HOMEPAGE

Showing posts with label Catatan Kornish Nil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kornish Nil. Show all posts

Friday, February 27, 2009

Hatshepsut; Perempuan Fir'aun Terhebat Sepanjang Zaman



Hatshepsut (kadang-kadang dieja Hatchepsut yang berarti Perempuan Bangsawan Paling Terkemuka)[3] adalah firaun kelima dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno. Para Egiptologiwan umumnya menganggapnya sebagai salah seorang firaun perempuan yang paling berhasil di Mesir, yang memerintah lebih lama daripada perempuan penguasa manapun dalam sebuah dinasti bumiputra.

Hatshepsut dipercayai pernah memerintah sebagai salah seorang penguasa dari sekitar 1479 hingga 1458 SM (Tahun 7 hingga 21 dari Thutmose III).[4] Ia dianggap sebagai ratu penguasa yang paling awal dikenal dalam sejarah dan perempuan kedua yang diketahui naik takhta sebagai "Raja Mesir Hulu dan Hilir" setelah Ratu Sobekneferu dari Dinasti ke-12.

Pada 27 Juni 2007, sebuah mumi dalam makam KV60 di Lembah Para Raja diidentifikasikan sebagai Hatshepsut.[2]






Dalam budaya populer

Ketika gerakan feminis menjadi matang, tokoh-tokoh penting perempuan dari zaman dahulu dicari dan keberhasilan mereka semakin dipublikasikan. Hatshepsut berubah dari pemimpin Mesir yang paling tak dikenal pada awal abad ke-20 menjadi tokoh paling terkenal dari negara itu pada akhir abad tersebut. Berbagai biografi seperti misalnya Hatshepsut oleh Evelyn Wells meromantisasikannya sebagai perempuan yang cantik dan pasifis — "perempuan besar pertama dalam Sejarah". Hal ini cukup berlawanan dengan pandangan abad ke-19 tentang Hatshepsut yang melukiskannya sebagai ibu tiri yang kejam, yang merebut takhta dari Thutmose III.

Novel Mara, Daughter of the Nile oleh Eloise Jarvis McGraw, mempertahankan pandangan tentang ibu tiri yang kejam dengan menempatkan Hatshepsut sebagai tokoh utama cerita itu. Plotnya berkembang sekitar upaya-upaya Mara, seorang budak perempuan, dan sejumlah bangsawan untuk menggulingkan Hatshepsut dan mengangkat pewaris yang "sah", Thutmose III, sebagai Firaun. Mereka mempersalahkan berbagai proyek pembangunan Hatshepsut sebagai penyebab kebangkrutan negara Mesir. Ia juga digambarkan telah menahan Thutmose III sebagai tawanan di lingkungan tembok istana.

Pada 1960 sebuah lingkaran utama asteroid yang ditemukan oleh Cornelis Johannes van Houten, Ingrid van Houten-Groeneveld dan Tom Gehrels dinamai 2436 Hatshepsut untuk menghormatinya. Ada teori popular yang menyatakan bahwa Hatshepsut adalah putrid yang menemukan Musa saat terapung-apung di sungai Nil, namun teori ini umumnya dibantah oleh para Egiptologiwan dan pakar Alkitab.[5]

Sekurang-kurangnya ada tiga pengarang yang telah menulis novel fiksi sejarah yang menggambarkan Hatshepsut sebagai pahlawannya: Hatshepsut: Daughter of Amun oleh Moyra Caldecott, Child of the Morning oleh Pauline Gedge dan Pharaoh oleh Eloise Jarvis McGraw, dan seri novel misteri Lieutenant Bak yang mengambil tempat pada masa pemerintahannya.

Hatshepsut juga muncul dalam plot Illinois Jane and the Pyramid of Peril, sebuah sandiwara lucu oleh T. James Belich (Colorado Tolston). Di sini dilukiskan Hatshepsut menemukan ramuan panjang umur. Dalam cerita ini, hilangnya Hatshepsut digambarkan telah menyebabkan ia abadi, meskipun ia tak pernah secara langsung tampil dalam sandiwara ini.

Humoris Amerika, Will Cuppy, menulis sebuah esai tentang Hatshepsut yang diterbitkan setelah kematiannya dalam buku The Decline and Fall of Practically Everybody. Tentang salah satu tulisannya di dinding, ia menulis,

Tentang penampilan Hatshepsut pada suatu tahap kariernya, kita berutang kepada salah satu tulisan di dinding. Di situ dikatakan bahwa "memandang dia jauh lebih cantik dari apapun juga, kemolekannya dan bentuk tubuhnya sungguh bagaikan seorang dewi." Sebagian menganggap aneh bahwa seorang Firaun perempuan ternyata begitu berani, dalam usia 50-an seperti Hatshepsut. Sama sekali tidak. Ia Cuma mengatakan bagaimana keadaannya sekitar 35 tahun sebelumnya, sebelum ia menikahi Thutmose II dan kemudian menghantam Thutmose III. "Ia adalah seorang putri, cantik dan memekar," demikian dikatakan dalam hieroglif, dan kita tidak mempunyai alasan untuk meragukannya. Memang, tak ada salahnya menceritakan kepada dunia bagaimana rupa seseorang pada 1514 SM.[6]

Dalam pertunjukan laga hidup untuk anak-anak, The Secret of Isis (1975), tokoh utamanya, Andrea Thomas, menemukan sebuah jimat Mesir kuno dan kemudian menyadari bahwa ia adalah seorang keturunan Hatshepsut dan pewaris daya kekuatan Isis. Hatshepsut dirujuk dalam narasi pembukaan.

Dalam Civilization IV ia digambarkan sebagai pemimpin Mesir yang menggantikan Cleopatra VII dari Civilization III.

Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hatshepsut



Baca Selanjutnya Bro..

Ratu Cleopatra VII Philopator


Cleopatra VII Philopator (Yunani: Κλεοπάτρα Φιλοπάτωρ; Januari 69 SM – 12 Agustus 30 SM) adalah ratu Mesir kuno, anggota terakhir dinasti Ptolemeus. Walaupun banyak ratu Mesir lain yang menggunakan namanya, dialah yang dikenal dengan nama Cleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Ia adalah penguasa Mesir bersama ayahnya Ptolemeus XII, saudara laki-laki sekaligus suaminya: Ptolemeus XIII dan Ptolemeus XIV, dan akhirnya anaknya Caesarion. Cleopatra berhasil mengatasi kudeta yang dirancang oleh pendukung saudara laki-lakinya dengan bersekutu dengan Julius Caesar dan dilanjutkan Mark Antony. Cleopatra memiliki 1 anak dari Julius Caesar dan 3 anak dari Mark Antony (dua diantaranya adalah kembar).

Cleopatra bunuh diri sewaktu Augustus (Octavianus) naik tahta dan menyerang Mesir, dengan cara memasukkan tangannya sendiri kedalam keranjang penuh ular berbisa ( Asp / sejenis Cobra asal Afrika Utara). Kisah hidupnya sering didramatisasikan dalam berbagai bentuk karya, termasuk "Antony and Cleopatra" dari William Shakespeare dan beberapa film modern.






Masa kecil

Sedikit yang diketahui tentang masa kecil Cleopatra, tetapi Cleopatra berdarah Yunani, bukan keturunan Mesir. Ia dilahirkan pada awal tahun 69 SM, anak ke-3 dari 6 orang dan lahir di kalangan Dinasti Ptolemaik Yunani. Ia mempunyai 2 orang kakak dan seorang adik perempuan serta dua adik laki-laki. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Alexandria yang merupakan kota terbesar dan termewah saat itu.

Kerajaan dari ayah Cleopatra tidak aman akibat tekanan dan konflik dari luar dan dalam perebutan kekuasaan, serta konflik dalam seperti pemerintahan sentralisasi dan korupsi politik. Hal ini memimpin pemberontakan dan hilangnya Siprus dan Cyrenaica yang menyebabkan masa kekuasaan Ptolemeus sebagai salah satu yang paling mematikan di dinasti tersebut. Semasa kecil, Cleopatra telah melihat persengketaan dalam keluarganya sendiri. Dikatakan bahwa ayahnya selamat dari 2 usaha pembunuhan ketika seoragn pelayan menemukan ular berbisa yang mematikan di tempat tidurnya dan pelayan yang mencicipi minuman anggur tuannya yang selanjutnya pelayan tersebut meninggal. Kakak perempuan tertuanya, Tryphaena juga mencoba untuk meracuni Cleopatra sehingga ia mulai menggunakan juru cicip. Ketika ia berusia belasan tahun, ia menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri dan ayahnya menjadi boneka Kekaisaran Romawi akibat beban utang yang terlalu tinggi, tetapi masih berharap agar Romawi tidak menaklukan Mesir. Keadaan itu menyebabkan Ptolemeus XII diusir rakyat dari Alexandria yang akhirnya melarikan diri ke Romawi. Pada tahun 58 SM, ibunya, Cleopatra V mengambil alih pemerintahan bersama anaknya, Berenice IV dengan bantuan gubernur Suriah yang dikuasai Romawi, Aulus Gabinius selama setahun hingga ibunya meninggal, lalu Berenice IV memerintah sendiri. Ptolemeus XII menggulingkan anak perempuan tertuanya pada tahun 55 SM dan menghukum mati anaknya, Berenice IV. Kakak perempuan Cleopatra lainnya, Tryphaena mengambil tahta dan tidak lama kemudian ia meninggal yang menyisakan Cleopatra dengan suaminya dan adiknya, Ptolemeus XIII sebagai penerus tahta.

Dari ayahnya, Ptolemeus XII, Cleopatra mengetahui akan kekuatan leluhurnya. Leluhurnya telah melakukan penaklukan besar hampir 3 abad yang lalu.
Silsilah keluarga Cleopatra

Naik tahta

Ptolemeus XII meninggal pada bulan Maret tahun 51 SM, membuat Cleopatra yang saat itu berusia sekitar 18 tahun dan Ptolemeus XIII yang berusia sekitar 12 tahun sebagai pemimpin gabungan. 3 tahun pertama kekuasaan mereka sulit karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir sungai Nil dan konflik politik. Walaupun Cleopatra menikahi adiknya, ia menunjukan bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk berbagi kekuasaan dengannya.

Diturunkan dari tahta

Pada bulan Agustus tahun 51 SM, relasi mereka rusak. Cleopatra menurunkan nama Ptolemeus dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri di uang koin yang berada diluar tradisi Ptolemaik yang menyatakan bahwa pemimpin wanita dibawahkan oleh pemimpin laki-laki. Hal ini menghasilkan kelompok rahasia orang yang tidak termasuk dalam istana, dipimpin oleh eunuch Pothinus, menurunkan Cleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus pemimpin pada tahun 48 SM (atau lebih awal, dan terdapat sebuah dekrit pada tahun 51 SM dengan nama Ptolemeus sendiri). Ia mencoba untuk melakukan pemberontakan disekitar Pelusium, tapi ia terpaksa melarikan diri dari Mesir dengan adiknya yang tersisa, Arsinoë.[1]

Kembali naik tahta

Ketika Cleopatra pergi dari Mesir, Pompey melibatkan diri dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur tahun 48 SM, Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar ke Alexandria dan mencari suaka. Ptolemeus saat itu berusia 15 tahun dan menunggu kedatangannya. Pada tanggal 28 September 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan opsirnya yang sekarang bekerja untuk Ptolemaik. Ia dipenggal didepan istri dan anaknya, yang berada di kapal yang baru saja ia turuni. Ptolemeus berpikir bahwa dengan ia telah memerintahkan kematian Pompey untuk menyenangkan Julius Caesar. Hal ini adalah kesalahan Ptolemeus yang besar. Ketika Caesar tiba di Mesir dua hari kemudian, Ptolemeus memberikan kepala Pompey. Caesar yang melihat hal ini sangat marah karena fakta bahwa walaupun ia musuh politik Caesar, Pompey adalah konsul Roma dan duda dari anak Julis Caesar, Julia. Caesar menguasai ibukota Mesir dan menjadikannya wasit dari klaim antara Ptolemeus dan Cleopatra.

Cleopatra mengambil kesempatan ini dan kembali ke istana dan bertemu dengan Caesar. Dipercaya bahwa Caesar terpesona dengan langkahnya, dan Cleopatra menjadi kekasihnya. 9 bulan setelah pertemuan pertama mereka, Cleopatra melahirkan bayi. Pada saat ini, Caesar meninggalkan rencananya untuk menggabungkan Mesir, dan mendukung klaim Cleopatra atas tahta. Setelah perang saudara pendek, Ptolemeus XIII tenggelam di sungai Nil dan Caesar mengembalikan Cleopatra ke tahtanya, dengan adiknya yang lain Ptolemeus XIV sebagai wakil pemimpin baru.

Hubungan Cleopatra dengan Julius Caesar

Walaupun perbedaan umur Cleopatra dan Julius Caesar sebesar 30 tahun, Cleopatra dan Caesar menjadi kekasih selama Caesar berada di Mesir tahun 48 SM sampai 47 SM. Mereka bertemu ketika Cleopatra berusia 21 tahun dan Caesar berusia 50 tahun. Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Cleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut "Caesarion" yang berarti "Caesar kecil"). Cleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, Octavian. Caesarion dimaksudkan untuk mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat.

Cleopatra dan Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Sebelum atau sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir. Ketika Ptolemeus XIV meninggal karena kesehatannya memburuk, Cleopatra menjadikan Caesarion penerusnya. Untuk menjaganya dan Caesarion, adiknya Arsinoe meninggal.

Hubungan Cleopatra dengan Mark Antony
Anthony dan Cleopatra, dibuat oleh Lawrence Alma-Tadema.

Pada tahun 42 SM, Mark Antony, salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil Cleopatra untuk bertemunya di Tarsus untuk menjawab pertanyaan kesetiaannya. Cleopatra tiba dan memikat Antony yang menyebabkan Anthony menghabiskan musim dingin tahun 41 SM–40 SM dengannya di Alexandria. Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia melahirkan 2 anak, Alexander Helios dan Cleopatra Selene II.

Empat tahun kemudian, tahun 37 SM, Antony mengunjungi Alexandria sekali lagi untuk berperang dengan Parthian. Ia memperbarui hubungannya dengan Cleopatra, dan sejak saat itu Alexandria menjadi rumahnya. Ia menikahi Cleopatra menurut ritus Mesir (surat dikutip di Suetonius mengusulkan ini), walaupun ia sedang berada pada waktu menikahi Octavia Minor. Ia dan Cleopatra memiliki anak yang bernama Ptolemeus Philadelphus.

Dengan donasi Alexandria pada tahun 34 SM, dan juga serangan Anthony atas Armenia, Cleopatra dan Caesarion dimahkohtai sebagai wakil pemimpin Mesir dan Siprus. Alexander Helios menjadi pemimpin Armenia, Media, dan Parthia; Cleopatra Selene II menjadi pemimpin Cyrenaica dan Libya. Ptolemeus Philadelphus menjadi penguasa Phoenicia, Suriah, dan Sisilia. Cleopatra juga mendapat gelar "Ratu atas Raja".

Sikap Anthony dipandang buruk oleh Romawi dan Octavian meyakinkan senat untuk berperang dengan Mesir. Pada tahun 31 SM, pasukan Anthony menghadapi serangan armada Romawi di pantai Actium. Dengan terjadinya pertempuran Actium, Octavian menyerang Mesir. Dengan tanpa pengungsi lain yang melarikan diri, Anthony melakukan aksi bunuh diri dengan menusukan pedangnya pada tanggal 12 Agustus 30 SM.

Kematian

Mark Antony bunuh diri yang menyebabkan Cleopatra juga bunuh diri. Tidak diketahui bagaimana ia meninggal, tetapi menurut legenda, ia mengambil keputusan untuk bunuh diri setelah ia menyadari bahwa ia gagal mencapai tujuannya. Ia meninggal akibat membiarkan dirinya digigit ular berbisa yang diselipkan kedalam bakul berisi buah ara. Dalam detik terakhir kematiannya, ia menyatakan takdirnya sebagai dewi.[2]

Anak Cleopatra, Caesarion mengklaim sebagai pharaoh Mesir, tetapi Octavian menang lebih dulu. Caesarion ditangkap dan dieksekusi, takdirnya dilaporkan dikunci oleh perkataan terkenal Octavian: "Dua Caesar terlalu banyak." Hal ini mengakhiri garis pharaoh Mesir. 3 anak dari Cleopatra dan Antony diampuni dan dibawa kembali ke Roma dan mereka dirawat oleh istri Anthony, Octavia Minor.

Pelayan Cleopatra, Iras and Charmion juga bunuh diri. Anak perempuan Anthony, Octavia diampuni dan juga anaknya, Iullus Antonius. Anaknya yang tertua, Marcus Antonius Antyllus, dibunuh ketika memohon untuk kehidupannya di Caesarium.

Cleopatra dalam kebudayaan populer

Cerita Cleopatra telah mengagumkan penulis dan artis. Selain ia adalah figur politik yang kuat, ia juga muncul sebagai orang yang dapat bersekutu dengan 2 orang terkuat (Julius Caesar dan Mark Antony) pada masanya. Ia muncul baik dalam buku, film, novel, drama, permainan video, lukisan dan serial televisi. Contohnya pada drama Antony dan Cleopatra tahun 1609 buatan William Shakespeare. Film pertama yang berkaitan dengan Cleopatra adalah Antony and Cleopatra dengan Florence Lawrence sebagai Cleopatra. Film pertama dengan subyek Cleopatra, Ratu Mesir, dibintangi oleh Helen Gardner. Banyak artis yang juga menjadikan Cleopatra sebagai objek lukisannya, contohnya Guido Cagnacci yang melukis tentang kematian Cleopatra pada tahun 1658

Catatan kaki

1. ^ Peter Green (1990). Alexander to Actium: The Historical Evolution of the Hellenistic Age. Berkeley: University of California Press, 661–664. ISBN 0-520-05611-6.
2. ^ Smith, William (ed.) (1867). Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Boston: Little, Brown & Company, 802.


Pengambilan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Cleopatra_VII




Baca Selanjutnya Bro..

Friday, August 01, 2008

Nefertiti; Pesona Telah Datang




Di depan Istana Putih terdapat taman yang sangat indah. Taman itu ditumbuhi oleh rumput yang hijau, terhampar seperti permadani berwarna hijau. Selain beberapa pohon kurma dan pohon palem, di dalam taman terdapat beratus-ratus bunga dengan warna yang bermacam-macam. Ada bunga teratai dengan berbagai warna dan ukuran, mawar dan lain-lainnya. Di samping taman itu, tidak terlalu jauh dari Istana Putih, terlihat anak sungai Nil meliuk-liuk, menari dan berirama dengan merdunya. Airnya bergelombang santun. Matahari yang sedang tersenyum malu-malu itu terlihat enak dipandang. Wajahnya bagai dihamburi oleh jutaan intan yang berkilauan indah. Kilauan air anak sungai Nil pun memancar seperti hamparan jamrud.

“Matahari itu yang membuat semuanya tampak hidup. Air sungai Nil berkilauan bah ditaburi intan-berlian. Kumbang datang menyapa bunga-bunga yang sedang mekar indah itu. Manusia mendapatkan kehangatan dan kehidupan. Matahari yang menghidupkan segala-galanya di bumi itu. Ya, matahari yang menghidupi segala makhluk, bukan Osiris, Horus, bahkan Seth atau dewa-dewa lainnya.” Di dalam dada anak kecil itu bergemuruh kata-kata yang memeberontak. Sungguh aneh, anak sekecil itu sudah mampu memikirkan hal yang sebesar itu. Anak kecil itu menoleh, ketika ia mendengar ada suara langkah kaki dari belakangnya.



“Nefertiti, apa yang sedang engkau lakukan di sini?” Gadis kecil yang dipanggil Nefertiti itu hanya diam. Kepalanya di balikkan kembali. Dua matanya yang selalu berbinar-binar terang tak jemuh-jemuhnya melihat matahari di timur itu. Seakan ia sedang menjawab, “aku sedang melihatnya. Melihat Dewa segala alam. Dewa yang memberi kenikmatan kepada semua makhluk di bumi ini.”

“Engkau menyukainya? Apakah engkau tahu, bahwa ia adalah Dewa Aten?” Kata anak laki-laki di sampingnya. Anak laki-laki itu sudah duduk di samping Nefertiti. Dua mata Nefertiti tiba-tiba terlihat lebih terang dari matahari yang ditatapnya itu.

“Aten?” Tanya Nefertiti tidak mengerti. Anak laki-laki yang ada di sampingnya tidak menjawab. Tiba-tiba saja anak laki-laki itu menjadi bisu. Tidak bisa bicara.

“Amenhotep, apa maksud perkataanmu itu? Setahuku, tidak ada Dewa bernama Aten dalam keyakinan kita. Bukankah begitu, Amenhotep? Ibu Tiye belum pernah memberi tahu kepadaku, bahwa dewa matahari itu bernama Aten. Mereka memang pernah bercerita, bahwa dewa matahari bernama Ra dan dewa bulan bernama Amon. Bukan dewa Aten! Lalu apa dewa Aten yang engkau maksud itu?” Nefertiti memburu. Anak laki-laki yang dipanggilnya Amenhotep itu tetap membungkam mulutnya. Mukanya ditekuk ke bawah.

Sebelum Amenhotep menjawab pertanyaan Nefertiti, ia terlebih dahulu melirikkan matanya ke kiri dan kanan. Tidak ada!, teriak hati kecil Amenhotep yang mempunyai nama lengkap Amenhotep IV. “Nefertiti, apakah engkau mau menjaga rahasia terbesarku?”

“Rahasia apa?” Tuntut Nefertiti. “Apakah engkau mau? Kalau mau, saya akan menceritakannya kepadamu.” Potong cepat Amenhotep. Nadanya memaksa. Dua matanya menyala seperti ada api di dalamnya. Nefertiti hampir terlonjak kaget ketika menemukan dua mata menyala itu. Setahunya, belum pernah ia melihat dua mata Amenhotep IV menyala seperti api. Ini pertama kalinya ia melihat. Namun, dua tangan Amenhotep memegang erat tangan Nefertiti. “Kalau tidak. Jangan banyak bicara. Dan lupakan perkataanku tadi. Jangan engkau sebarkan kepada orang lain. Mengerti!?!”

“Baiklah, saya akan menjaga rahasiamu,” Jawabnya kemudian. Itupun setelah ia berpikir, bahwa ada sesuatu yang unik dalam pikiran Amenhotep dan ada sesuatu yang ia ingin ketahui. Bukankah ia sendiri mengkultuskan matahari? Tidak ada salahnya untuk mengetahui rahasai terbesar seorang yang ia kagumi. Mungkinkah ia akan mengatakan bahwa Amenhotep menyukaiku?, kata hati kecilnya berharap-harap.

“Engkau mau bersumpah?” Ucap Amenhotep IV untuk menyakinkan. “Saya bersumpah demi para dewa; Isis, Nephthys, Hator, Osiris dan Horus, bahwa saya akan menyimpan rahasiamu, Amenhotep.” Sumpah Nefertiti sambil mengangkat tangan kanannya ke langit. Dua mata Amenhotep yang tadi membara, tiba-tiba padam seperti terkena air es oleh sumpah Nefertiti.

Wajah Amenhotep IV yang tadi tampak garang, tiba-tiba bercahaya oleh sebuah senyuman puas. Amenhotep IV telah berubah menjadi anak laki-laki kecil yang lugu, polos dan biasa. Semua pikiran, ambisi, dan keyakinannya dihalangi oleh sifat kekanak-kanakannya, kepolosannya dan keluguannya. Orang-orang disekitarnya tidak tahu, bahwa Amenhotep mempunyai gagasan, bisa disebut ambisi, yang berbeda dengan pendahulunya, atau bahkan ayahnya Amenhotep III sebagai Pharaoh di Mesir yang menguasai Nil dari hulu sampai hilir. Ayahnya adalah Pharaoh terbesar yang pernah menyatukan berbagai bangsa di dalam kekuasaannya dan memajukan roda pemerintahannya bersama ibunya Ratu Tiye. Kekuasaannya yang luas, meliputi berbagai bangsa dan ras menjadi damai dan tenang dalam pemerintahan ayahnya Raja Amenhotep III.

Ia sendiri adalah anak sulung dari Raja Amenhotep III dan akan menjadi pewaris kerajaannya setelah kakaknya Tuthmose meninggal di usia muda. Ia mempunyai tiga saudari yaitu Beketaten, Sitamun, and Isis. Kelak ia akan menjadi Pharaoh terkenal dan diingat banyak orang. Gayanya yang nyentrik, penuh seni, pembaharuan dan satu-satunya Pharaoh Mesir yang tidak mau disembah, dan pembaharuannya dalam keyakinan dinasti ke-18 akan banyak diingat orang setelahnya.

Sambil berucap, Amenhotep menatap matahari yang sedang bersinar terang-terangnya itu. Tatapan matanya kadang-kadang jatuh ke arah wajah Nefertiti yang sedang mekar-mekarnya. “Wajahnya tiap hari tambah sedap dipandang, benar-benar sesuai dengan namanya. Nefer-titi, Pesona Telah Datang! Suatu hari nanti, saya ingin dia yang mendampingiku duduk di kursi singgasanah kerajaan ini.” Bisik hati Amenhotep saat matanya jatuh di pipi kanan Nefertiti.

Nefertiti menoleh seakan merasakan debaran jantung Amenhotep. Ia merasakan ‘sinyal-sinyal cinta’ Amenhotep. Sebuah kesepakatan suci yang tersimpan rapi di dalam hati Amenhotep. Begitu pun Amenhotep, Nefertiti pula tidak mampu menyembunyikan rasa sukanya kepada Amenhotep. Bukti rasa sukanya adalah sumpahnya untuk menyimpan rahasia Amenhotep. Sumpah yang baru diucapkannya bukan sekali-kali karena ia takut dengan ancaman Amenhotep, namun itulah lagu hatinya, pengakuan cintanya. Ia merasakan betapa berharganya suatau saat jika ia bisa memimpin rakyat Mesir bersama Amenhotep. Menjadi Ratu yang ikut serta dalam pemerintahan seperti halnya Ratu Hatshepsut. Ratu Mesir terhebat dalam sejarah Pharaoh di Mesir selama berabad-abad. Hatshepsut adalah Pharaoh perempuan yang pernah memegang kerajaan di Mesir paling lama dan hebat dari Pharaoh-pharaoh perempuan lainnya. Walaupun ambisi Nefertiti tidak sebanding dengan Amenhotep, namun ambisi dua anak baru memasuki dunia dewasa itu bisa dikatakan sepadan, bahkan sama. Membangun keyakinan baru dan menghapus keyakinan-keyakinan lama.

“Suatu saat nanti, ketika saya sudah memegang Waas –tongkat kekuasaan atau simbol kekuasaan- maka pertama-tama yang ingin kulakukan adalah menjadikan Aten sebagai satu-satunya dewa bagi seluruh makhluk di bumi. Semua dewa yang disembah oleh nenek moyang kita hanyalah fiksi. Tidak nyata. Dewa matahari Aten-lah yang tampak dan jelas fungsinya.”

“Ya, akhir-akhir ini saya juga memikirkannya ketika sedang duduk di sini disaat matahari baru muncul atau terbenam. Di otakku sering bermunculan pertanyaan, siapa sebenarya dewa bagi bumi dan makhluk yang mendiaminya ini? Apakah Isis yang menciptakan air sungai Nil dari tetesan air matanya, atau Osiris yang menjaga Nil dari kehancuran oleh Seth, ataukah Horus yang menjaga dari datangnya kegelapan dan utusannya Apeb makhluk paling menakutkan itu. Saya tidak tahu dan percayalah, bahwa saya adalah orang pertama yang akan mendukung keinginanmu itu, Amenhotep.”

Dua mata Amenhotep berkaca-kaca mendengar jawaban tidak terduga-duga Nefertiti. Hampir saja ia memeluk Nefertiti seandainya ia tidak cepat-cepat menyadari, bahwa dewa Aten melihatnya. Betapa malu dirinya dilihat dewa Aten. Ingin rasanya ia mengajak Nefertiti lari ke dalam Istana Putih dan memeluknya di sana. Menciumnya dan berterima kasih atas dukungannya. “Inilah ratuku nanti!” Hati Amenhotep berteriak kencang. Ia berharap dewa Aten tidak mengetahui bahasa hatinya.

<><><><><><><><><><>

Tidak ada yang tahu bagaimana isi otak Amenhotep. Jalinan pemikirannnya dan ambisisusnya. Beberapa tahun kemudian, ketika ayahnya Amenhotep III memaksanya menikah, sebenarnya, yang ingin ia pilih adalah Nefertiti. Namun sang ayah, memilihkan adiknya Sitamun sebagai calon permaisuri untuknya. Tidak mungkin ia menolaknya. Adat istiadat keluarganya memang harus dinomor satukan, kecuali apa yang sudah diyakininya tentunya, akhirnya ia menerima walaupun dengan hati gunda dan tidak senang. Nefertiti yang mengetahui perjodohan itu memilih mengurung di dalam kamar dan jarang keluar. Di dalam kamarnya itu, ia bisa menumpahkan semua kesedihannya melalui air mata. Kadang-kadang ia berdoa kepada dewa Aten yang telah diyakininya, berharap perjodohan itu gagal dan berpindah kepadanya. Apakah ada keajaiban seperti itu?

Jalinan asmaranya dengan Amenhotep IV semakin kuat di dalam penderitaan. Bukan ia semakin kecewa atau putus asa, akan tetapi ia semakin kuat berdoa kepada dewa Aten, ketika matahari pagi menyinari kamarnya lewat jendela. Ia tahu, kejaiban akan datang kalau keyakinananya kuat dan landasan pikirannya benar. Semakin kuat ia berdoa. Semakin ia jarang bertemu dengan Amenhotep IV, kekasihnya. Ia hanya bertemu beberapa kali dalam sehari yaitu ketika makan bersama atau ketika ia sedang keluar kamar untuk mencari bunga lotus, bunga kesukaannya dan lambang kecantikannya.

“Nefertiti, apakah engkau marah kepadaku? Sehingga engkau selalu berdiam di dalam kamar dan tidak pernah mau menemuiku.” Tanya Amenhotep IV suatu sore hari ketika mereka bertemu di pinggir anak sungai Nil.

Nefertiti menghindari pandangan Amenhotep IV yang tampak selalu memaksa. Ia tahu bahwa, bagaimana pun juga, ia akan tetap bisa berdampingan dengan Amenhotep IV. Tadi malam ia diberi tahu oleh ibu tirinya Ratu Tiye, bahwa ia akan dicalonkan sebagai selir bagi Amenhotep IV. Ia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa selir lebih baik daripada ia sama sekali tidak berdampingan dengan Amenhotep IV. Ia tidak bisa hidup tanpa Amenhotep IV, seperti halnya ia tidak akan pernah bisa hidup tanpa dewa Aten. Ia tidak menjawab pertanyaan Amenhotep IV. Ia memilih pergi menghindar. Hatinya sepertinya hancur berkeping-keping. Panggilan Amenhotep IV tidak dihiraukan lagi.

<><><><><><><><><><>

Suatu hari, ketika Amenhotep IV sudah memegang Waas dan menikah dengan adiknya Sitamun, hati Nefertiti semakin hancur. Ingin rasanya ia menceburkan dirinya ke dalam sungai Nil, berharap ular raksasa sebagai lambang kegelapan yaitu Apeb melahapnya. Menguasainya. Dan jiwa jahatnya memasukinya untuk membalas dendam atas sakit hatinya, karena Amenhotep IV memungkiri janjinya. Namun dewa Horus dengan lambang burung elang yang dijadikan lambang di mahkotanya masih membukakan jalan untuknya. Menjernihkan otaknya dan memberinya ide baru.

Beberapa bulan kemudian, Sitamun meninggal setelah menderita sakit cukup lama. Kematian Sitamun memberinya lowongan untuk mendapatkan Amenhotep IV seutuhnya. Dan benar saja, bahwa permaisuri yang dipilih oleh Amenhotep IV sendiri adalah dirinya. Amenhotep IV telah menjadi Pharaoh dan siapa pun tidak berhak memaksanya, menyruhnya atau menggertaknya. Ayahnya Amenhotep III pun tidak berhak memaksanya untuk menikah kepada siapapun, bahkan ibunya Tiye sekalipun, apalagi para rakyatnya.

Nefertiti sekarang menjadi perempuan pertama di Mesir. Kekuasannya hanya terbatas atas suaminya, bahkan kadang-kadang suaminya menurut kepadanya. Ambisi Nefertiti semakin melambung. Suaminya Pharaoh Amenhotep IV telah mengubah namanya menjadi Akhenaten (Jiwa dari Aten) dan nama Ratu Nefertiti menjadi Neferneferuaten-Nefertiti (Dewa Aten Memancarkan Sinarnya, kerana Pesona Telah Datang). Agama baru telah dihidupkan. Rakyat Mesir tidak lagi beragama politeis akan tetapi menjadi agama monoteis. Mereka mengikuti cara sembahyang Akhenaten ketika menyembah Dewa Matahari Aten, satu-satunya dewa yang disembah dan dipercaya. Kalau Akhenaten hanya memperbaiki dalam hal cara ibadah kepada Dewa Aten, berbeda dengan Nefertiti yang membangun dan memajukan hal-hal lainnya. Ia yang mampu meredam gejolak pemberontakan para pendeta Amon yang kehilangan pekerjaannya akibat pergantian agama oleh Akhnaten. Bahkan setelah suaminya Akhenaten meninggal, nanti ia akan bertahta sendirian dan merajai Mesir dengan nama lain yaitu Smenkhkare. Di waktu akhir pemerintahan Akhnaten pun, nama Nefertiti sudah tidak lagi terdengar, hanya nama Smenkhkare yang menjadi mashur dan banyak dikenal orang.

Setelah suaminya Pharaoh Akhnaten meninggal, ia mengubah namanya dan memindahkan kota pemerintahannya dari Amarna ke Memphis. Dialah Nefertiti yang agung dan Pesona Telah Datang yang pernah memerintah dengan Akhnaten sebelum masa pemerintahan putra tirinya Tutankhamen. Ia menghilang setelah berkuasa bersama suaminya Akhnaten dan mengubah kultur Mesir menjadi baru. Perkawinan Nefertiti dengan Pharaoh Akhnaten hanya dikaruniai enam anak perempuan, yaitu Meritaten, Meketaten, Ankhesenepaten (Berubah Ankhesenamun), Neferneferuaten, Neferneferure, Setepenre. Ia pergi bersama angin dan hilang ditelan ombak Nil. Jiwanya terbang dan bersinar seperti Dewa Matahari Aten yang diyakininya. Menyinari bangsanya. Mengontrol kekuasaannya di Dunia Kematian. Nefertiti dan Akhnaten tetap hidup dengan wajah baru yang bersinar-sinar terang.

NB; Banyak teori mengenai Nefertiti. Identias asli Nefertiti juga masih dalam perdebatan para Arkeolog di dunia. Apakah ia asli orang Mesir atau orang Mittani (Iran) yang didatangkan untuk perjodohan. Siapa nama orang tuanya, apakah ia putra dari Ay yang mempunyai istri bergelar ‘Ibu Susuan Nefertiti’. Atau konspirasi lainnya. Hingga sekarang, Nefertiti menjadi bacaan paling unik dan mengesankan. Jasadnya tidak ditemukan seperti jasad-jasad para Pharaoh lainnya. Ia terkenal dengan patung kepalanya yang ada di Musium Berlin, Jerman.


Baca Selanjutnya Bro..

Wednesday, October 24, 2007

Sakkia Abdel Muneim El Sawy


Kehausan akan curahan seni, budaya dan sastra benar-benar telah menjadikanku semakin menggeliat tidak tentu. Sudah lama aku ingin jalan-jalan sambil ditemani kesejukan hati ke sebuah tempat dimana para artis, seniman, teateris, sastrawan, penulis, pemikir, ulama’, mahasiswa, dan para wartawan berkumpul. Di Mesir, kita hanya akan menemukan beberapa markas para seniman berkumpul, itupun tidak pernah menyeluruh seperti apa yang dicapai oleh Sakkia Abdel Muneim El Sawy. Di tempat inilah dari sastrawan sampai pemuda-pemudi yang haus akan dunia seni, sastra, budaya, agama sampai dunia kepemudaan berkumpul. Sudah lama sekali aku ingin berkelana melihat bagaimana sebenarnya dunia
  • Sakkia
  • yang dibangun oleh penulis besar, wartawan Gumhouria dan novelis ini. Sakkia atau bisa dikatakan tempat bercurahnya keilmuan dan kebudayaan ini dibangun pada tanggal 15 Juli 2002 oleh wartawan Abdel Muneim El Sawy.


    Bisa dikatakan Sakkia masih baru dibangun, walaupun begitu suaranya sudah berdengung sampai kepelosok-pelosok desa di Mesir, bahkan banyak juga para seniman dan sastrawan dari manca negara, seperti Perancis, Itali, Amerika, Inggris dan Scotlandia makang di tempat ini. Hari Senin, tepatnya tanggal 22 Oktober 2007 kemarin aku bersama dua teman berkunjung ke dunia Sakkia yang berada di akhir jalan atau jembatan 26 July, Zamalek, Cairo, Mesir. Rasa penasaranku terhadap tempat ini membuatku benar-benar tidak bisa tenang, setelah melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki sambil sesekali bertanya, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan kami. Aku sendiri kaget ketika melihat tempat Sakkia yang didengung-dengungkan sebagai tempat para artis, sastrawan, seniman, penulis dan pemuda-pemudi berkumpul ternyata hanya seperti itu. Dahulu ketika pertama kali aku mendengarkan nama Sakkia dari beberapa iklan dan khususnya dari majalahnya yang diberinama Sakkia El Waraqiyya. Aku membayangkan bahwa gedung Sakkia sangat besar dan mewah, tapi setelah melihatnya sendiri, ternyata semuanya lain. Bahkan salah satu temanku tertawa nyengir melihat gedung Sakkia yang aneh itu.

    Gedung Sakkia yang diberi nama Khan Sakkia ternyata hanya gedung sederhana yang dibangun di bawah jembatan 26 July. Ketika melihat seperti itu, aku jadi ingat negeriku Indonesia. Di Indonesia, di kolong jembatan seperti itu adalah tempat dimana para saudara-saudaraku yang diberi embel-embel sebagai orang-orang gelandangan bertempat tinggal, daerahnya kumuh dan menjijikkan. Tapi di Mesir ini, tempat seperti itu malahan dijadikan sebagai tempat berkumpul para orang-orang keren. Aku sangat kecewa terhadap apa yang kulihat. Tapi dibenakku ada selentingan rasa memuji pendirinya, karena ternyata seorang wartawan besar seperti Abdel Muneim mempunyai cita rasa dan inisiatif yang berbeda dan menyeni sekali. Ketika aku terbengong-bengong melihat gedung kecil yang ada di bawah jembatan itu, salah satu temanku mengajak untuk masuk. Ketika masuk aku bertambah bengong, karena pemandangan antara di luar dengan di dalamnya sangat berbeda. Lima menit kami membaca beberapa pengumuman tentang jadwal acara, seperti kajian ilmiah, teater, pementasan puisi, pameran lukisan, pameran musik, nonton film bareng sampai ajang perkumpulan anak muda biasa.

    Di setiap sudut dinding di dalam Khan Sakkia terdapat sebuah pengumuman yang tertulis bahwa di daerah ini dilarang merokok, siapa yang melanggar akan dikenai denda 100 pound (200 ribu rupiah). Aku hanya bisa begumam “luar biasa tempat ini!”. Lalu telingaku mendengar suara alunan musik band. Belum lagi aku bertanya ke teman dimana asal suara itu, salah satu temanku sudah menyeretku untuk masuk ke sebuah ruangan yang ada di belakang. Baru saja aku masuk ke ruangan itu, aku bertambah terbengong-bengong seperti seorang pemuda melihat cewek cakep. Yang kulihat bukan sekedar cewek cantik saja, tapi pemandnagan di dalam ruangan ini begitu indah, nyaman, tenang dan romantis. Ruangan tang diberi nama Qa’ah Nahr (River Hall) ini berada di samping anak sungai Nil, sambil menikmati lantunan pameran musik, kita juga bisa menikmati keindahan sungai Nil. Group Band Arab yang sedang latihan itu ternyata melantunkan lagu Arab yang digubah sedemikian rupa hingga menyerupai lagu-lagu Inggris, belum pernah aku mendengarkan Band Arab seperti ini.

    Lalu salah satu temanku mengusulka untuk memesan kopi dan sambil menyeruput kopi aku dan teman-teman menikmati beberapa lagu dari Band Arab. Aku menikmati lagunya di pinggir sungai Nil da mataku tidka henti-hentinya menatap aliran Nil yang berjalan dengan santun dna sopan. Di dalam ruangan ini disediakan beberapa makanan dan minuman yang snagat murah. Bisa dikatakan tempat tidak sekedar sebagai tempat pameran musik dan teater saja, tapi lebih jauh lagi sebagai kafe, perpustakaan dan tempat liburan yang romantis. Lagu Band Arab sudah selesai dan saat ini para pemainnya sudah turun dan sedang bebincang-bincnag di sebelah tempat kami duduk. Kami pun berbincnag-bincang sekitar setengh jam. Tiba-tiba salah satu temanku menunjukkan kepadaku adagadis Mesir cantik. Sekilas aku melirik dan aku sampai bengong melihat seorang gadis berpakaian serba hitam itu melenggang dengan tenang menuju ke para pemain Band yang rata-rata mempunyai tubuh keren itu. Gadis itu sepertinya bukan asli ornag Mesir, karena wajahnya mirip sekali orang Eropa. Berkali-kali kami membicarakan dan mencoba menembak sebenarnya gadis itu aslid ari Mesir apa berdarah Eropa.

    Tidak terasa bahwa kami sudah hampir sejam berada di dalam ruangan ini. Dan ada beberap petugas menyuruh kami keluar, karena Band Arab yang tadi sedang latihan sebentar lagi akan manggung. Bagi yang ingin melihat pementasannya itu harus membeli tiket dulu. Akhirnya kami keluar untuk mencari informasi tentang cara pendaftaran keanggotaan Sakkia. Di ruangan yang diberi nama Qa’ah Hikmah (Wisdom Hall) itu kami mendapatkan informasi pendaftaran. Untuk mendapatkan kartu keanggotaan, kami harus mengisi folmulir dan membayar pendaftaran 20 pound untuk masa satu tahun. Bagi anggota Sakkia bisa mendapatkan potongan 5 pound setiap ada pagelaran seni dan kebudayaan, juga kita bisa meminjam beberapa buku di perpustakaan Sakkia.

    Lebih lanjut lagi, ternyata Sakkia mempunyai tiga ruangan khusus, yaitu ruang sungai (River Hall) yang digunakan untuk pementasan tentang dunia pemusikan. Ruang himah (Wisdom Hall) adalah ruangan yang digunakan sebagai tempat pengajian tentang keagamaan. Sedangkan ruang kata (Word Hall) adalah tempat pagelaran teater, pembacaan puisi dan kajian ilmiah dan kebudayaan. Di tempat lain juga ada sebuah ruangan untuk perpustakaan bagi anak kecil, pelajar, mahasiswa dan para guru.setelah emngetahui beberapa informasi seperti itu, aku dapat melihat bahwa area tempat Sakkia ternyata cukup luas dan panjang, karena ia berada di bawah jembatan dan di samping aliran sungai Nil. Aku pun jadi tahu, bahwa arsiktur pembuatan tempat ini memang cicik sekali, karena tidak mengganggu orang lain. Orang tidak akan tahu dan mendengar suara musik yang keras jika di atasnya telah ada suara berisik dari mobil yang lewat jembatan. Diantara kelebihan Sakkia dnegan tempat lain seperti Opera House, Britist Council, El Harrawy dan lain-lainnya adalah bahwa tempat ini bisa menggabungkan diri antara dunia seni-budaya dengan keilmiahan dan dunia agama. Dan tempat yang sederhana itu ternyata memiliki keistimewaan yang suli dicari ditempat lainnya. Diakhir kata aku bisa mengatakan, bahwa sesuatu yang dibangun dari sebuah kesedarhanaan dan pemikiran yang ikhlas, akan menunai suatu yang tinggi dan maha dahsyat.

    24 Oktober 2007


    Baca Selanjutnya Bro..

    Kenapa Harus Menulis?

    Mungkin bagi sebagian orang yang pernah nonton film dengan judul Catatan Akhir Sekolah di sana, kita bisa menemukan sebuah jargon (Maksudnya pesan filmnya) atau idiologi dari film itu yang mengatakan bahwa kita hidup(seorang murid/mahasiswa) adalah hanya untuk mecatat. Mungkin bagi sebagian orang, pesan yang seperti itu tidak menimbulkan sesuatu yang perlu diingat atau diperhatikan lebih khusus, tapi bagiku pesan itu menjadi sesuatu yang dahsyat dan penuh makna tersendiri. Aku bisa mengatakan bahwa diriku ada sedikit kecondongan tentang masalah itu, tapi bukan berarti aku sepakat secara bulat-bulat terhadap pesan seperti itu. Menurutku kehidupan yang paling berarti adalah ketika kita bisa sedikit menulis bukan mecatat semua detik kehidupan kita sendiri atau yang berhubungan dengan alam lingkungan di samping kita hidup.




    Terdapat perbedaan mendasar antara menulis dan mecatat, kalau dalam bahasa Inggrisnya menulis diartikan write, sedangkan mecatat diartikan sebagai note. Ini menunjukkan bahwa dimanapun dan apapun bahasanya, antara menulis dan mecatat ada perbedaan yang sangat mendasar, baik dari segi penggunaan kata atau fungsi kata, arti, dan kekhasannya atau keunggulannya. Menulis adalah salah satu kata yang bisa digunakan dalam segala kondisi dengan aspek yang lebih luas dan merata, sedangkan penggunaan kata mecatat adalah sebuah kata yang digunakan dalam kondisi yang lebih khusus dengan kondisi yang sempit dan terbatas. Kata mecatat digunakan untuk istilah dalam sebuah kasus atau kondisi yang sempit dan dalam waktu yang pendek, seperti halnya catatan akhir sekolah. Ini berarti bahwa kondisi mecatat hanya dibataskan pada detik-detik dalam kehidupan bersekolah. Sering kali kata catatan dibataskan pada sesuatu yang lebih sempit dan pendek, karena memang makna asli dari kata itu menyempitkan dan mengkhusukan sesuatu yang disandarkan pada kata itu.

    Aku lebih senang menulis. Itu sudah jamak kalau kita mau berpikir ke masa depan. Aku mulai suka menulis ketika aku selesai ikut lomba karya ilmiah nasional di Malang, Jawa Timur. Waktu itu aku mewakili sekolahku untuk maju ikut lomba, setelah guru bahasa Indonesia dan sastra Indonesia mendesakku. Sebenarnya aku sendiri sudah tidak ada mood untuk mengikuti lomba atau menulis lagi, karena waktu itu aku harus konsen pada ujian akhirku. Dengan bekal bismillah aku pun terpaksa ikut. Sebelum menulis aku harus melakukan riset dan pengekploitasian data ke perpustakaan dan berbagai tempat. Waktu riset aku membutuhkan waktu sekitar satu bulan, sedangkan untuk menulis hanya membutuhkan waktu dua minggu. Setelah selesaid an diserahkan ke Malang, aku menunggu terus dengan hati agak khuwatir, maklum ini adalah lomba terbesar dalam hidupku waktu itu. Setiap satu minggu, aku mendapatkan surat dari Malang yang isinya hasil karyaku diterima. Aku mendapatkan empat kali surat, isi pertama menjelaskan bahwa karyaku telah sampai dan diterima. Isi ke dua menjelaskan tentang penyeleksian dari 150 peserta dari berbagai propinsi dan aku masuk pada 70 peserta terbaik, lalu isi ke tiga kuterima yang isinya menerangkan bahwa aku masuk pada 40 peserta yang diterima. Surat ke empat kuterima dengan hati getir, karena aku tidak bisa masuk dalam penyeleksian 12 peserta terbaik.

    Sampai di sini aku mules sekali. Di surat itu dijelaskan banyak sekali kekurangan, baik dari segi judul dan pendalaman riset. Aku bisa masuk ke dalam 40 besar, karena tata kebahasaan tulisanku bagus. Setelah kegagalanku ini, aku jadi pobia atau takut terhadap beberap perlombaan. Aku tidak mau lagi mengikuti perlombaan. Tapi dari segi menulis, aku semakin haus dan lapar. Setelah lulus dan aku mau meneruskan ke jenjang S1 di Mesir di saat itulah guru bahasa dan sastra Indonesiaku memberi pesan padaku untuk selalu menulis, karena katanya bakat ada pada penulisan. Sebenarnya aku tidka begitu percaya tentang bakatku itu, aku hanay percaya bahwa aku tidak mempunyai kemampuan dalam berbicara, sehingga membuatku harus belajar menulis dan menulis. Menulis bagiku adalah berbicara juga, bahkan lebih hebat lagi, karena kita akan mentransformasi keilmuan kita juga. Setelah aku berada di Mesir, aku sempat mengalami kecanduan untuk menulis, sehingga hari-hariku di Mesir tidak terlepas dari pena, tulisan dan buku bacaan. Kemana pun aku pergi, aku selalu membawa tiga teman setiaku itu.

    Untuk menemukan ide tentang apa yang akan kutulis, aku sering kali melakukan jalan-jalan. Entah ke mana, asalkan jiwa dan pikiranku bisa melayang bebas untuk menemukan pernik-pernik kehidupan yang bisa kutulis. Kadang dalam bis, aku terdiam seperti ornag melakukan meditasi, bukan melamun atau apa, tapi sengaja kulakukan untuk mencari ide tulisan. Hingga saat ini aku telah menulis banyak artikel, esai, puisi, cerpen dan bahkan novel. Walaupun tidka bagus amat tapu cukup memuaskan sebagai awla dari pena yang masih muda walaupun dengan umur yang tua. Hingga saat ini aku masih menulis, sebagai gerbang dan alat untuk berbicara dan memindah ilmu pengetahuan yang kumiliki. Sejak di Mesir, aku jadi tahu bahwa kalau harimau mati meninggalkan belang, gajah meninggalkan taring, maka aku akan meninggalkan karya tulisan ketika aku meninggal suatu saat. Setidaknya inilah yang kupahami dari seorang penyair Qus bin Sa’dah, bahwa seseorang harus membuat karya besar sebelum jiwanya melayang meninggalkan raga.




    Baca Selanjutnya Bro..

    Sunday, October 14, 2007

    Senyum Terindah


    Sepertinya, kehidupanku saat ini mulai tampak indah. Kulihat beberapa kali keindahan tersenyum kepadaku dengan senyumnya yang semerbak.terlihat bibir keindahan itu mungil menantang. Ah... benar-benar malam kemarin membuatku senang dan bahagia. Kerinduanku terhadap orang tua dan keluarga di Indonesia kali ini benar-benar terobati. Malam lebaran kemarin, aku bersama salah satu teman serumaku berjalan menuju kampung Gamalea sebelah Timur. Hampir setahun aku tidak menjenguk sebuah keluarga yang telah membuatku dapat menemukan oase kehidupan di Mesir. Beberapa bulan yang lalu aku hidup di sana selama sekitar enam bulan, di sana aku merasakan kehidupan yang begitu menyenangkan, sebuah kehidupan yang belum pernah kurasakan di tempat lainnya di Mesir, bahkan di tempat tinggalku saat ini, di Bathniyyah.

    Aku berjalan menelusuri gang-gang sempit dengan gedung-gedung yang sudah usang dimakan waktu. Penuh debu, sampah dan sangat jorok. Entah mengapa tiba-tiba aku merasakan rasa rinduku untuk berjalan menelusuri gang-gang sempit itu. Bahkan berkali-kali aku sempat menendang rol-rol kenangan beberapa bulan yang lalu, ketika aku masih bertempat tinggal di daerah ini. Sebuah daerah dimana kesempitan, debu, jorok dan kesunyinyan menjadi sebuah daerah paling berharga dan nyaman buatku.



    Entah bagaimana tiba-tiba saja aku merasa hidup di surga, padahal tempat di sini sangat memuakkan. Aneh memang kehidupan yang kurasakan beberapa bulan dulu. Kenangan-kenangan itu berkeliaran, seperti hantu mencari sukma.

    Aku datang kembali ke daerah ini dengan beberapa tujuan, diantara tujuan-tujuan itu yang terpenting adalah bersilaturahmi dengan keluarga yang dulu rumahnya kami sewa selama berbulan-bulan. Sebut saja Mama, karena hingga saat ini aku tidak pernah tahu siapa nama ibu dengan empat anak itu. Aku hanya tahu nama suaminya Ahmed, anak-anaknya, seperti Mohamed, Imad, Heba dan Suzane. Selain ingin bersilaturahmi, aku juga ingin mengembalikan sebuah buku yang sudah lama ikut bersamaku. Aku sendiri tidak tahu, sebenarnya buku yang ikut tercampur dengan buku-bukuku ketika pindahan itu milik siapa, apakah milik Mama atau milik seorang yang pernah menyewa falat sebelumku?. Yang kutahu bahwa aku harus mengembalikannya ke tempat semula.

    Selain itu, aku juga sudag rindu dengan lorong dan gang sempit kampung Gamalia, tempat bermain seorang novelis besar Mesir Naguib Mahfoudz. Aku juga rindu senyuman Mama, Heba, aplagi Suzane. Dan masih banyak sekali tujuan-tujuan yang lainnya selain itu. Dengan hati agak deg-degan, malam takbiran itu aku bergentayangan ke rumaha Mama. Baru saja sampai di bawah apartemen rumahnya, aku bertemu dengan anak laki-laki Mama yang bernama Imad. Pertama melihatnya aku kaget sekali, karena Imad sekarang sudah tampak lebih besar dan lebih tinggi dariku. Tiba-tiba pikiranku juga melayang ke Indonesia, dibenakku teringat adik laki-lakiku yang semurun dengan Imad. Apakah ia sudah sebesar Imad saat ini? Aku bertanya-tanya dan sesekali tersenyum kalau suatu saat bertemu dnegan adikku itu.

    Imad berkata dengan ramah dan masih ingat dengan kami, katanya ibunya ada di rumah dan kami disuruh langsung masuk ke rumah, sedangkan Imad sendiripergi meninggalkan kami. Kami melanjutkan perjalanan ke atas apartemen dan ketika kami sudah sampai di depan pintu yang sudah terbuka lebar. Ternyata Heba dan Suzane sudah menyongsong kami di tengah-tengah pintu. Mereka menyambut kedatangan kami dengan hangat dan lembut. Berkali-kali mereka mengatakan, syaraftumuna (kedatangan kalian memuliakan kami) dan dengan senyum terindah yang sering kulihat sebelumnya. Aku melihat dua puteri Mama itu, lalu mereka mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah. Setelah kami duduk, Suzane masuk ke dalam kamar ibunya atas kedatangan kami.

    Kedatangan kami disambut baik oleh Mama, bahkan berkali-kali Mama mengatakan penyesalannya karena jarang menghubungi kami. Mama dan Heba bercerita berbarengan, mereka bercerita bahwa Heba sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Aku senang mendengarnya. Heba dengan rasa bangganya bahkan memperlihatkan cincin pernikahannya. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya, entah apakah karena aku sejak dahulu mereka adalah keluargaku juga. Sehingga pernikahan Heba yang sudah kuanggap kakak perempuanku itu sangat menggembirakanku. Temanku bertanya tentang pernikahan Suzane juga, kapan dia menikah. Mama mengatakan bahwa Suzane masih belum menikah dan Suzane tersenyum agak malu-malu mendengar pertanyaan kawanku itu. Memang Suzane masih terlalu muda untuk menikah bagi adat orang Mesir, ia baru saja lulus dari sekolah Aliyah. Mungkin umurnya baru sekitar 19 tahunan. Tapi kali ini aku memperhatikan dirinya dengan seksama, sepertinya dia sudah tampak besar dan lebih dewasa dari pada setahun yang lalu.

    Tubuhnya yang sudah berbau keibu-ibuan menunjukkan bahwa sebenarnya dia sudah layak untuk menentukan jodohnya terhadap seorang laki-laki. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Heba dan Suzane. Heba memiliki tubuh yang sudah begitu sempurna dan matang, mukanya tampak bundar ovel dengan wajah yang manis, sedangkan Suzane mempunyai wajah yang lonjong dengan hidung yang snagat mancung. Melihat hidungnya yang meruncing itu, tiba-tiba terlintas gambar muka ratu kecantikan Mesir, Cleopatra. Apakah ratu Cleopatra yang digembar-gemborkan kecantikannya itu mirip dengan Suzane?. Aku tidak tahu!.

    Kami berbincang-bincang berlima saja. Mereka masih ingat nama satu persatu kami, hanya Mama dan Heba yang sudah lupa namaku yang sulit Angga!, nama yang sulit bukan?. Tapi aku mengatakan luar biasa pada Suzane yang ternyata masih ingat namaku dan cara menucapnya cukup tepat juga. Kami berbincang-bincang cukup lam dengan topik pembicaraan yang banyak sekali. Seputar pernikahan Heba, kenangan hidup kami dahulu, tentang tanah air, tentang perkuliahan, tentang Imad, sepak bola Mesir, artis Mesir sampai tentang persoalan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri paginya.

    Berkali-kali aku dan kawanku harus tertawa terbahak-bahak ketika mendengar penuturan Mama yang lucu seperti seorang pelawak di televisi. Suatu ketika Mama mengatakan bahwa dirinya pernah kuliah di suatu Universitas, ketika kami ngobrol tentang perkliahan. Kami bertanya, di universitas mana Mama kuliah? Dia menjawab dengan enteng dan lucu. Ana kuliah fi kuliyatul manjil wal mathbakh! (Kuliah Rumah Tangga dan Dapur). Sepontan kami tertawa mendengar jawaban konyol itu, bahkan Heba dan Suzane ikut tertawa terbahak-bahak samapai memegangi perutnya. Luar biasa konyolnya orang Mesir.

    Lalu topik pembicaraan beralih ke artis-artis setelah kami berbincnag-bincang tentang sepak bola, khususnya Ahlawy (tim sepak bola Kairo) dan Zamalekawy (tim sepak bola Zamalek). Dalam hal ini kami ditanya pendukung yang mana antara tim sepak bola Mesir yang selalu melakukan petandingan dengan kemenangan bergantian itu. Lalu aku menjawab bahwa aku tidak mendukung siapa-siapa, keduanya adalah tim yang bagus. Pengakuanku ini aku kuatkan dengan mendedangkan lagu Nancy Agram berjudul Zamalek wal Ahly, sebuah lagu khusus untuk dua tim sepak bola terbesar di Mesir. Bahkan akhirnya aku bertanya apakah mereka kenal dengan Nancy Agram, mereka menjawab bahwa mereka sangat mengenal penyanyi pelarian Libanon itu. Lalu mereka menyebutkan sederetan nama-nama penyanyi yang sudah kueknal akrab, bahkan aku sampai hapal beberapa lagunya. Heba ternyata sangat suka dengan penyayi Libanon Elliza dan Suzane menyukai penyanyi Ashala Nashry asal Syiria. Lalu aku bislang bahwa aku suka penyanyi Mesir Sheren yang saat ini lagi hamil dua bulan. Mereka kaget mendengar pengakuanku itu. Ternyata mereka juga menyukai Sheren yang katanya suaranya sangat merdu. Lalu Heba bertanya apakah aku keal dengan penyanyi Heifa dan bagaimana pendapatku. Aku mengatakan bahwa penyanyi ini tidak begitu baik, karena kepopuleran Heifa bukan dari suara tapi goyangan mautnya, seperti Inul. Dan Heba manggut-manggut membetulkan pendapatku.

    Setelah lama kesana kemari bercerita, ternyata tidak terasa aku telah beridam di sana kurang lebih sekitar dua jam. Cukup lama untuk sekedar melepas rindu. Ketika kami ingin minta pamit, berkali-kali Mama masih ingin ngobrol dan masih merasa rindu kepada kami, tapi kami memaksa untuk pergi karena sudah terlalu lama kami di sana. Akhirnya kami pulang dengan puas dan buku yang akan kami kembalikan itu ternyata diberikan kepadaku sebagai hadiah. Senyum manis Heba dan Suzane mengawal kepulangan kami dengan hati gembira, karena sepertinya aku telah mendapatkan kehangat keluarga di Mesir. Kehangatan kelaurgaku yang sudah lama kuimpikan sejak aku tinggal di negeri orang ini. Senyum indah dan ramah itu tidak akan pernah terlupakan. Dan akhirnya semoga suatu saat aku bisa menyambung silaturahmi dengan keluarga itu seterunya, bahkan sampai nanti kepulanganku ke Indonesia.

    Baca Selanjutnya Bro..

    Saturday, September 29, 2007

    AKU TELAH MATI!


    AKU TELAH MATI!

    Sepi!. Ruang lingkupku terasa sepi saat ini. Entah mengapa tiba-tiba saja, akhir-akhir ini aku merasa bosan. Padahal, dihitung-hitung semua pekerjaanku sudah habis sejak tiga minggu yang lalu. Sebuah pekerjaan yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, makan tidak enak dan selalu membuatku selalu gelisah. Walaupun begitu, tidak ada rasa lega dan nikmat yang pernah kurasakan sebelumnya, ternyata pekerjaan itu telah usai, setelah setahun lamanya aku bekerja keras untuk menyelesaikaannya.

    Novel! Ya, sebuah novel tentang seorang pemuda Indonesia yang sedang mencari ibu dan adik-adiknya di Mesir telah kutamatkan pada awal September 2007. Bisa dikatakan novel pertamaku yang pernah kutulis sampai tamat, sebelumnya memang aku pernah menulis sebuah novel dengan judul Senyum Ratu Cleopatra, tapi novel itu tidak jadi kuteruskan karena ada beberapa kendala yang kuhadapi. Hingga aku mendapatkan sebuah ide baru pada awal tahun 2006 dan langsung kucoba untuk kutulis. Permulaan penulisan novel ke-duaku dengan judul Senja di Kornish Nil ini pada bulan September 2006 dan berakhir pada bulan September 2007. dengan kata lain pembuatan novel ke-dua ini membutuhkan waktu satu tahun, baik dalam pengolaan ide, mencari data dan menjeljahi setting novel.



    Entah mengapa tiba-tiba saja duniaku saat ini menjadi sebuah kata-kata tanpa titik. Hanya ada plot-plot tidak terduga di dalamnya. Dunia yang begitu luas, hampir sulit dijangkau batasnya. Dan entah mengapa aku sendiri merasa asyik dengan dunia kata-kataku ini?. Hingga saat ini aku masih meramu sebuah kata-kata menjadi sebuah kehidupan dengan titik-titiknya, hampir seperti Tuhan dengan kehidupan manusia dengan berbagai problemnya. Aku masih ingat, pernah suatu ketika ada seseorang mengatakan bahwa membuat cerita, baik cerpen dan novel adalah replika dari kehidupan manusia dengan Tuhan dibalik layarnya. Apakah aku sekarang sudah menjadi Tuhan-Tuhan kecil yang dengan rakus dan tamak mencoba bersaing dengan Tuhan yang Maha Mutlak?. Oh... aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan bahwa aku bukan Tuhan dengan segudang rahasia-Nya, aku adalah manusia ciptaan-Nya yang mencoba untuk mencatat kembali kehidupan-kehidupan manusia, bukan membuat kehidupan untuk manusia kembali, atau bahkan bersaing dengan-Nya.

    Saat ini, aku masih berada dalam kesesatan kata-kata. Tidak ubahnya seperti seekor kupu-kupu yang mungil tersesat dan terjerat jaring-jaring laba-laba. Kata-kata yang kubuat dari hasil imajinasiku yang liar, akhirnya membuatku menjadi manusia-manusia kerdil. Manusia-manusia yang tersesat oleh senjatanya sendiri dan manusia kerdil yang selalu dihina oleh sesamanya. Aku memang seorang raja di dalam novelku, tapi dalam kehidupanku sendiri aku adalah seorang budak. Aku memang seorang yang kaya raya dalam rangkain ceritaku sendiri, tapi aku nyatanya adalah seorang yang miskin sekali. Entah mengapa kehidupanku hanya berputar seperti seekor siput yang sedang berjalan, kadang-kadang ia harus berhenti atau mati sebelum tujuan perjalanannya sampai, atau dengan kata lain siput itu mati di tengah jalan.

    Dunia kata-kata dan imajinasiku membuatku semakin menjauh dari kehidupan realita, tapi mengapa aku malah menyukainya?. Hingga kesukaanku mengotak-ngatik kata-kata ini menjadi seseorang yang jarang keluar rumah dan akhirnya membuatku semakin tidak mengerti dengan kehidupan nyataku. Akhirnya dan akhirnya saat ini aku hidup di alam teka-teki, alam kata-kata dengan berjuta-juta huruf tanpa batas, sedangkan di dunia realita aku mati tanpa nama!. Menyakitkan sekali kehidupanku ini. Aku ingat benar ketika ada salah satu temanku berkata padaku; “Nga, entah mengapa saat ini aku merasa bukan aku yang sebenarnya, sepertinya aku bukan diriku yang dahulu?!!”. Perkataannya itu terngiang selalu di telingaku, hampir aku juga ingin berteriak dengan keras mengatakan kata-kata yang sama dengannya. Apakah saat ini aku bukan aku yang sesungguhnya? Atau aku saat ini telah mati dan menjadi manusia-manusia dungu dengan kebisuan dan teriakan kata-kata saja. Apakah jiwaku telah pergi dengan perginya kejantannanku?. Sungguh sial!. Jawaban itu tidak pernah bisa kujawab dan akhirnya aku hanya bisa mengira bahwa diriku telah mati, bukan hidup dengan wajah lainnya, seperti halnya yang pernah dikatakan oleh temanku ini. Begitu pun, aku tidak merasa sakit atau menangis karena aku telah mati. Aku malah bisa tertawa terbahak-bahak melihat diriku yang mati. Aku bahkan bisa memperolok-olok diriku sendiri, bahwa aku hanya seorang cacing dan tidak berguna!.

    Kalau aku dan temanku itu bisa kehilangan dirinya sendiri, apakah manusia-manusia yang lainnya tidak bisa sama denganku dan temanku itu?. Aku yakin bahwa hampir semua manusia pernah merasakan bahwa dirinya telah mati, entah apa sebabnya, yang penting mereka pernah kehilangan dirinya. Itulah manusia, manusia yang telah mati dan bisa melihat dirinya sendiri, bisa melihat semua perbuatanya dengan kedua matanya. Ia bisa tahu kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Hanya orang yang SOMBONG dan GILA yang tidak mau mengakui bahwa dirinya pernah mati. Hanya yang sudah MATI yang tidak pernha merasakan bahwa dirinya telah mati. Orang itu pasti orang MUNAFIK, yang selalu menganggap dirinya BENAR dan selalu hidup dengan segudang KESALAHANNYA. Dan akhirnya aku terlepas dari segala ikatan yang selama ini mengikat. Seperti sebuah kapas yang ringan, yang terbawa terbang oleh angin. Seperti itulah diriku saat ini. Walaupun aku masih hidup dalam dunia KATA-KATA!.





    Baca Selanjutnya Bro..

    MANUSIA DAN KATA-KATA

    MANUSIA DAN KATA-KATA

    Dari sekian banyak orang pintar di sekitar sini
    Aku paling bahagia melihat diriku sendiri
    Suaraku adalah satu-satunya yang aku cermati
    Dan wajah sata-satunya yang aku tatapi adalah wajahku sendiri.

    Penyari Roy Campbell (1901-1957)

    Dikala suara manusia saling beradu, seperti suara monyet-monyet mengiringi tidurku. Aku harus terbangun dengan seribu pertanyaan, termasuk ada apa dengan dunia ini?. Dunia yang sudah tua, yang dibebani dengan manusia yang semakin hari semakin angkuh. Apakah yang terjadi dengan dunia saat ini. Manusia dengan manusia saling menggigit, saling menyalahkan tidak mau mengalah. Mereka bercuit-cuit menyerukan kebenaran masing-masing, sebuah kebenaran dengan ketamakan tanpa batas. Apakah dunia sudah terlalu tua, ataukah manusia sudah terlalu GILA?. Mereka mengira bahwa merekalah yang BENAR, padahal kebenaran tidak pernah muncul dari manusia yang masih dipenuhi dengan kotoran-kotoran NAFSU. Alangkah indahnya jika seseorang sudah mampu minimal berkata seperti perkataan ROY CAMPBELL di atas, apalagi mengamalkannya.

    Kesesatan sebenarnya sudah menutupi hati nurani diri sendiri, sampai-sampai mereka tidak tahu diri sendiri, eksistensi diri sendiri. Manusia dibuat untuk hidup rukun saling berdampingan sesamanya, bukan saling menyakiti. Kenapa harus ada AKU dalam diri, jika AKU adalah DUSTA?. Kenapa harus ada KEKERASAN, jika jalan KASIH-SAYANG masih terbentang?. Lewat sebuah KATA dengan sudut berbeda, apakah tidak ada KOMA untuk saling berhubungan dengan kata CINTA. Apakah manusia tidak pernah melihat, bahwa kata-kata yang mereka ucapkan adalah berbeda-beda, tapi menyiratkan sebuah persatuan dengan maksud yang sama dan saling keterkaitan.

    Misalnya sebuah kata C, I, N, T,dan A adalah sebuah kata yang mempunyai ciri-ciri khusus dan segudang kesibukan sendiri. Tapi kata-kata itu akan tampak lebih indah dan bermakna kalau kita rangka atau disatukan menjadi CINTA. Alangkah indahnya kata-kata itu, lebih indah dari pada hanya sendiri-sendiri dengan jerit-jerit kesepian setiap hari. Apakah manusia tidak bisa menjadi KATA-KATA yang indah itu, bersatu-padu dalam satu tujuan tanpa mengolok-ngolok sesamanya?.




    Baca Selanjutnya Bro..

    Thursday, July 05, 2007

    Jaulah ke-3 dari Dilat


    Seperti biasanya, musim yang panas ini membuatku enggan untuk keluar rumah. Sejak diklat pertama dan ke-dua kemarin, aku harus hati-hati untuk menjaga badan ini, jangan terlalu tervorsir kekuatan tubuh ini, harus seimbang antara istirahat dan mengeluarkan tenaga. Hari ini aku tidak perlu tergesa-gesa, sebab jam diklat telah diundur setengah jam. Dari perjalanan rumah ke pasar Attaba dan dari metro Attaba ke metro Cairo University bisa memakan setengah jam-an, kali ini perjalananku hanya berdua saja, sebab teman yang lain tidak masuk karena ada beberapa urusan pribadi. Setelah nyampai di Cairo University, aku tidak langsung masuk kelas, tapi terlebih dahulu menunaikan shalat Dhuhur supaya tidak tergesa-gesa seperti hari-hari sebelumnya. Selesai shalat Dhuhur yang membuatku terasa nyaman, aku masuk kelas, di dalam sudah penuh dengan mahasiswa yang lainnya. Aku mendapatkan tempat duduk di tengah-tenagh, tidak di belakang lagi. Di depanku sekitar empat baris telah ditempati para mahasiswi, aku jadi berfikir kenapa mereka duduk di bangku mahasiswa, padahal mereka sudah ada tempat khusus dan masih banyak yang kosong. Sambil menanti Dr. Musa, pandanganku menyapu semua mahasiswa dan mahasiswi, di depanku antara mahasiswa dan mahasiswi duduk campur aduk, heran sekali hari ini. Baru dua puluh menit kemudian Dr. Musa datang, pertama-tama beliau minta maaf atas keterlambatannya itu, selanjutnya beliau meminta para mahasiswi yang sedang duduk di tempat duduk mahasiswa untuk pindah ke tempat aslinya. Entah berapa kali beliau meminta, tapi dasar mahasiswi-mahasiswi itu kayaknya bandel sehingga mereka tidak bangkit-bangkit dari tempat duduknya. Baru setelah para mahasiswa menyuruh mereka pindah, akhirnya mereka berdiri juga. Aku pun pindah ke depan di mana para mahasiswi tadi duduk.




    Dalam diklat ini Dr. Musa menjelaskan tentang ilmu Nahwu juga, tapi penjelasannya lebih enak di pahami, karena disamping beliau memakai bahasa Arab Fusha, juga cara menjelaskannya cukup jelas. Aku senang sekali dengan dosen yang satu ini, cukup puas aku bisa menghadiri diklat ini. Dua jam setengah terasa pendek sekali kurasakan, mungkin karena saking enaknya itu kali sehingga tidak terasa diklat sudah selesai begitu saja. Dalam perjalanan pulang itu, aku ingin mengambil beberapa fhoto di kampus dan di pasar Attaba, begitu juga di tempat Khan el-Khaliy. Tiba-tiba terselip suatu keinginan untuk fhoto-fhoto di Kornish Nil, alangkah indahnya seandainya aku bisa ke sana sore-sore. Setelah nyampai di rumah, sebelumnya aku shalat Ashar dulu di masjid al-Azhar. Di rumaha hanya bersitirahat sekitar satu jam-an, ada teman yang mengajak ke Tahrir untuk beli pakaian di pasar Kiwala Bala di samping Tahrir, ini namanya mau makan ikan Teri tanpa menangkap ikannya, tingggal memakan saja.

    Dalam perjalanan ke pasar Kiwala Bala itu aku dan teman-teman jalan-jalan di Kornish Nil untuk mendapatkan beberapa jepretan fhoto kenang-kenangan. Ternyata sore hari di jembatan Nil Tahrir lebih indah dari pada yang selama ini kubanyangkan, tua-muda Mesir tuplek-amblek menikmati senja di Nil, indah dan romantis sekali, alangkah indahnya bisa jalan-jalan bersama kekasih sendiri. Jarak anatara Kornish Nil Tahrir dengan pasar Kiwala Bala cukup jauh, sekitar dua kilo-an. Setelah sampai di sana, aku benar-benar kaget sekali, belum pernah aku melihat pasar pakaian yang sebesar ini di dalam hidupku, bahkan pasar pakaian di Attaba akayaknya kalah besar. Harga yang ditawarkan di sana cukup murah, sayang sekali aku tidak punya uang banyak, coba ada uang abnyak akan habis di sana. Setelah muter-muter dari sore sampai jam 12 malam, aku hanya bisa beli satu celana Jeans dan tiga baju dengan uang hanya lima puluh pound di tangan.

    Dalam perjalanan pulang itu, aku dan teman-teman hanya bisa berjalan kaki, karena untuk naik bis atau angkutan tidak ada yang tahu apa mobilnya, mau naik taksi kita ada lima orang, tidak mungkin taksi mau. Akhirnya perjalanan yang jauh itu kita tempuh juga, kaki seperti mau copot, padahal belum sampai rumah, baru nyampai Ramsis. Dari Ramsis aku dan teman naik metro ke Attaba, dari Attaba ke rumah berjalan kaki lg, alangkah capeknya hari ini. Dengan kaki hampir copot aku dan teman-teman sampai rumah, setelah shalat dan mandi aku langsung tertidur pulas, hingga mimpi i kasih uang seseorang. Pagi-pagi ternyata ada sms dari orang tua, aku dikirimin uang, oh... Tuhan memang tahu kalau aku sedang membutuhkan uang, Tuhan itu Mhaha Tahu dan Maha Adil, alhamdulillahirabbil ‘alamin.



    Baca Selanjutnya Bro..

    Diklat ke-2


    Hari itu Kairo benar-benar terbakar, kehidupan di sini sama seperti di gurun sahara yang tandus tanpa ada setetes air pun. Musim panas telah mencapai puncaknya, aku benar-benar kepanasan. Dengan mencoba untuk berniat yang baik, kulangkahkan kakiku keluar rumah dengan agak malas-malasan, hari itu benar-benar membuatku ingin di dalam rumah saja. Tapi niat baikku juga akhirnya mengalahkan segala nafsu dan ke-egoanku. Dengan panas yang menyengat sampai ke ubun-ubun, serasa seperti seluruh yang ada dalam kepalaku menjadi mendidih. Hari Minggu taggal 1 Jun2007 adalah hari ke-dua diklatku, aku tidak ingin menyia-nyiakan semua waktuku hanya untuk bermalas-malasan di rumah saja. Ala-ala seperti Fahri tokoh dalam novel Ayat-Ayat Cinta, pada musim panas yang seperti ini masih mau beraktifitas.



    Mungkin karena tadi malam aku ngelembur membaca, sehingga hari itu aku masih lemas, apalagi suhu saat itu menunjukkan pada peringkat teratas. Dengan langkah lemas aku dan teman-teman berusaha mengejar waktu, jam 1 siang tepat diklat akan dimulai, padahal saat aku baru mau naik metro bawah tanah, jam menunjukkan pada jam satu kurang seper empat. Karena kurang tidur sehingga bangunnya molor, kesiangan.

    Jam satu lebih seper empat aku dan teman-teman sampai di kampus Cairo University, ternyata benar-benar diklat telah dimulai, untung baru sebenatar. Coba kalau aku terlambat lama dikit, alangkah malunya diriku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku masuk kelas padahal semua mahasiswa sudah ada di dalam. Shalat jama’ah Dhuhur belum selesai, sebenarnya aku tidak senang kalau diklat ini dimulai pada jam 1 tepat, karena pada saat itu azan Dhuhur baru dikumandangkan, jadi mau tidak mau banyak teman-teman yang harus mengakhirkan shalat Dhuhur, termasuk diriku.

    Dr. Hugag Anwar menjelaskan tentang masalah nahwu-sharf –Gramatikal Bahasa Arab-. Pembahasannya cukup membuat orang harus berfikir mendalam, karena yang dibahasa saat itu hanya pada bab yang banyak tidak difahami oleh mahasiswa, mungkin karena ruwetnya gramatikal Arab. Mestinya ilmu Nahwu menjadi sebuah ilmu yang enak dan renyah dipelajari oleh seorang mahasiswa, akan tetapi saat itu ilmu Nhawu menjadi masalah yang cukup ruwet bagi para pelajar dan mahasiswa. Kenapa?, karena Dr. Hugag Anwar dalam penjelasannya tidak mengikuti metode pembelajaran ilmu Nhawu yang alami, metode yang disampaikan oelh para ulama-ulama Arab sebelumnya. Aku sendiri menjadi bingung dalam memahami penjelasannya, bahkan cara pandang Dr. Hugag berbeda dengan yang lainnya. Selama dua jam setengah itu, aku tidak banyak menyerap ilmu yang disampaikan oleh Dr. Hugag itu. Aku hanya bisa memastikan bahwa Dr. Hugag mencoba untuk mencari metode baru dalam pembelajaran dan penyampaian ilmu Nahwu yang sampai saat ini bisa dikatakan menjadi ilmu yang sulit di mengerti oleh sebagian pelajar dan mahasiswa, bahkan orang-orang Mesir pun merasakan kesulitan itu. Aku jadi ingat pengalamanku setahun yang lalu tentang ilmu Nahwu ini. Dulu sebelum aku pindah ke daerah Darrasah ini, aku sempat hidup di daerah Gamie’ yang padat penduduk Indonesianya. Pada suatu hari, ketika aku sedang pulang dari rumah teman dengan membawa sebuah buku Nahwu, dalam perjalanan pulang itu aku mencoba untuk mampir ke sebuah toko di depan rumahku untuk beli sesuatu. Ketika penjual itu melihat sebuah buku Nahwu yang kubawa, ia berkomentar bahwa ilmu Nahwu sangat sulit, bahkan lebih sulit dari ilmu Matematika. Mendengar ini aku hanya bisa tersenyum saja, selama ini aku banyak mendengar keluhan-keluhan seperti itu, jadi tidak begitu mengagetkanku.

    Ada kemungkinan Dr. Hugag ini mencoba sebuah metoide baru hasilnya sendiri, akan tetapi ia tidak tahu bahwa dengan metodenya ini ilmu Nhawu akan menjadi sulit. Aku jug sempat ingat dengan seorang penulis dan dosen sejarah Arab, namanya Dr. Syaoqi dhaoif, ia mengarang sebuah buku dengan judul Tajdidul Nahw – Metode Baru Ilmu Nhwu-. Buku itu mengupas tentang pembaruan terhadap ilmu Nahwu, baik dari segi dalamnya atau segi luarnya. Ketika mengingat Dr. Syaoqi ini, aku sempat merasakan adanya sebuah kemiripin ide untuk memperbarui metode ilmu Nahwu oleh Dr. Hugag.

    Sebelum selesai, seorang yang bertanggung jawab terhadap diklat ini memberi sebuah informasi yang sangat membahagiakan diriku. Orang itu mengubah jam mulai diklat yang biasanya dimulai pada jam 1 siang tepat menjadi jam 1:30, aku tahu apa yang terjadi sebelum ini, aku tahu bahwa sebelumnya banyak mahasiswa yang memprotes dan meminta pengunduran waktu itu, alasan mereka adalah karena waktu itu baru masuk Shalat Dhuhur, alangkah lebih baiknya kalau diklat dimulai pada saat para mahasiswanya selesai shalat Dhuhur. Selesai dilat, aku dan teman-teman tidak langsung pulang ke rumah, tapi jalan-jalan dulu mengitari pasar rakyat Attaba yang tidak ada batasnya itu, kepala terasa lebih berat dari sebelumnya, otak terasa panas sekali, ingin sekali aku pulang dan mandi.

    Selesai diklat, badan terasa capek sekali, kepala sakit. Sesampainya di rumah tidak kuat lagi badan ini untuk diajak bergerak, kepala rasanya benar-benar terbakar habis. Akhirnya kelelahan pun membuatku tidur lelap, 1 malam aku terbangun dari tidur lelapku, aku bermimpi pulang, indah sekali. Tapi kepala masih sakit, dengan langkah terhuyung-huyung aku berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan badanku. Ternyata perjalanan dari Cairo University ke rumah itu membuatku sakit. Hingga pagi-pagi kepalaku baru terasa ringan sekali, malam itu juga aku tidak bisa tidur, oh...alangkah hebatnya hidup di Mesir, ternyata memang benar apa yang dikatakan seniorku bahwa kehidupan yang paling enak adalah di Indonesia, di sana kita tidak akan pernah merasakan musim panas dan musim dingin yang dapat membekukan seluruh badan, termasuk otak, begitu juga dengan musim panas yang dapat mendidikan otak.




    Baca Selanjutnya Bro..

    Wednesday, June 27, 2007

    Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah I


    Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah I
    Pendidikan Kilat untuk Mengasa Keahlian Bahasa Arab)



    Rasa bahagia yang ada pada diri ini tidak bisa kuungkapkan dalam bentuk apapun, bahkan kata-kata pun tidak bisa untuk merangkai rasa bahagia yang kurasakan saat ini. Sudah lama sekali aku kagum pada Universitas Cairo Mesir, salah satu universitas di Mesir yang banyak telah mencetrak kader-kader bangsa yang berintelektual, mungkin dalam segi pembelajaran keagamaannya tidak sebagus Universitas al-Azhar sebagai satu-satunya universitas di Mesir yang berbasis agama Islam dan termasuk universitas tertua di dunia setelah Universitas Oxford di Inggris. Sejak lama ingin sekali hati ini untuk belajar di sana, tapi tidak mungkin bisa tercapai keinginan besar ini, dari segi uang tidak akan mampu membayar pembayaran yang begitu besar, begitu juga dari segi keahlian bahasa yang begitu rendah. Tapi kemarin hari Sabtu tanggal 24 Mei 2007 aku bersama tiga teman mendaftarkan diri untuk mengikuti Dauroh El-Lughatul Al-Arabiah (Pendidikan Kilat untuk Mengasa Keahlian Bahasa Arab). Diklat (Pendidikan Kilat) ini bekerja sama antara Cairo University dengan The King Abdel Aziz Babthin dalam hal karya sastra dan pendalaman syair Arab. Diklat ini diberikan untuk para pelajar di Mesir sebagai pelajaran untuk pembuatan karya sastra dan pendalaman syair secara gratis.

    Mungkin diantara tujuan diklat ini adalah supaya para pelajar Arab mampu membuat karya sastra (syair) dan dapat mendalaminya, karena sejak akhir beberapa tahun ini karya sastra Arab dalam bentuk syair mulai turun, kebanyakan orang Arab sudah beralih ke syair modern yang sudah mengindahkan qawafi-aturan syair-. Maka dari sini raja Saudi Arabia memberi biaya untuk memberi pelajaran secara singkat tentang dunia keahlian membuat syair dan membenarkan kesalahan-kesalahan bahasa Arab yang saat ini banyak terjadi pada kalangan orang-orang Arab. Diktat yang diberikan oleh Cairo University dan King Abdel Aziz ada dua bentuk, yang pertama adalah keahlian berbahasa Arab Fusha dan keahlian Arudhiah atau ilmu yang menerangkan kaidah-kaidah dalam pembuatan syair Arab dan musik-musik yang dikeluarkan oleh syair-syair itu. Ilmu Arudh diciptakan oleh Khalil bin Ahmad (100-170 H), sedangkan kata Arudh diambil dari salah satu nama Saudi Arabia, ilmu ini dinamakan Arudh karena Khalil bin Ahmad ingin supaya ilmu ini bisa memberi berkah kepada siapa saja yang menpelajari dan mendalaminya. Di dalam ilmu Arudh dijelaskan kaidah-kaidah dasar sebuah syair Arab dan lagu-lagu yang dikeluarkan oleh syair tersebut, seperti Bahr Rajaz ¬(lagu Rajaz) yang syairnya selalu berbentuk sedikit, lagunya tampak ringan dan lincah, karena biasanya orang Arab melagukan syair dalam bentuk lagu Rajaz untuk menggembalakan kambing, sehingga lagu-lagunya selalu lincah selincah larinya kambing-kambing.

    Dari dua macam diklat itu, saya mengambil diklat keahliah bahasa Arab-nya, saya ingin memiliki keahlian dalam hal kebahasaannya. Baru tanggal 26 Mei 2007 saya dan teman-teman mengikuti diklat yang pertama, ternyata anak Indonesia yang mengikuti tidak begitu banyak, bisa dihitung. Yang mengikuti diklat ini luar biasa banyaknya, kalau diitung-itung ada sekitar 200 mahasisiwa, mahasiswa-mahasiswi tumplek-amblek jadi satu dalam ruangan yang cukup besar itu. Untuk mahasisiwa menempati deretan bangku sebelah kiri dan untuk mahasisiwinya menempati deretan sebelah kanan. Dalam perteman pertama ini saya dan temen-temen terlambat masuk sekitar setengah jam-an, saya mendapatkan bangku dibelakang mahasiswi yang ada pada belakang sendiri, rasanya malu dan gerogi menyerang diriku. Selama sekolah di Mesir, saya sendiri belum pernah belajar dalam satu ruangan dengan mahasiswi, apalagi mahasisiwi Mesir yang membuat merinding. Dalam sepuluh menit itu, saya tidak bisa konsentrasi mendengarkan penjelasan dari Dr. Ibrahim Dhouah, rasa grogi dan malu masih membuatku tidak tenang. Akhirnya lama-kelamaan rasa itu hilang bersamaan dengan enaknya penjelasan yang dibawa oleh Dr. Ibrahim. Dr. Ibrahim menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan kebahasaan yang ada pada nas-nas syair dan beberapa naskah pers. Penjelasannya hanya gelobal saja, untuk penjelasan secara mendetail akan diterangkan pada pertemuan mendatang. Diklat yang akan memakan waktu sekitar tiga bulan ini akan dibawakan oleh dosen-dosen yang sudah pakar dalam bidang kebahasaan dan kesusasteraan.




    Yang membuatku tahjub dan senang adalah kecakapan dan keaktifan dari para mahasiswa Cairo University Mesir yang mengikuti diklat ini, keaktifan seperti ini jarang saya lihat pada mahasiswa al-Azhar, setiap saya mengikuti pelajaran di kelas dan beberapa diklat seperti ini di al-Azhar, jarang sekali melihat mahasiswa yang aktif. Dari sini saya bisa melihat keunggulan mahasiswa dan manajemen pendidikan yang diberikan oleh universitas Cairo. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Cairo Universitas adalah tempat para mahasiswa yang aktif, kreatif dan sensitif, sedangkan al-Azhar University adalah tempat para pelajar yang tawadhu’. Dari sekelumit pengalaman ini juga saya bisa sedikit membenarkan kata-kata Dr. Thaha Husyan selaku mantan menteri pendidikan Mesir beberapa tahun silam, Dr. Thaha mengatakan bahwa al-Azhar terlalu mengungkung para mahasiswanya sehingga tidak bisa maju ke permukaan, hanya para syaikhnya saja yang maju digaris terdepan. Sedangkan Cairo University selalu menjunjung kebebasan (bukan pergaulan bebas) mahasiswanya dan mendukung mereka untuk maju digaris terdepan, sedangkan para dosennya hanya dibelakang mereka sebagai penggerak dan peneliti. Perbedaan anatara kedua universitas ini sangat mencolok sekali, bahkan saya merasakan apa yang dikatakan oleh Dr. Thaha setelah merasakan pendidikan kedua universitas ini, walaupun baru sebentar.

    Dr. Ibrahim mengatakan bahwa kesalahan yang sering terjadi pada koran-koran, syair, danmajalah-majalah adalah karena telah tercemari oleh bahasa ‘Amiyah (bahasa pasaran), bahasa ‘Amiyah Mesir sangat merusak bahasa Arab Fusha (pemersatu atau fasih). Pendapat seperti ini pernah saya dengar juga dari Dr. Hani Muhammad Mahdi dalam diklatnya setahun yang lalu, walaupun bahasa Arab ‘Amiyah Mesir masih tergolong bahasa yang paling dekat dengan bahasa Arab aslinya. Memang bahasa Arab ‘Amiyah Mesir adalah bahasa yang paling dekaty dengan bahasa aslinya, bahasa Arab Fusha. Hanya saja dialek yang digunakan oleh orang-orang Mesir berbeda jauh dengan bahasa aslinya, begitu juga denagn susunan kaidah-kaidahnya sangat berbeda dengan bahasa aslinya. Walaupun dekat tapi tetap jauh, kedekatan bahasa Arab ‘Amiyah dengan bahasa Arab Fusha hanya dilihat dari segi kata-katanya saja, bukan dari segi susunan dan dialektikalnya. Kalau kita mau mendengar dengan jelas, bahasa Arab ‘Amiyah yang ada di Mesir sebenarnya terbagi menjadi dua , yaitu bahasa Arab ‘Amiyah Selatan dan Utara, kedua bahasa ini pun berbeda dalam segi dialektikal.

    Dua jam diklat berlangsung, selama dua jam itu Dr. Ibrahim hanya memperlihatkan kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa saja, tanpa memberi penjelasan secara mendetai, untuk penjelasannya akan disampaikan dalam pertemuan selanjutnya. Diklat ini akan berlangsung selama tiga bulan dan akan diadakan ujian diakhir pertemuan, bagi para mahasiswa yang ikut akan diberi syahadah (ijazah) dari Universitas Cairo dan The King Abdel Aziz Saudi Babthin. Setelah selesai diklat ini juga, The King Abdel Aziz akan mengadakan perlombaan pembuatan sayair dengan hadiah yang cukup besar. Selesai diklat, saya dan teman-teman jalan-jalan melihat-lihat gedung Cairo University. Dalam perjalanan keliling-keliling itu sempat beberapa kali hati saya harus berdebar-debar kencang, rasa tahjub, bangga, senang, dan malu cempur aduk semua. Dari mulai gedung, ternyata Cairo University mempunyai kesamaan dengan universitas-universitas yang lainnya, bangunannya cukup tua kecoklat-coklatan dan besar-besar. Bangunan yang mengingatkanku pada bentuk arsitektur bangunan kuno Yunani dan Romawi itu membuatku semakin suka, apalagi ketika kulihat sebuah monumen yang dipinggirnya melekat jam dalam ukuran yang besar sekali, luar biasa hebatnya.

    Dari segi luasnya, Universitas Cairo tidak kalah dengan Universitas al-Azhar pada fakultas umumnya, sedangkan dari segi kebersihan pun cukup membuat bangga dan senang orang yang datang menjenguknya. Di dalamnya dihiasi dengan berbagai tumbuhan dan pohon yang hijauh dan segar, di bawah pohon-pohon besar dengan daunnya yang hijauh dan rindang dipasangi beberapa bangku untuk beristirahat. Belum lagi ada beberapa Kantin di dalamnya, walaupun kecil tapi makanan dan minuman yang disajikan cukup elit juga, ini menambah nilai plusnya. Taman yang ada di dalam Universitas Cairo juga dijaga dengan baqik, dipinggirannya dipasangi juga beberapa bangku untuk beristirahat dan belajar bagi para mahasiswa. Yang membuat hati-hati iniberdebar-debar adalah disetiap bangku di bawa pohon dan taman itu duduk beberapa mahasiswa dan mahasiswi, kebanyakan berkelompok, ada juga yang berduaan saja. Sepertinya mereka habis belajar dan mendiskusikan sesuatu, atau hanya sekedar bercanda bersama teman-temannya. Hatiku bertambah berdebar-debar ketika ada beberapa mahasiswi yang sedang duduk itu melihat dengan matanya yang indah kepada kami, sepertinya mereka agak kaget dengan kehadiran kami di situ, atau mungkin sepertinya mereka ingin mengajak kenalan kami. Karena setahu saya hanya ada beberapa orang Indonesia saja yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di sana, sehingga kehadiran kami di sana membuat mereka bertanya-tanya.

    Untuk menutupi betapa geroginya diri ini, saya hanya pasang senyum ke sana ke mari sambil mengalihkan pandangan ke arah lainnya. Pengalaman sekelumit ini akan menjadi pengalaman yang menggembirakan buatku, walaupun hanya bisa belajar di Cairo University tiga bulan saja, ini pun cukup memuaskan hati untuk melegahkan rasa penasarnku pada Universitas favorit ini. Dari jalan-jalan ini saya banyak mendapatkan inspirasi, semoga novel yang masih saya kerjakan ini segera selesai, karena kebanyakan setting yang ada pada novelku ini ada pada Cairo University. Semoga Allah mengabulkan do’a dan keinginanku ini, amin.

    Bathniyyah, 26 Mei 2007



    Baca Selanjutnya Bro..

    Monday, March 26, 2007

    Catatan Akhir di Gamalea



    Kisah hidup di Gamalea memang penuh dengan kisah menyenangkan, di sana aku bisa merasakan ketinggian budaya Mesir. Dari sana aku mendapatkan banyak kenangan, baik manis atau pahit. Dari sana juga aku jadi tahu, bahwa novelis besar Naguib Mahfouz Rahimahumullah memang benar-benar novelis realis, aku mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar novelis yang hebat. Mungkin dalam sejarah kenovelan belum pernah ditemukan sosok seorang novelis kedua setelah Naguib.

    Kisah hidup di Gamalea memang penuh dengan kisah menyenangkan, di sana aku bisa merasakan ketinggian budaya Mesir. Dari sana aku mendapatkan banyak kenangan, baik manis atau pahit. Dari sana juga aku jadi tahu, bahwa novelis besar Naguib Mahfouz Rahimahumullah memang benar-benar novelis realis, aku mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar novelis yang hebat. Mungkin dalam sejarah kenovelan belum pernah ditemukan sosok seorang novelis kedua setelah Naguib.


    Gamalea telah banyak mengajariku tentang kehidupan, tentang arti kehidupan ini. Bagiku kehiupan adalah sebuah novel terpanjang, yang di dalamnya kita bisa menemukan semuanya dan memungkin segala sesuatu untuk berubah begitu saja sesuai dengan jalan ceritanya.

    Seperti diriku saat ini, aku hidup di daerah Gamalea hanya sekitar tiga bulan. Padahal sejujurnya aku ingin sekali berada di sana sampai belajarku tuntas. Di sana aku bisa belajar melihat kultur budaya Mesir yang tinggi, bisa hidup dengan manusia-manusia yang berbeda dengan lainnya, di sana ada jutaan manusia yang berbeda-beda watak dan karakteristik, sangat unik sekali. Di sana pengalamanku semakin bertambah, ide yang kudapatkan mengalir deras dan bahan untuk tulisan tidak pernah habis.


    Naguib memang tidak salah menempati tempat di sana, semua jalan cerita yang ada pada novel-novelnya benar-benar bisa kutemukan di Gamalea. Luar biasa. Aku juga jadi tahu bahwa di sana masih ada orang yang buta huruf, aku kira di kota Kairo ini tidak akan pernah ditemukan seorang pun yang buta huruf, ternyata di Gamalea yang dekat dengan Khan el-khalily dan al-Azhar Area itu terdapat banyak orang yang buta huruf. Padahal di sana ada berjuta-juta manusia yang hebat, yang menarik lagi adalah hampir penduduk Gamalea menguasai bahasa Inggris, walaupun itu hanya sekedarnya. Aku sering disapa dengan menggunakan bahasa Inggris, hingga anak kecil yang baru berumur sekitar lima tahunan sudah mampu ngomong dengan menggunakan bahasa Inggris, bahasanya bagus lagi.

    Di apartemenku ada seorang anak kecil yang baru berumur sekitar lima tahunan, setiap ia bertemu denganku, ia selalu berucapa "Hallo, i love you", dengan bahasa yang renyah dan enak didengar, aku geli sekali mendengarnya. Aku pun menjawab dan mengajaknya bicara dengan sekedarnya, ternyata ia mampu mengimbangiku, benar-benar gadis cilik yang hebat.

    Itu semua hanya bagian kisahku di Gamalea saja, untuk yang lainnya mungkin aku akan mengabadikannya lewat sebuha novel atau hanya sekedar catatan harian. Sejak hidup di sana, aku memang jarang menyentuh inmternet, makanya ceritaku tidak mampu kutulis dan kupasang di blog (maaf bagi teman-teman yang lagi menuggu). Hari ini aku ingin menuangkan semuanya di sini, mumpung ada kesempatan.

    Sekarang langsung saja aku akan mengisahkan perpisahanku dengan mama dan anak-anknya (tuan rumah). Setelah sekitar satu bulan aku dan temen-temen muter-muter untuk mencari rumah kos baru, akhirnya pencarianku membawa hasil, aku dan temen-temen mendapatkan rumah kos baru di daerah yang bernama Bathniyyah di belakang masjid al-Azhar, cukup enak dan strategis. Kami pindah rumah karena memang teman-teman sudah malas jalan dari Gamelai ke Kampus, jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Kita ingin mencari rumah yang dekat dengan Kampus dan lebih besar, rumah yang kami tempati di Gamalea itu cukup sesak juga, tidak cocok untuk kehidupan seorang mahasiswa.

    Di malam perpisah kami dengan tuan rumah di Gamalea, kami harus menitikkan air mata, sedih sekali. Terus terang saja, belum pernah aku menemukan tuan rumah yang begitu baik daripadanya. Kehidupan mereka cukup harmonis, supel dan menyenangkan. Hingga malam itu kami bertiga meminta izin untuk pergi dari rumah itu, kami disuruh masuk dan disuguhi dengan minuman. Di dalam rumahnya hanya ada mama dan anak-anknya Hebah, Suzan dan Hamid. Suaminya lagi keluar. Ketika kami ngomong mau pergi, mereka semuanya kaget, karena selama ini kami belum pernah mengatakan akan pergi.

    Mama mendengar ini pun nangis, terlihat matanya langsung merah dan suaranya serak seklai, begitupun Suzan yang cantik dan imut-imut tak mau kalah dengan ibunya, mbaknya Hebah juga begitu. Untuk menengkan kekagetan mereka, aku harus mengalihkan pembicaraanku dari mulai menanyakan kabar satu persatu, tentang kabar sekolah Hamid dan Suzan juga. Dalam pembicaraanku dengan mereka, aku tahu bahwa Hamid termasuk orang yang cukup terpelajar juga, ia dapat mengikuti kabar-kabar terbaru, sedangkan Suzan diam tidak mengikuti arah pembicaraan kita. Ia hanya sesekali tanya ke mabaknya Hebah yang cukup pintar juga. Sebenarnya Suzan mempunyai tampang yang cantik, tapi agak kurang baik dalam segi pengetahuan saja. Tema yang kami bicarakan waktu itu adalah tentang gempa di Aceh dan Jawa, juga tentang Naguib Mahfoz, dan tentang bahasa ‘amiyah (pasaran) Mesir dan bahasa Indonesia.

    Setelah agak lama, kami akhirnya bisa mnetralisir keadaan, dari kesedihan menjadi kelakar yang menyenangkan. Lucunya, temanku ada yang mengatakan kepada mereka bahwa aku adalah penulis, aku bisa menulis novel, cerpen dan puisi. Hingga Suzan berkata, "Apa benar kamu bisa menulis puisi?"
    "Coba buatkan puisi untukku"mintanya padaku, semuanya diam.
    "Wah, aku hanya bsia membuat puisi berbahasa Indonesia, puisi dalam bahasa Arab sangat sulit"kayaku padanya.
    Ia juga menanyakan cita-citaku, aku menjawabnya bahwa cita-citaku adalah bisa mengabdikan diriku untuk masyarakat Indonesia, baik dengan wasilh tulisan atau lainnya. Aku juga bercerita bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir ketika pulang akan menjadi seorang guru, itu minim-minimnya.

    Selanjutnya aku mengalihkan tema perbincangan kita ke Naguib Mahfouz, ternyata mama adalah orang yang bisa diajak bediskusi, ia mengenal dan mengatakan kepada kami.
    "Ia orang yang besar dan mulia"katanya setelah menceritakan sedikit tentang Naguib.
    "Banyak karyanya yang kita baca di sekolah"kata Hamid tidak mau kalah dengan ibunya.
    Dari tema Naguib, kita alihkan ke bahasa amiyyah dan bahasa Indonesia. Dari mulut mama aku mendapatkan banyak mufradat bahasa amiyyah Mesir. Ketika membicarakan bahasa Indonesia dan tentang bangsa Indonesia, mereka mendengarkan dengan seksama, seperti seorang guru menerangkan materi pelajarannya ke murudnya, seperti itulah kami menerangkan tentang keindonesiaan. Dalam akhir perbincangan kami dengan mereka, aku menanyakan kepada mereka untuk jalan-jalan ke Indonesia.
    "Ngak mau, di sini enak"kata Suzan ketika kami tanya apakah ia mau diajak ke Indonesia.
    Semunaya tertawa dengan jawaban Suzan, memang negara Mesir adalah negara yang enak, indah dan asyik. Kata orang-orang Mesir, Mesir adalah syurga dunia. Perkataan itu memang agak bernada sombong dan mau menang sendir, tapi jiga kita pernah hidup di Mesri, maka akita akan dapat merasakan apa yang dikatakan orang-orang Mesir itu, memang benar dan di dalamnya banyak bidadari-bidadari yang membuat kita lupa segalanya.

    Akhirnya kami diizini untuk peergi walaupun dengan berat hati, tapi sebelum kami kembali ke flat kami. Mama bepesan bahwa jika kami ingin kembali lagi, mereka mempersilahkan. Sekarang kami hidup di Bathniyyah dengan kebiasaan yang berbeda,dan kebudayaan yang berbeda pula, walaupun jarak antara Gamalea dengan Bathniyya hanya sekitar limja kilo-an, tapi perbedaan kebudayaan sangat berbeda dan dapat kurasakan perbedaan itu. Kalau di Gamalea, suasannya bising dan keras, sedangkan di Bathniyyah suasananya tenang dan enak untuk belajar, lagi dekat dengan univesitas al-Azhar.


    Puisi Untuk Suzan


    Bulu mata lentik berseri
    Bagai rumput panjang di pagi hari
    Sepasang alis hitam kecil melengkung
    Menggeliat-liat malas di kedua ujung
    Bibir merah basah menantang
    Bentuk indah gendewa terpentang
    Hangat lembut mulut juwita
    Sarang madu sari puspita
    Senyum dikulum bibir gemetar
    Tersingkap mutiara indah berjajar
    Segar sedap lekuk di pipi
    Mengawal suara merdu sang dewi!



    Puisi Untuk Gamalea


    Kekosongan tiba
    Saat meninngalkanmu wahai Gamalea
    Di sana kudapat berjuta rasa
    Kisah penuh kebudayaan buatan para dewa
    Di sana kujadi dewasa
    Matang dalam berfikir dan asa
    Cita-cita juga tampak jelas di mata
    Gamalea...
    Berjuta-juta bidadari menari di sana
    Bersama lantunan ramai anak bangsa
    Di sana Naguib mengabadikan rasa
    Dari sana Taufiq Hakim belajar bahasa
    Juga mengajarkannya untuk anak bangsa
    Di sana para mufti berfatwa
    Di sana ilmu memancar dari dua menara
    Gamalea...
    Realis dan tampak ceria
    Dengan Khan el-Khalili dan masjid Hussainnya
    Juga kebudayaannya
    Gamalea...
    Di dalamnya penuh misteri
    Dari perabotan cantik sampai anak dekil kecil

    Kumengenalmu karena agungmu
    Kumengertimu karena hidup di dalammu
    Kumenyanjungmu karena ada Naguib besarmu
    Di sana ada ceritaku yang tidak pernah habis
    Walau umur terus terkikis
    Gamalea...
    Tempat kisah, budaya, ilmu dan mengertiku
    Baca Selanjutnya Bro..

    Saturday, November 25, 2006

    Gamaliah ke-III

    Apartemen-apartemen itu masih menancap kuat. Bersamaan dengan waktu yang selalu berjalan ke depan tanpa mau menengok atau berhenti di tengah-tengah jalan. Bau tidak enak menyebar hampir di seluruh kawasan ini, ketuaan kawasan Gamaliah tidak pernah membuatnya kesepian, hampir puluhan ribu, bahkan mungkin jutaan orang berlalu-lalang dan bertempat di tengah-tengahnya. Salah satunya aku yang sudah sekitar dua bulan setengah bertempat di kota lama ini, atau kota novelis besar Mesir Naguib Mahfouz (1911-2006). Beliau dilahirkan di kota ini, kota yang saat ini kutempati.

    Setiap kuberjalan melewati bangunan yang sudah berumur ribuan tahun ini, setiap kumenelusuri lorong-lorong sempit, setiap kumelihat anak-anak kecil Gamaliah yang sedang bermain bersama dengan teman-temannya atau mereka anak-anak kecil Gamaliah yang baru saja pulang dari sekolah, di situlah kumerasa melihat bagaimana Naguib kecil hidup, mungkin seperti itulah novelis besar itu hidup pada masa kecilnya. Mereka berlaria-larian atau kadang-kadang bermain sepak bola. Kadang-kadang aku tak terasa tersenyum sendirian, bagaimana mungkin seorang Naguib kecil yang hidup di sebuah daerah yang tua penuh debu dan kotoran seperti itu bisa membuahkan sebuah karya yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang-orang. Di sini memang kehidupannya sangat menyenangkan, aku bisa merasakan bagaimana Naguib kecil bermain dan belajar, aku juga bisa merasakan bagaimana kebudayaan khilafah Fatimiyyin mulai dibangun dan mendapatkan masa keemasannya.
    Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
    Pernah suatu kali temanku kuajak mampir ke flatku ini, ia kuajak menelusuri lorong-lorong yang lusuh dan berdebu, bahkan baunya tidak enak. Ketika ia mulai masuk ke tempat ini, ia kaget, bahkan ia bertanya kepadaku "bagaimana kamu bisa hidup dan bertahan di tempat ini?" aku tidak pernah menjawabnya. Aku hanya memberi jalan supaya ia mau menjawab dirinya sendiri. Ia berpendapat, bahwa kota Gamaliah adalah kota terburuk di Mesir, kota terkumuh dan terkotor di Mesir. Mungkin mereka banyak berpendapat seperti itu, aku tidak pernah menyalahkan pendapat mereka, kenapa? Ya...karena mungkin setiap pendapat tidak akan pernah mempunyai kebenaran yang mutlak. Aku mungkin berpendapat yang berbeda dengan mereka, aku berpendapat bahwa kota Gamaliah adalah kota terindah dan terbaik di seluruh Mesir ini, baik dari awal pembangunannya sampai saat ini. Di sini setelah aku hidup sekian lama itu, aku bisa melihat miniatur dari kehidupan seluruh orang Mesir, bahkan semua kehidupan orang di seluruh dunia. Dari mulai anak kecil sampai tua, dari laki-laki sampai wanita, dari pekerjaannya sampai bagaimana mereka tidur. Luar biasa sekali, budaya yang jarang sekali kita temui di tempat lainnya di seluruh negeri ini.

    Dari kota ini saja, Naguib Mahfouz bisa membuat dua buah novel yang bersetting di Gamaliah sendiri, seperti Khan El Khalily yang menceritakan tentang hari dan malam-malam di bulan Ramdhan di kota Gamaliah dan sekitarnya termasuk Husain dan masjidnya. Yang kedua adalah Lorong Mida (Ziqaqul Midaq) yang menceritakan lorong-lorong jalan yang ada di Gamaliah, lorong-lorong yang diapit oleh apartemen-apartemen yang sudah tua, bahkan mau runtuh. Lorong-lorong di Gamaliah tidak pernah ada akhirnya, ia bercabang-cabang dan sempit, unik dan berbahaya sekali, karena sekali anda tersesat, mungkin anda tidak akan pernah bisa kembali lagi.

    Sampai sekarang, entah sudah berapa kali aku melewati lorong-lorong itu, aku pernah mencoba untuk melewati sebuah lorong yang belum pernah kukenal sama sekali, akibatnya aku harus kembali lagi, karena aku tersesat entah ke mana. Sangat menakutkan sekali, apalagi ketika malam hari, di sana ada puluhan anjing liar yang sedang tertidur atau mengorek-ngorek sampah untuk mendapatkan makanan. Sekali anda lewat tanpa teman atau membawa kayu, anjing-anjing itu akan mengejar anda, karena merasa kawasannya telah dilewati. Belum lagi ketemu dengan pemuda-pemuda yang nakal, wah...anda bisa pulang tanpa pakaian sama sekali. Lorong-lorong yang mengerikan sekali.
    Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
    Aku berharap sekali dari hidup di kota Naguib ini, aku bisa mendapatkan sebuah pengalaman hidup dan dapat mengenal kebudayaan di Mesir. Aku memang suka berpetualang, suka dengan hal-hal yang sukar dan menegangkan. Sampai sat ini, aku sudah sering mengunjungi tempat-tempat pariwisata dan kota-kota yang sudah dianggap hilang, itupun harus lihat kantong dulu, apa sedang tebal atau kering. Seperti satu bulan kemarin, ketika selesai Idul Fitri, aku sebenarnya tidak ada niat untuk kemana-mana, waktu itu ada teman yang mengajakku ke Piramid, sebenarnya sudah sejak pertama kali aku berkeinginan sekali untuk melihat dari dekat salah satu bangunan dari tujuh keajaiban dunia itu. Tapi aku selalu tidak ada kesempatan, baru pada waktu itulah aku mulai mengunjungi bangunan bersejarah itu. Ternyata tiket untuk masuk ke Piramid itu tidak semahal yang kubayangkan dahulu, hanya 20 pound untuk pelajar, sedangkan 50 pound untuk Turis dan pelancong, untuk orang Mesir sendiri hanya 5 pound. Di sana aku bisa mendapatkan banyak pengalaman dan bisa mengenal kebudayaan orang lain. Aku sempat membayangkan bagaimana orang-orang Mesir membuat Piramid sebesar itu. Aku juga membayangkan bagaimana seandainya aku bisa ketemu dengan Dr. Zahi Hawas, ia seorang arkeolog (ahli purbakala) Mesir yang diberi tanggung jawab untuk meneliti, mengatur dan merawat semua hal yang berhubungan dengan keperpubakalaan. Bahkan namanya terkenal di dunia arkeolog Eropa, seperti Prancis, Amerika Serikat dan Inggris.

    Tidak lama kemudian, sekitar dua hari kemudian aku bersama teman-teman serumah pergi jalan-jalan kembali ke Madinatul Qanathir, kota ini termasuk kota parawisata di Mesir. Untuk pergi ke kota itu bisa ditempuh dengan dua jalan, yang pertama lewat darat dengan menggunakan bis dari Tahrir atau Ramsis. Yang ke dua lewat sungai, bisa menggunakan kapal angkutan lewat sungai Nil. Jalan ke dua itulah yang sedang kugunakan waktu itu, karcis yang digunakan sebesar 5 pound, waktu yang ditempuh dalam perjalanan ini sekitar 2-3 jam. Untuk masuk ke kapalnya, kami harus antri bersabar dan diperiksa oleh petugas, karena tidak semua orang diperbolehkan masuk ke kapal, hanya orang-orang yang membawa keluarganya saja yang boleh masuk ke kapal. Mereka yang mau berduaan saja tidak boleh masuk ke kapal, kecuali mereka yang sudah bertunangan dengan membawa cincin atau surat dari orang tua mereka. Ditengah perjalanan antara Tahrir ke Qanathir itu, aku melihat keindahan sungai yang terawat rapi, burung-burung semacam Bangau hidup di pinggir-pinggir sungai Nil, atau kadang-kadang mereka membuat sarang di tengah-tengah sungai yang berumput tenggi.
    Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
    Yang paling menakjubkan adalah suguhan live-ya, di atas perahu angkutan itu, aku melihat anak kecil berumur sekitar 16 tahunan sedang menari dengan diiringi tepuk tangan dari orang tua dan keluarganya. Pinggul digoyang sampai hampir mau patah, belum pernah dalam hidupku di Mesir ini melihat tari perut live seperti itu. Beberapa menit kemudian kakak perempuannya yang sudah berumur sekitar 20-an bergoyang menggantikan adiknya, tapi goyangan kakaknya ini tidak seberani goyangan adiknya tadi, walaupun goyangannya tidak kalah indahnya juga. Kami menikmati semua sajian seperti itu di kapal yang membawa kami ke Qanathir. Untuk mengisi waktu yang kosong, aku bersama teman-teman berfoto bersama pemuda-pemudi Mesir yang ada di samping kami.

    Dua jam kemudian kapal berhenti di sebuah terminal Qanathir, hari itu pengunjung banyak sekali, jalan-jalan dipadati orang-orang yang sedang melakukan rekreasi liburan Hari Raya. Yang paling banyak adalah muda-mudinya. Lagu remix dari kafe-kafe di pinggir-pinggir jalan terdengar keras sekali, muda-mudi berjoget ria di dalamnya dengan penyanyi seorang laki-laki muda. Untuk masuk ke kafe-kafe itu kita hanya dipungut biaya 1 pound, itu belum makanan dan minumnya, itu hanya tiket masuknya saja. Sebenarnya hari itu aku bersama teman-teman mau mancing ikan di bendungannya, tapi itu tidak jadi kami lakukan karena kami melihat tidak ada yang memancing di sana. Kalau hari-hari biasa mungkin banyak sekali orang-orang yang sedang mancing ikan di bendungannya. Setelah Ashar kemudian kami pulang, tapi sebelum kami pulang kami akan mampir ke rumah teman kami yang ada di Madinatul Qanathir, dengan tempat pariwisata itu. Dalam perjalanan itulah aku terkejut bukan main, karena aku melihat keindahan yang luar biasa, aku melihat keindahan sungai Nil di waktu sore di atas jalan yang di bangun di atas sungai Nil. Sayang kamera yang kupegang baterainya sedang habis, jadi aku tidak bisa memotretnya. Suasananya cukup indah dan membuat orang menjadi bengong. Pengalaman-pengalaman berharga seperti itu muncul begitu saja tanpa terkirakan. Mungkin suatu saat aku akan pergi ke Qanathir lagi, aku masih belum puas untuk menjelajahinya.

    24 November 2006
    Baca Selanjutnya Bro..