah tahun depan aku bisa bertemu kembali apa tidak. Hanya do'aku semoga amal yang kukerjakan pada bulan ini diterima-Nya. Sudah dua minggu aku tidak melihat lagi gadis berkerudung putih itu, entah kemana perginya, terakhir kumelihatnya pada pertengahan bulan September. Aku merasa rindu ingin melihatnya kembali, entah penyakit apa yang menjalar ketubuhku ini. Sudah tidak bisa melihat gadis yang selama ini kuimpikan, teman-teman semuanya pergi, aku ditinggal sendirian di rumah, sepi sekali.

Siang tadi aku merasa kaget sekali, ternyata gadis yang selama ini kunanti-nanti tiba-tiba saja terlihat di samping apartemenku, kumelihatnya tanpa sengaja ketika aku sedang bosan di dalam rumah, waktu itu aku sedang membuka jendela apartemanku yang sebelah Timur, pas ketika kubuka jendela itu, eh... gadis itu ternyata berada di dalam apartemen samping apartemenku, ia juga lagi membuka jendela. Padahal setahuku ia bertempat di apartemen sebelah Barat apartemenku, lumayan jauh juga. Entah angin apa yang membawanya datang dan berada di situ, setelah tahu seperti itu, secara langsung jendela kamarku kututup kembali. Dari celah-celah daun jendela itu kuintip sejenak dirinya, tapi baru saja kumelihatnya daun pintu jendelanya segera ditutup kembali. Kasihan sekali diriku, sudah hati dek-dekan ketika melihatnya kembali, eh... malah sekarang kukehilangan dirinya lagi.

Sore itu aku duduk di depan komputer sambil menulis makalah untuk presentasiku minggu depan, sudah tiga hari aku duduk di depan komputer sambil pencet sana sini. Hasilnya masih baru sembilan halaman, padahal makalah itu harus ditulis minimal lima belas halaman, masih butuh sekitar tujuh halaman lagi. Tiba-tiba ada suara pintu diketuk, entah siapa yang mengetuk pintu dengan keras itu. Mungkin Madam Najwah yang sedang mengetuk pintu, hanya orang Mesir saja yang mampu negetuk pintu dengan keras seperti itu. Kalau temen-teman tidaklah mungkin, karena mereka tidak akan pernah negetuk pintu ketika pulang ke rumah, mereka akan langsung nyelonong masuk saja.

"Min...barroh?*" tanyaku dengan keras sebelum membula pintu.
"Ana..." jawabnya singkat.
Ternyata bukan Madam Najwah, entah siapa di luar sana, yang jelas suaranya seorang perempuan, mungkin saja Syaima' putri Madam Najwah. Kubuka pintu sedikit demi sedikit, hampir saja kuberteriak kaget ketika kumelihat siapa yang sedang berdiri di luar. Ternyata gadis berkerudung putih itu yang datang dengan membawa Kinafah** di tangan kanannya. Aku berdiri mematung tidak mampu berucap lagi.
"Ini Kinafah dari Bibi Najwah" ia menyodorkan Kinafah itu kepadaku yang masih mematung tidak bersuara.
"Oh...iya..iya..." kataku hampir terputus-putus.
Kuambil sepiring Kinafah yang terlihat lezat dan manis itu dari tangannya yang putih.
"Nona!, tolong tunggu sebentar, piringanya akan kucuci sebentar" kataku sudah tidak gugup lagi, ketika ia mau beranjak meninggalkanku.
Akhirnya ia kembali lagi, ia menunggu di depan pintu sambil melihat ke dalam rumah. Setelah selesai mengganti temapat, piring dari kaca putih itu segera kucuci denagn bersih, terus terang aku tidak mau barang-barang orang lain menjadi penjagaanku, karena aku takut tidak bisa menerima amanah orang lain, walaupun itu hanya piring yang mungkin tidak begitu mahal.
"Oh...maaf nona, nona siapa? dan kenapa nona yang mengantarkan Kinafah itu, bukannya Madam sendiri atau Adik Syaima'?" tanyaku untuk sedikit memulai perkenalanku, ini adalah peluang emasku untuk mengetahui namanya dan kalau boleh tahu nanti aku akan mendapatkan penjelasan di mana sebenarnya apartemennya.
"Saya keponakannya, Bibi lagi sibuk, begitu juga Adik Syaima'. Sudah berapa hari tinggal di sini?"
"Ini dia kesempatanku" kataku di dalam hati.
"Kami baru satu bulan tinggal di sini, nona siapa namanya?" tanyaku kembali.
"Oh ya...sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya Salwah, kalau kamu?"
"Saya Angga al-Fannani"
"El-Fannani?" tanyanya agak menekan aksen.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ngak...ngak apa-apa, bagus"
"Tinggal di bawah?" pancingku.
"Tinggal di sebelah sana" katanya sambil menunjuk ke arah sebelah kanan apartemenku.
"Oh...kok jarang lihat"
"Baru saja balik dari rumah, hmm...saya turun dulu ya, selamat bertemu lagi" katanya sambil langsung menelusuri jalan tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa mengangkat kedua bahu mengiyakannya.
* Siapa di luar
** Manisan yang terbuat dari tepung dicampur dengan madu, biasanya dimakan dan dibuat ketika bulan Ramdhan
Ghamaliyyah, 05 Oktober 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Friday, September 29, 2006

Kisah Di Gamalaiyyah

Sudah satu minggu ini aku menatap kearah jalan, berharap dari arah barat akan datang sesosok gadis manis berkerudung putih. Hampir setiap pagi kira-kira jam delapan aku mengintai dari balik jendela hanya sekedar untuk melihatnya. Aku ingat benar pada awal kali ketika kumelihatnya berjalan di tengah jalan dengan gemulai, pada waktu itulah awal kalinya kuinjakkan kakiku di daerah yang biasa dikenal dengan sebutan "Gamaliyah" atau kalau orang Mesir menamainya daerah "Khan El Khalily" atau ada yang menamainya daerah al-Azhar atau lagi daerah Husain, aku tidak tahu kenapa begitu banyak nama bagi tempat ini dan dari mana saja batas-batasan untuk nama-nama itu, tidak seperti di Indonesia yang setiap daerah mempunyai batasan tersendiri entah dengan menancapnya gerbang besar atau hanya sebuah patokan yang diberi nama.

Di Mesir kita tidak akan pernah menemui itu, kecuali untuk batasan kota-kota besar saja. Orang yang hidup di daerah ini biasanya mengatakan kepada orang-orang atau turis-turis yang baru datang ke tempat ini dengan berkata "selamat datang di tempat yang paling bagus di Mesir", kata-kata itu cukup sombong juga, padahal kalau dilihat dengan mata, kita tidak akan pernah menemukan suatu keindahan atau kebagusan di tempat ini. Daerah Gamaliyah berada di samping universitas al-Azhar, tepatnya sebuh daerah dengan bangunan-bangunan yang telah usang dimakan oleh waktu yang terletak di belakang masjid Husain. Masjid ini dinamakan masjid Husain, karena di dalamnya terdapat makam sayyidina Husain bin Ali cucu nabi Muhammad saw.

Tentang kebenaran dan tidaknya memang perlu diteliti lagi, tapi orang-orang Mesir yakin bahwa jasad sebuah kepala milik sayyidina Husain benar-benar dimakamkan di masjid itu. Masjid ini sering dikunjungi penjiarah, khususnya pada bulan ramadhan dan hari-hari khusus syi'ah. Di masjid inilah biasanya terjadi pertemuan-pertemuan bagi kaum syi'ah atau sekelompok golongan yang sangat mencintai dan menghormati sayyidina Ali ra. Hampir setiap hari tempat ini dikunjungi oleh turis dari berbagai negara, daerah Gamaliah sendiri adalah daerah pertama kali yang didirikan oleh kahlifah Fatimiyyin yang pernah berada di Mesir selama berabad-abad, daerah inilah yang menjadi kota sekaligus dibangun benteng yang melingkari daerah ini dari serangan dan gencatan musuh, di tengah-tengah kota Gamaliyah yang menjadi ibu kota pertama khilafah Fatimiyyin itu dibangun sebuah masjid yang pertama kali di Mesir, masjid itu tetap kokoh dan kuat walaupun umurnya sudah berabad-abad, masjid itu adalah masjid al-Azhar, masjid al-Azhar dibangun atas dasar prakarsa panglima Jauhar as-Stiqily, pada hari Sabtu bulan Jumadil 'Ula tahun 359 H dan dua tahun kemudian tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 361 H (Juni-Juli 972 M) mulai dibuat shalat berjama'ah dan selanjutnya dalam berkembangnya waktu masjid al-Azhar tidak hanya dibuat shalat saja, akan tetapi dibuat untuk mengaji dan belajar mengajar ilmu fikhi dan syari'ah, semua syaikh diambil dari luar oleh raja khilafah Fatimiyyin. Menteri Ya'qub bin Kals adalah orang pertama kali yang mempunyai pemikiran tentang masjid al-Azhar untuk dibuat sebagai tempat belajar mengajar, selanjutnya Menteri Ya'qub sendiri dengan izin kalifah Aziz Billah tahun 378 H/988 M mengambil fukaha' yang berjumlah sekitar 37 orang untuk mengajar setiap hari Jum'ah sampai Ashar pelajaran fikhi dan syari'ah, 37 ahli fikhi itu dikepalai oleh seorang syaikh yang bernama syaikh Uqbah bin Ya'qub.

Tidak lama kemudian setelah sekitar setengah jam aku menunggu dari jendela, gadis dengan memakai kerudung putih, bajuh pink keputih-putihan dan dengan celana putih juga itu keluar dari apartemen sebelahku, ia berjalan layaknya ratu. Kulihat terus hingga tubuhnya tidak terlihat lagi, tubuh indah itu hilang di sebuah gang di depan apartemenku. Dengan agak kecewa karena hanya sekilas saja aku bisa melihatnya, kududukkan kembali badanku yang sejak tadi berdiri, baru sekarang kumerasa capek karena lama berdiri. Sampai sekarang aku masih belum tahu siapa gadis itu dan bahkan namanya pun tidak kuketahui. Setelah agak lama bermalas-malasan di atas tempat tidur, kuberdiri dan mengambil handuk untuk mandi stelah itu pergi ke kampus, hari ini adalah hari pertama kegiatan belajar mengajar akan dimulai setelah sekitar tiga bulan libur musim panas. Liburan yang cukup panjang dan membosankan, karena setiap hari hanya bisa menonton film saja, mau keluar tidak punya uang, terpaksa selama tiga bulan itu aku tidak ke mana-mana, hanya berdiam diri di dalam kamar sambil bercanda dengan komputer yang tidak pernah bergerak itu. Baru sekilas inilah aku mendapatkan sebuah keindahan di Gamalayah, seorang gadis Mesir yang entah menggugah semua inspirasiku, juga membuatku bertanya-tany, karena gadis itu sangat beda dengan gadis-gadis Mesir pada umumnya.


Gamaliyyah, 28 September 2006

Baca Selanjutnya Bro..

Saturday, September 16, 2006

Gadis di Pinggir Mobil

Kupandangi lekat tubuh yang indah itu
Penuh dengan getaran sanubari yang membisu
Pandangan itu menusuk seperti sembilu
Langit tampak kelam setelah itu

Oh...gadis di pinggir mobil berwarna biru
Betapa hatiku telah luluh lantah ketika melihat dirimu
Begitu indah, sempurna garapan ilahi
Bibir bergetar sambil bertahmid memuji

Kurangkai kata-kata yang tak berarti
Untuk melukis getaran hebat di mata sang kekasih
Kucoba bersenandung seraya memuji
Kecantikan makhluk ilahi rabbi

Angin pun ikut berlomba bersama kami
Para pemuja rahasia-rahasia cinta ilahi
Bersamaan suka derita sepanjang hari

Cairo, 15 September 2006 Baca Selanjutnya Bro..

Friday, August 04, 2006

Keabsahan Sastra

Keabsahan Sastra
Pada zaman pra-Islam


Pada saat ini sastra, budaya dan seni pada zaman pra-islam telah diteliti dan menjadi sebuah penelitian yang sangat menakjubkan, karena tidak sedikit ahli bahasa yang memperkirakan ketidak adaan sastra pada zaman itu, diantaranya adalah sesuai faham-faham orang Barat yang diikuti oleh Dr. Thaha Husain sebagai pembesar ahli bahasa di abad ke-19, sebagai abad keemasan perkembangan sastra modern. Dr. Thaha Husain mengikuti teori para peneliti sastra dan bahasa Barat, seperti Deckareth, Goethe, Margelius, Newldcah dan Allord. Untuk meneliti kembali faham-faham mereka tentang sastra di masa pra-Islam, kita perlu menengok kembali sekitar 150 atau 200 tahun sebelum Islam datang, untuk mencari bukti-bukti di masa itu tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan, karena disamping begitu jauh jarak masa antara masa kita dengannya, juga karena bukti-bukti itu banyak yang sudah hilang. Diantara faham yang diikuti oleh Dr. Thaha Husain tentang kedudukan sastra di masa pra-islam adalah tentang kebenaran syair-syair pra-Islam, ia berpendapat bahwa syair-syair pra-Islam yang sekarang masih ada dan bisa kita nikmati adalah bukan karya mereka, akan tetapi karya orang-orang pada zaman Islam sendiri. Dr. Thaha Husain sendiri menyatakan dalam bukunya “Fi Adabil Jahily (Sejarah sastra pra-Islam)” dengan komentar yang membuat panas dunia keilmuan, ia berkomentar begini”Pada dasarnya, Al-Qur’an adalah sebagai cermin bagi kehidupan pada zaman pra-Islam, masalah ini sangat jarang kita dengar dan tidak menutup kemungkinan kita bisa memahaminya lebih lanjut. Kita bisa melihat banyak orang yang takjub dengannya ketika sedang membaca dan mempelajarinya, karena di dalamnya penuh dengan keindahan sastra, bahkan tak segan-segan orang-orang Arab pada saat itu berdebat dengan Nabi, hingga saat ini Al Qur’an menjadi sebuah bahan perdebatan yang sangat hangat dan dengan sengit antara orang Islam sendiri atau lintas agama. Bahkan mungkin kita akan menyakininya bahwa Al-Qur’an adalah baru, semuanya ditulis oleh orang Arab dan dibuat dengan bahasa dan dengan bentuk keindahan-keindahan sastra mereka sendiri. Di Al Qur’an juga diterangkan tentang agama-agama selain Islam yang dianggap sebagai agama yang salah, begitu juga tentang perbedaan suku dalam Arab..”. Dari konsep Dr. Thaha Husain itu kita bisa mengetahui alur pemikirannya yang berbeda dengan ulama’-ulama’ zaman dahulu, bahkan ia beranggapan Al Qur’an adalah baru, berbeda dengan anggapan-anggapan dan keyakinan-keyakinan Ahlus Salaf.

Semua ini tidaklah lain karena dilihat dari segi sastra, kita bisa berbeda pendapat dalam hal apapun, ketika kita berbeda cara memandangnya. Dari konsep itu juga kita bisa memahaminya, bahwa Dr. Thaha Husain menganggap bahwa kehidupan pada zaman pra-Islam dengan kehidupan yang digambarkan di dalam Al Qur’an tidak sama, ada beberapa titik perbedaannya. Dengan ini juga secara otomatis berbeda dengan yang digambarkan di syair-syair pada zaman pra-Islam. Dr. Thaha Husain ternyata sudah melihat pada ketiga sisi itu, dari sisi Al-Qur’an, sejarah zaman pra-Islam dan syair-syairnya, ia ingin tahu dan memang sudah tahu perbedaan masing-masing. Contoh yang nyata yang diambil Dr. Thaha Husain untuk memperkuat argumennya adalah pada masalah perbedaan suku dan bahasa di Benua Arab, kita ketahui bahwa orang Arab sendiri terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan bahasa, sekarang pertanyaanya adalah kenapa di dalam syair-syair pra-Islam kita tidak melihat perbedaan itu?, akan tetapi di Al Qur’an kita bisa melihat perbedaan itu. Mungkin pertanyaan inilah yang mempengaruhi daya berfikir Dr. Thaha Husain, dalam melihat sejarah bangsa dan sastranya. Kita bisa melihat di dalamnya terdapat berbagai suku, setiap suku mempunyai bahasa masing-masing, seperti suku Thamim dengan Mudhar, begitu juga bahasa, bahasa arab Selatan dan Utara juga berbeda, kenapa di dalam syair-syairnya kita tidak bisa menemukan perbedaan itu?. Seandainya penulis bisa bertemu Dr. Thaha Husain, mungkin akan mengajukan satu pertanyaan dasar buatnya, apakah Dr. Thaha Husain sudah melihat kebudayaan bangsa Indonesia yang bermacam-macam?. Dengan pertanyaan itu penulis yakin bisa sedikit menyelesaikan konflik yang memanjang sampai sekarang ini.

Di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan ras, sangat memungkinkan untuk bersatu, bahkan setiap suku mempunyai bahasa sendiri-sendiri, kita ambil saja bahasa Jawa dengan bahasa Minang, kedua suku itu mempunyai bahasa yang berbeda, belum suku-suku yang lainnya. Perbedaan bahasa di Indonesia bisa disatukan dengan Bahasa Persatuan Indonesia, begitu juga yang terjadi di dalam tubuh bangsa Arab sendiri, dari berbagai bahasa yang ada di Benua Arab itu, hanya satu bahasa yang diambil untuk dijadikan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Quraisy. Para ahli bahasa Arab telah menyepakati, bahwa bahasa yang digunakan untuk mempersatukan seluruh bangsa di Benua Arab adalah bahasa suku Quraisy, karena bangsa Quraisy memiliki strategi yang memungkinkan dalam hal politik, ekonomi dan kebudayaan, bangsa atau suku Quraisy dianggap sebagai suku paling mulia. Berbagai aset yang membuat mereka mulia di mata lainnya adalah karena adanya Ka’bah, pasar Ukkadz (sebagai pasar sastra pada zaman itu), jalur perdagangan yang menguntungkan dan pasar dagang yang paling banyak dkunjungi oleh luar bangsa Arab. Sehingga hampir seluruh kebutuhan hidup bisa didapatkan di daerah Quraisy. Faktor terpenting yang dapat membuat mereka lebih mulia dari lainnya adalah pasar sastra Ukkadz-nya, di sana tempat para penyair membacakan sayairnya, tempat lomba syair dan pantun, tempat musyawarah syair, dan tempat para ahli sastra meriwayatkan sastra baik sayir atau prosa secara lisan ke lisan.

Pasar 'Ukkadz telah menjadi pasar favorit di daratan Arab, sehingga para penyair dari berbagai suku bermunculan untuk membacakan syair mereka di sana, tentunya syairnya dalam bentuk bahasa yang bisa dipahami oleh sekitarnya, bahasa yang bisa dipahami, mudah dan sudah dikenal adalah bahasa Quraisy. Dari sinilah kenapa syair-syair pra-Islam hanya berbentuk satu bahasa saja, tidak mencerminkan multi-bahasa. Seperti dalam bahasa ‘Amiyah Mesir yang saat ini menjadi bahasa ‘Amiyah seluruh kawasan Arab. Ini bisa dilihat pada penyanyi-penyanyi Arab yang memakai bahasa pemersatu selain bahasa Arab Fushah, yaitu bahasa Amiyah Mesir, baik di Mesir sendiri atau di negara-negara lainnya, seperti Libanon, Libya, Tunis dan Maroco. Semua ini bisa dijadikan bahan perbandingan untuk masa lalu. Sebagian budaya Arab pra-Islam masih bisa kita temukan di zaman kita ini. Perbandingan budaya antara masa satu dengan lainya, antara budaya yang satu dengan yang lainnya sangat memungkinkan untuk mendapatkan jawaban bagi sebuah pertanyaan atau sebuak problem, karena penulis kira tidak semua kebudayaan selalu bertentangan, ada kadang-kadang yang semakin berhubungan dan mempunyai keeratan, seperti halnya kebudayaan bangsa Indonesia dengan bangsa Arab yang mempunyai suku dan bahasa yang doble, keduanya mempunyai bahasa pemersatu sendiri yang dijadikan sebagai alat pemersatu berbagai suku dan kebudayaan itu. Jadi konsep yang dikemukakan oleh Dr. Thaha Husain tentang masalah-masalah sastra masih perlu dikaji ulang, masih perlu membandingkan peradaban yang lainnya.

Setelah kita mengetahui beberapa masalah tadi, kita coba melihat sebab-sebab Dr. Thaha Husain mengikuti konsep-konsep orang Barat itu, diantaranya adalah:

1-Di dalam syair-syair pra-Islam tidak ada penjelasan tentang masalah politik, agama, ekonomi dan pemikiran bangsa Arab pra-Islam secara hakikatnya seperti yang diterangkan di dalam Al-Qur’an.
2-Di dalamnya tidak terdapat perbedaan ejaan atau bahasa.

Diantara konsep-konsep yang membuat perdebatan dikalangan ahli bahasa sendiri itu juga membawa beberapa justivikasi, justivikasi ini sesuai yang dikatakan oleh Prof. Dr. Muhammad Ahmad Al Ghamrawi:

1-Konsep-konsep yang dikeluarkan oleh ahli bahasa Barat membawa perdebatan yang bermanfaat bagi perkembangan sastra Arab sendiri.
2-Konsep Barat diambil dari Filosofis-filosofis di Eropa.

Dengan hasil penelitian yang dilakukan di Prancis hingga saat ini, sastra arab telah berkembang begitu pesat, bahkan mulai dikembangkan di negara Prancis. Bahkan perkembangan sastra arab di sana lebih pesat dari pada di Arab sendiri, ini bisa dilihat dari para ahli bahasa yang dikeluarkan dari universita-universitas di sana, alur pemikirannya lebih obyektif dari pada ahli bahasa arab yang belajar di Arab sendiri. Dr. Thaha Husain sebagai peletak pertama bagi pondasi-pondasi alur pemikiran tentang sastra arab yang sampai saat ini konsep-konsepnya dikaji berjuta-juta orang di dunia.

Cairo, 06 Juli 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Monday, July 24, 2006

Gara-gara Jerawat

Dari hari kehari diriku semakin kalah dengan waktu, sudah berapa waktu yang telah aku buang dengan sia-sia, kali ini aku ingin sekali bercerita tentang keadaanku baru-baru ini. Selama ini aku tidak berani menatap muka harimau, tidak punya keinginan yang terlalu tinggi. Sebulan yang lalu aku diberi amanat oleh SENAT MAHASISWA FAKULTAS BAHASA ARAB (SEMA-FBA) Kairo Mesir dan DPP-PERSATUAN PELAJAR dan MAHASISWA INDONESIA (PPMI) cabang MESIR untuk menunaikan sebuah acara yang diberi nama “PELATIHAN BAHASA ARAB”, aku ditunjuk oleh Ketua Senat sebagai ketua acara itu, acara ini bias dibilang yang pertama di lingkungan mahasiswa Indonesia di Mesir, karena acara yang dilaksanakan dua hari pada tanggal 11-12 Juli 2006 ini semuanya memakai bahasa Arab, dari awal tentative acara sampai akhir acara, tentu sangat berbeda dengan acara-acara yang diadakan di Mesir oleh mahasiswa Indonesia pada umumnya. Dua hari itu sangat enjoy, karena acara cukup berjalan lancer, hanya ada beberapa hambatan saja, kita sebagai panitia tidak punya acuan acara pada sebelumnya.

Yang seru adalah tentang diriku sendiri, selama ini aku banyak diam di rumah sangat jarang keluar, paling-paling kalau sedang keluar larinya ke GAMAJATIM (Keluarga Masyarakat Jawa Timur) saja, kalau bercerita tentang pengalaman organisasiku, aku bisa katakan tidak pernah berkiprah dalam struktur organisasi baik di Indonesia ataupun di Mesir, tapi untuk satu tahun ini aku sudah banyak aktif di berbagai ORMAS di Mesir. Yang membuatku ingin tertawa adalah aku di pilih menjadi ketua acara ini, padahal menjadi ketua dalam organisasi belum pernah aku sandang, jadi pengalaman menjadi ketua belum pernah aku dapatkan, sehingga dalam bekerja aku tidak bisa bekerja dengan maksimal, bisa dibayangkan acaranya tidak cukup baik juga. Tapi aku sangat bersyukur, karena teman-teman yang lebih berpengalaman mau membantu dengan ikhlas, jadi acara lumayan asyik dan lancar. Setelah acara selesai dan kami rapat terakhir, akhirnya menyatakan bahwa LPJ diadakan pada tanggal 22 Juli 2006 di Hadiqatul Atfal (Taman bermain untuk anak-anak). Pada tanggal itu aku datang dengan muka bahagia dan ceria, karena semua urusan hampir selesai dan tanggung jawabku semakin ringan saja, sore itu semua panitia berkumpul di sebuah taman yang lumayan asri dan enak, tentunya panitianya tidak hanya laki-laki saja kan, ada ceweknya juga, Cuma sampai sekarang aku masih phobia dengan makhluk yang bernama “cewek”, entah kenapa aku begitu takut jika berhadapan dengan mereka, tidak hanya di Mesir ini, tapi penyakitku ini sejak berada di Indonesia dan sampai sekarang tidak pernah hilang.

Di bawah langit yang cerah, angin cukup sejuk walaupun kadang-kadang masih mengeluarkan hawa panasnya, ditambah alas rerumputan yang menghijau aku duduk bersila, semuanya duduk melingkar dengan manis. Sebelum acara dimulai, karena masih menunggu kedatangan ketua Senat dan Bapak Presiden PPMI, maka waktu itu digunakan untuk perkenalan antar satu dengan yang lainnya, disela-sela perkenalan itu ada temanku yang berbicara tanpa mera berdosa kepadaku dengan agak lirah “Wah Pak Ketua punya jerawat besar tuh!!!, kira-kira lagi mikirin siapa ya????”, mendengar pertanyaan itu mukaku jadi merah padam karena malu, pada dasarnya pertanyaan itu juga sudah pernah dilontarkan kepadaku oleh teman yang lainnya sebelum acara LPJ ini, tapi tidak pernah aku merasakan malu seperti ini, karena pada waktu itu aku tidak berada diantara cewek-cewek. Kontan beberapa teman yang mendengar itu menyambung dengan perkataan yang membuiatku tak mampu mengangkat kepala lagi “Jangan-jangan lagi jatuh cinta nih? Sama siapa sih?”, mati deh gue............ Pertanyaan itu hanya aku jawab dengan cengar-cengir ingin tak menanggapinya, lama kelamaan semuanya diam tak berbicara lagi, tal lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu datang dan kita lanjutkan acara LPJ-nya sampai Maghrib baru selesai. Masih dalam perjalanan pulang bersama Pak Presiden dan teman-teman jahil itu, di dalam Taksi ia masih menggodaku dengan pertanyaan itu lagi, wah karuan aja aku semakin tambah sewot, apalagi tidak ada ceweknya lagi. Tapi belum menjawab Pak Presiden ngangkat suara juga, ia ngomong begini “Wah....kalau begitu tahun depan kita pisah saja acaranya ya...” aku tak tahan lagi akhirnya angkat bicara juga “Itu bagus, biar saya semakin enjoy...” mendengar jawabanku semuanya tertawa terbahak-bahak sambil mendengarkan Pak Sopir yang lagi berpidato katanya bensin di Mesir mahal. Dalam perjalanan pulang itu aku sempat berfikir juga, apa sih hubungan jerawat dengan pacaran atau cinta?, aku kira itu tidak masuk akal gitu atau dalam bahasa Mesirnya Musy Maul. Aku terus berfikir, apalagi jerawatku tambah beranak satu terus tambah besar, gimana menghilangkannya ya....????atau aku harus menghilangkan rasa cinta ini, memang sekarang lagi mikirin si dia sih....(siapa ya...???).

Cairo, 24 Juli 2006


Baca Selanjutnya Bro..

Wednesday, July 19, 2006

SEJARAH SASTRA PRA-ISLAM

SEJARAH SASTRA PRA-ISLAM

Bangsa Arab berada pada ujung selatan benua Asia, atau yang sekarang dikenal dengan benua arab, karena air mengalir dari tiga arah, yaitu arah timur dari sungai furath dan sebagian dari samudra India. Begitu juga dari arah selatan mengalir dari samudra India langsung, adapun dari barat mengalir air dari laut merah. Sedangkan dari arah utara dibatasi oleh Surya. Orang-orang arab pada zaman dahulu membagi negerinya menjadi lima bagian besar atau lima distrik, yaitu :Tahamah, Hijaz, Najd, ‘Arudh, dan Yaman. Pembagian lima daerah ini berdasarkan pada tata letak gunung Sarrah. Sejak zaman dahulu daerah arab terkenal dengan daerahnya yang tidak bersahabat, kondisi geografisnya penuh dengan padang pasir sahara. Tapi diantara sekian daerah itu ada satu daerah yang paling subur yaitu di daerah Yaman, bahkan orang-orang arab pada zaman dulu menyebut daerah ini sebagai ¬Yaman Al Khadra’ atau Yaman yang hijau, ini semua karena berbagai tumbuhan yang mestinya tidak bisa tumbuh di daerah arab lainya bisa tumbuh di daerah Yaman. Daerahnya penuh dengan tumbuhan dan rerumputan yang dapat menggemukkan ternak mereka.

Sebagian peneliti membagi orang arab menjadi dua bagian, yaitu orang Arab asli dan selain orang indo-arab yang menetap di daerah arab. Akan tetapi yang paling terkenal adalah orang arab dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
- Orang arab yang telah musnah, hanya bekasnya saja yang bisa kita temukan. Seperti suku Thasm, Jadis, ‘Adh, Stamud, ‘Amliq, dan ‘Abdu Dhakm. Bekas-bekasnya masih ada sampai sekarang seperti bangunan-bangunannya atau hanya namanya saja yang bisa kita dengarkan.
- Orang arab asli (‘Aribah). Mereka adalah keturunan Yu’rab bin Qihthan Abul Arab Al Aribah dan bapak dari orang-orang Yaman. Mereka masih hidup sampai sekarang di negeri Yaman, adapaun suku yang terkenal adlah suku Kahlan dan Hamir.
- Orang indo-arab (Al Musta’ribah) yang masih menetap di daerah arab padang pasir. Mereka adalah keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim Alaihis Salam. Disebut dengan Ismailliyyin atau Adnaniyyin, diantara suku mereka yang terkenal adalah suku Rabi’ah, Mudhar, Iyyad, dan Anmar.

Selain pembagian diatas, masih terdapat lagi pembagian berdasarkan kebudayaa. Sudah sejak dahulu orang-orang arab membaginya menjadi dua bagian yaitu; bangsa arab yang sudah mempunyai kebudayaan yang modern, mereka sudah mampu membuat rumah paten dan hidup menetap di suatu tempat yang telah mereka sepakati bersama. Mereka sudah mempunyai kebudayaan dan adat istiadat sendiri. Sedangkan pembagian yang kedua adalah orang-orang arab baduwy yang hidupnya selalu berpindah-pindah (nomeden). Mereka berpindah dari tempat satu ke tempat yang lainnya untuk mencari rerumputan dan minuman untuk ternak mereka, mereka tidak bisa menetap pada suatu temapat, alam yang gersang dan hewan yang ganas telah menjadi teman mereka. Bahkan hidup mereka semakin antic dengan persahabatannya dengan alam yang ganas. Orang-orang baduwi terkenal dengan kefasihannya, dari mulut mereka keluar berlian-berlian keindahan kata-kata yang sagat menarik. Hingga saat ini bahasa-bahasa mereka yang menarik telah dijadikan dalam bentuk syair-syair dan lainnya.

Bahasa Fushah Menjadi Bahasa Pemersatu Di Dataran Arab

Sejak dulu bahasa menjadi masalah pokok dalam kehidupan manusia, dengan bahasa manusia akan mampu berinteraksi dan berhubungan dengan lainnya. Bahasa arab adalah salah satu dari bahasa Semith yang masih ada sampai sekarang, yang dimaksud dengan bahasa Semith adalah bahasa yang digunakan oleh semua keturunan Nabi Syam bin Nuh alaaihis salam. Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam menentukan siapa dan bahasa mana yang fushah diantara bahasa arab yang begitu banyak itu. Mereka berpendapat bahwa orang yang pertama kali melafadzkan bahasa arab adalah Nabi Adam Alaihis salam, akan tetapi pendapat ini ditentang oleh Ibn Salam. Ia berpendapat orang pertama kali yang berbicara dengan menggunakan bahasa arab adalah Yu’rab bin Qihthan. Yunus An Nahwi berpendapat bahwa orang yang pertama kali berbicara dengan bahasa arab adalah Nabi Ismail bin Ibrahim Alaihimas salam. Diantara ketiga pendapat ini hanya dua pendapat yang kuat, yaitu pendapat kedua dan ketiga, akan tetapi pendapat ketiga mempunyai kelemahan yang mendasar, mana mungkin orang yang baru masuk ke suatu daerah menjadi seorang yang pertama kali berbicara menggunakan bahasa orang yang sudah menetap lama di tempat itu. Akhirnya ahli bahasa menyepakati pendapat yang kedua yaitu pertama kali yang menggunakan bahasa arab adalah Yu’rab Bin Qihthan Abul Arab. Diantara dua bahasa arab yang digunakan oleh keturunan Yu’rab bin Qihthan dan Nabi Ismail bin Ibrahim itu para ahli bahasa meneliti perbedaan antara bahasa yang digunakan dibelahan selatan dan utara. Terdapat perbedaan yang mendasar diantara keduanya, titik mendasar itu dapat dilihat dari perbedaan ejaan (spelling), nahwu, dan perbedaan bahasa.

- Perbedaan ejaan (Spelling) : seperti kalimat (كلبة) diucapkan di Yaman dengan menggunakan Ta’ Marbutho, sedangkan di Hijaz (selatan) dengan Ta’ Maftihah (كلبت).
- Perbedaan Nahwu (Gramadial) : pergantian Nun Tanwin dengan Mim, seperti kalimat (نعمة) diucapkan di Yaman dengan menggunakan Nun Tanwin, adapun di Arab selatan (Hamiriyyah) diucapkan dengan menambah Mim (نعمتم).
- Perbedaan Lughawiyyah : Seperti mengucapkan Alif (افعل ) diucapkan di Arab selatan (hamiriyyah) dengan mengganti huruf Alif dengan Ha’ (هفعل). Sedangkan di Yaman masih tetap terucap dengan menggunakan Alif.
Cairo, 20 Juli 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Sunday, July 16, 2006

Wanita......!!!

wanita.......!!!
Berapa kali aku harus menyakinkanmu
Sekali itu engkau tidak mempercayaiku
Engkau telah menyakiti hatiku
Walau aku tahu....!!!
Hukum agama melarangku
Walau aku harus menerjang tembok besi aturan-Nya
Walau aku tahu aku telah mendustai guruku
Kamu tahu untuk apa semua itu?
Kamu harus tahu!!!
Dosa kita sudah begitu banyak
Kesalaham kita sudah melampaui batas
Tapi,......
Engkau masih bisa tersenyum
Engkau tidak faham dengan ajakan baikku
Engkau malah mencibir diriku
Wanita....!!!
Engkau anggap diriku sampah belaka
Engkau anggap ucapanku hanya angin
Engkau tidak menyukai karena-Nya
Wanita....!!!
Seandainya engkau memahamiku
Insyaallah hidup akan lebih indah
Tapi,.....
Kenyataannya engkau hanya sebuah api saja
Telah membakar semua isi dunia
Menghalalkan semua cara
Bahkan agama tak lagi engkau jamah
Cairo, 15 Juli 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Monday, July 03, 2006

Jalan-jalan ke Syubra El Kheima

Selama hampir satu bulan aku digodog dengan ujian yang menjemuhkan, saat-saat yang kutunggu-tunggu telah datang, sebuah liburan panjang yang mengasyikkan. Liburan panas selama kurang lebih tiga bulan lamanya akan aku isi dengan tour atau kegiatan-kegiatan yang lainnya, saat ini aku sedang sibuk menyelesaikan semua tulisanku yang sudah lama terbengkalai oleh waktu belajar, baru kali ini aku merasakan diriku flay terbebas dari segalanya, saat ini aku baru menyelesaikan seratus halaman, kira-kira perlu seratus halaman lagi untuk menyelesaikan semua tulisanku itu. Saat ini aku masih mencari tema dan ide, memang jemuh kalau kita hanya bisa diam di rumah sambil menatap komputer yang tak bergerak itu, kita perlu sedikit jalan-jalan untuk mendapatkan ide yang lebih baik. Dua minggu yang lalu aku pergi ke Syubra El Kheima untuk mengantarkan temanku beli kristal di Asfour sebuah salah satu toko plus pabrik kristal terbesar kedua di dunia yang berada di Syubra setelah pabrik kristal di Italy. Ketika aku bersama teman-teman di sana, aku ingat salah satu novelnya Mas Habiburrahman "Ayat-Ayat Cinta", setting yang digarap di novel itu berada di Syubra juga, memang sih hampir sama dengan yang digambarkan di novel itu. Keadaan penduduk dan tentang Al Qur'annya yang bisa dibilang nomor satu di Mesir, kita akan bisa mendengarkan di masjid-masjid bacaan Qira;ah Sab'ah di sana, tidak di tempat lain seperi di kota Cairo atau lainnya yang hanya menggunakan satu bacaan saja. Seperti yang kurasakan seperti kemarin itu, aku shalat jama'ah Maghrib di sebuah masjid dekat dengan Asfour dan mendengarkan lantunan bacaan Al Qur'an dalam bentuk delapan madzab, keren sekali, aku coba tanya juga tentang sekolah Al Qur'an di sana, katanya sih sekarang harus membayar untuk sekolah di pondok Al qur'annya. Tapi banyak juga anak Indonesia saat ini yang lagi ngafalkan Al Qur'an di Syubara, mungkin karena dapat sugesti dari ayat-ayat cinta kali.
Ngomong-ngomong tentang hafalan Al-Qur'an aku jadi ingat salah satu syaikhku yang termasuk guru Syubra juga, aku ingat beberapa bulan lalu aku tidak ikut ujian hafalan Al Qur'an terakhir, sekarang sudah mulai menghafalkan Al Qur'an kembali setelah sekitar sebulan setengah diberhentikan karena ujian, aku malu pada beliau, belum tahu nanti kalau aku ketemu sama beliau, pasti aku kena marah dech!!!. Diantara para muridnya itu akulah yang paling bandel, sudah hafalanya paling dikit, juga ngak kuat lagi. Tapi ada manfaatnya juga lho...aku jadi disayang ama beliau he...he...he... Kalau hafalan Al Qur'an ama beliau aku selalu di suruh mengulang dua kali, kenapa? karena banyak yang salah.....hingga aku pernah didekapnya sampai aku tidak bisa bernafas, kenapa? karena lagi-lagi aku tak mampu mengingat hafalanku. Jadi beliau mencontohkan gaya Malaikat Jibril mendekap Nabi Muhammad, wah....enak juga hafalan ama beliau tuh...akhirnya beliau selalu mengakhirkanku ketika banyak teman yang ngantri hafalan ke beliau.....ya semoga aku bisa jodoh sama beliau ya...dalam artian aku bisa terus menghafalkan Al Qur'an sama beliau, ngafalakan sampai tuntaas...amin.....yarabbal alamin....
Cairo, 3 Juli 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Sunday, June 25, 2006

Mendung Pun Bersedih

Mendung Pun Bersedih

Siang itu jalan begitu sepi
Tak kulihat lagi anak bermain, berlari
Bahkan burung pun tak lagi bernyanyi
Ketika keranda nan wangi dijunjung beramai

Ribuan atau bahkan jutaan orang di bumi
Melambaikan tangan sebagai akhir perpisahan kepadamu
Menagis meneteskan air mata untukmu
Tak pelak hati teriris tak terobati

Mendung menatap haru
Meneteskan rintik-rintik berderu
Diantara kenangan manis bersamamu

Gerombolan mendung silih berganti berdatangan
Bah malaikat yang memintakan ampunan
Hati semakin sempit, sakit ketika kumelihatmu
Walaupun engkau masih terlihat tersenyum kepadaku


Kairo, 30 Mei 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Ini Ujian Atau Adzab?

Aku coba berjalan tenang setenang air
Aku coba berkata selembut hembusan angin
Tapi tetap saja aku kalah
Tetap saja anganku yang menang
Tentu saja aku tidak puas Tuhan!!!
Dengan kemenangannya...
Aku coba terus menggapai kebahagiaan di depan
Tapi tetap aku terlempar kebelakang
Hari-hariku menyakitkan bersamamu
Malamku tak lagi bisa menyeyakkan
Siangku tak lagi giat, sergap dan rajin
Setiap detik ia menghantuiku
Sekali kumencoba menampar, menerjang, dan menendang
Sekali itu aku terlempar, terjungkan, dan terjatuh kedasar jurang
Dunia tak lagi seindah surga
Bau harum tak lagi kurasakan
Angin yang semilir tak lagi bisa kunikmati
Rumahku surgaku telah menjadi sempit
Sesempit hatiku saat ini
Oh...tuhan!!!
Siapakah kan menolongku?
Siapakah yang mampu mengobati sakitku?
Siapakah yang mamapu mengusir musuhku?
Musuh yang paling kejam
Aku terhinakan olehnya
Aku menjadi sakit karenanya
Semakin lirih teriakanku dibuatnya
Semakin pendek langkahku lari darinya
Ku tak mampu lagi Tuhan!!!
Benarkah ini ujian buatku?
Atau sebuah adzab dari-Mu?
Aku terhimpit saat ini
Tak ada yang mampu lagi
Kecuali engkau Tuhan!!!
Tolonglah hamba-Mu yang hina ini....
Cairo, 25 Juni 2006
Baca Selanjutnya Bro..

Saturday, June 10, 2006

Kami Tak Butuh Engkau Lagi

Jalan......
Jalan masih begitu panjang
Kenapa engkau masih menerjang
Pagar merah mutih yang terpajang

Jalan....
Jalan masih lebar
Kenapa engkau harus melalui belakang
Bukannya depan masih ada?

Manusia......
Kenapa hidupmu penuh nista
Kenapa di dalam dirimu harus ada duri
Antara sesama teman di muka bumi

Bukan manusia selalu meludah
Bukan Manusia kalau anda tertawa
Saat orang-orang memerah derita
Saat bangsa penuh siksa

Engkau bukan manusia merah putih itu
Yang selalu berkibar dalam hati
Jika dalam hatimu masih ada dusta
Jika dalam hatimu masih ada benci sesama
Jika dalam hatimu ada keegoisan
jika dalam hatimu masih ada kursi

Engkau tetap bukan merah putih itu
Saat ini dan nanti
Selama engkau selalu menebar kesakitan, kemaksiatan, kedengkian dan dendam

Tak akan pernah
Dan tak akan pernah

Pergi...!!!!
Dari negeriku merah putih
Kami tak perlu para pembangkang
Kami tak perlu orang rakus
Kami tak butuh caci makimu

Kami butuh orang yang mau merajut Indonesia baru
indonesia yang makmur
indonesia yang rukun
Indonesia yang tentram sesamanya
Yang selalu sayang kepada yang lainnya

Pergi!!!!
Pergi kau dari dunia ini!!!
Dari negeri ini!!!!

By
Elfenan Baca Selanjutnya Bro..

Friday, June 09, 2006

Cinta, binatang Apaan tuh?

Cinta, binatang apa tuh?, yang jelas ia bukan tipe binatang mempunyai kaki, dua, tiga, atau empat sekalian. Ia tak bersayap seperti burung-burung pada umumnya, ia bukan binatang atau apa. Ia suatu makhluk yang diciptakan untuk mewujudkan kedamaian di dalam hati siapa saja, ia bisa terbang tanpa sayap, ia bisa menyelam ke dasar lautan, bahkan ia mampu menyelam ke dalam hati seseorang dan menularkan semacam virus kasih sayang, musuhnya adalah benci dan dendam. Setiap manusia pasti mempunyai rasa cinta, entah cintanya kepada orang tuanya, atau kepada makhluk yang lainnya, yang pasti setiap insan telah mempunyainya. Manusia dengan rasa cinta yang sedikit sangat berbahaya, apalagi rasa cinta kepada makhluk sekitarnya, ia akan menghancurkan dan meluluh-lantakan pondasi-pondasi sekitarnya yang telah lama dibangunnya. Cinta sebagai wujud kasih sayang Tuhan kepada mkhluknya, orang kalau sudah terkena cinta apapun akan ia lakukan, bahkan ia disuruh minum racun pun akan terasa madu, kematian dan hidup yang berharga tidak berarti apa-apa. Itulah cinta, begitu dahsyat pengarunya bagi manusia, kadang-kadang seorang yang lemah mampu menjadi pahlawan yang kuat dan bengis karena cinta, aku bilang cinta bisa membuat orang mendapatkan madu dari yang pencipta, bisa juga akan mendapatkan racun dar-Nya. Tinggal cara yang dilakukan oleh manusia untuk mewujudkan rasa cinta itu, sekarang ada sebuah pertanyaan apakah sama antara rasa cinta dua insan dengan cinta seorang anak kepada kedua orang tuanya, tentu tidak. Kenapa karena cinta kepada orang tua muncul dan ada sejak anak itu berada di kandung ibunya, ia mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hatinya. Cinta itupun datang karena rasa hormat kepada orang tuanya, coba lihat seorang anak yang sudah tudak menghormati kedua orang tuanya, ia akan mampu berbuat apapun kepada keduanya, karena di dalam dirinya tidak ada rasa cinta kepada keduanya.
Cinta dua insan adalah sebagian dari fitrah manusia, karena pada dasarnya manusia diciptakan selalu berpasang-pasangan, Nabi Adam muncul cinta kepada yang Namanya Hawa, padahal ia belum pernah tahu dan bertemu, Adam sangat menharapkan kehadiran Hawa, ia selalu duduk termenung berharap mempunyai teman sejati yang di cintai dan di sayanginya. Rasa ini ada sejak dini juga, akan tetapi beda dengan cinta kepada kedua orang tua kita, cinta ini muncul karena tahjub, keinginan untuk selalu bersama, dan mempunyai teman hidup. Cinta kepada lain jenis adalah cinta secara biologis, dalam artian secara naluri manusia ia hadir begitu saja, tanpa dipikirkan dan direnungi. Cinta ini muncul juga karena kita merasakan ada yang kurang didalam diri kita, untuk melengkapi itu kita memerlukan jenis yang lain yang bernama perempuan. Jadi kita bisa membedakan jenis cinta antara cinta kepada Tuha, kedua orang tua, sesama manusia, lain jenis dan makhluk yang lainnya. cinta itu muncul dari aspek yang berbeda-beda dan yang paling antik adalah cinta seorang laki-laki kepada perempuan, karena cinta inilah yang paling dalam. Para penyair mengatakan "Manusia tanpa cinta laksana malam tak berbintang, cinta tanpa ikatan (pernikahan) laksana kopi tak bergula". iya gak sih? yang jelas memang yang digambarkannya sangat gelobal sekali, kita mesti banyak menafsirinya, kadang-kadang kalau kita mau menengok kesekitar kita, ada yang sangat enjoy dengan permainan cintanya, tapi keduanya tidak menikah-menikah, wah...itu dah diluar jalur dari syair di atas donk. Cinta yang seperti inilah yang sekarang banyak terjadi di zaman kita, cinta yang hanya mengedepankan hawa nafsu saja, bukan karena cinta secara tulus, jika memang cinta itu tulus dan murn, sudah barang tentu akan menggiring sang pecinta untuk selalu berada di jalan-Nya. Ok! aku tahu apa yang ada di benak kalian, mungkin di dalam hati kalian menggerutu, memaki dan memarahi. Tapi yang jelas aku hanya ingin tahu sedalam apa rasa cinta kalian sesama manusia.
Baca Selanjutnya Bro..

Tuesday, June 06, 2006

Maunya Apa Sih Kamu

Hari ini ada godaan baru buatku, setelah blog-blog-an yang membuatku tergoda, kali ini ada situs hosting gratis yang membuatku tergiur, rumah baruku ini semakin luas dan enak, walaupun sampai sekarang aku belum mampu meg-edite-nya, paling tidak itu sebagai langkah sedikit maju buatku. Disela-sela belajar dan ujian, aku masih sering menengok semua karyaku, aku ngak tahu akan jadi apa duniaku nanti. Ngomong-ngomong mengenai rumah baruku ini lumayan asyik juga, karena pengunjung bisa mendownload lagu yang kusajikan, sampai saat ini aku baru berhasil meng-upload lagu-lagu arab dan Ungu, di sana aku bisa mengakses blogspotku, aku bisa memasukkannya ke dalam rumah baruku itu, indah bukan. Mungkin menurut kalian aku orang yang gila, karena dalam keadaan genting ditengah-tengah ujian seperti ini aku masih suka jahil, he..he... dalam artian masih berani ke warnet untuk mengedit blogku. Kata teman-teman yang tidak sefaham denganku, "kamu bakal menangis Nga!!!", aku hanya bisa bilang kenapa harus menagis sesuatu yang sudah kita ketahui positif dan negatifnya, setiap orang mempunyai pandangan dan tujuan masing-masing, begitu juga diriku, ada tujuan di balik itu semuanya, yang tentunya hanya aku dan penciptaku yang tahu. Aku hanya berharap semua tujuanku itu dikabulkan-Nya dan baik untukku dan untuk semua orang. Ada kalanya kita sudah tahu medan yang akan kita tempuh, untuk ini kita harus siap mendapat positif dan negatifnya, dan ada yang tidak pernah kita ketahui tujuan kita, yang ini baru orang goblog, karena ia berbuat tapi tidak tahu apa yang akan ia dapat, mungkin bagi orang yang seperti ini akan sangat menyesal ketika ia mendapatkan sesuatu yang ngak enak. Di dunia ini juga ada lho..orang yang hanya memikirkan dan membayangkan keenaan aja, ia tidak pernah berfikir bahwa di dunia itu selalu diciptakan berpasang-pasangan, ada perempuan dan laki-laki, ada bulan dan matahari, ada bumi dan langit, ada terik dan hujan, begitu juga ada susah dan derita, ada sengsar dan kebahgiaan, itu wajar, kalau kita tidak mendapatkan kebaikan, pasti mendapatkan ekjelekan, terus mau apa lagi, mau nangis...atau mau nyesal, itu terserah pribadi masing-masing. Kalau aku akan coba berfikir yang ngak enak dulu, dari yang paling pahit dulu, ketika kita sedang berbuat, dengan begitu kita tahu apa yang kita lakukan. Wah...ceramahnya jadi panjang deh, lagian kenapa sih orang harus protes melulu, aku sangat tahu kalau teman-teman ingin mengingatkanku, tapi aku orangnya lebih suka mencari peringatan sendiri, bukan dikasih peringatan, memang aku orangnya keras kepala, ngak sembarang orang bisa menasehatiku, bahkan pak Presiden pun ngak akan bisa menasehatiku, hanya orang-orang tertentu yang dapat menasehati dan membuatku berubah atau menurut, so...jangan sok menasehatiku dech...!!!. Aku ngak bakalan mau nerima begitu saja, aku sekarang bikan pribadi yang dulu, yang dianggap polos dan cupu bagi teman-teman atau orang-orang sekampung, aku yang sekarang lebih agresif dan kemauannya banyak, tidak seperti dulu yang hanya nerima saja, walaupun aku dipukulin sampek babak belur. Sekarang jangan macam-macam denganku yang sekarang....ngak tahu tuch entar jadi apa diriku ini, apa dari dadar goreng atau rebus kali...udach ya..!!! sampe di sini aja, entar kalau mau ngebuka rumah baruku bisa nge-Klik di sini
Baca Selanjutnya Bro..