Ia menatapku dengan diam
Guratan dahinya penuh beribu pertanyaan
Kupu-kupu terbang dengan indahnya
Begitupun wajah itu begitu indah
Siapakah ia?
Akupun tak tahu
Apa maunya?
Ia yang hanya tahu!
Aku masih mencari tahu tentangnya
Tentang ia
Tentang kediamannya
tentang Kemauannya
Hampa
kosong
Diam
Tak bergerak
Dan kenyataannya diam dalam pertanyaan
Mata itu.....
Sorotanya......
Masih memendam pertanyaan
Aku masih tidak tahu....
Apa maunya.....
By
Elfenan
Baca Selanjutnya Bro..
Kata Mutiara
::Beatiful::
In a shiny bright morning.
A girl spoke to her mother
Mom, you always look beautiful.
I wanna be like you, tell me something
With her touching gaze and smile.
The mother answered
For dimple on your cheek.
Spread your sincere smile on the earth
For lovely eyes.
See always the good in people
For a slim figure.
Share your food with the poor
For lovely curving fingers.
Count your prayers of adoration with them
For white bright face.
Wash it in every change of time
My daughter….
Physical beauty fades away with time.
But beautiful deeds hold true even after death.
In a shiny bright morning.
A girl spoke to her mother
Mom, you always look beautiful.
I wanna be like you, tell me something
With her touching gaze and smile.
The mother answered
For dimple on your cheek.
Spread your sincere smile on the earth
For lovely eyes.
See always the good in people
For a slim figure.
Share your food with the poor
For lovely curving fingers.
Count your prayers of adoration with them
For white bright face.
Wash it in every change of time
My daughter….
Physical beauty fades away with time.
But beautiful deeds hold true even after death.
Pesan Singkat
Free Account
HOMEPAGE
- Artikel (6)
- Catatan Kornish Nil (26)
- Kritik Sastra (2)
- Resensi (4)
- Sastra-Cerpen (1)
- Sastra-Puisi (6)
- The Most Greatest In Egypt (1)
Showing posts with label Sastra-Puisi. Show all posts
Showing posts with label Sastra-Puisi. Show all posts
Friday, February 27, 2009
Jiwa Nan Rapuh
Jiwa Nan Rapuh
Kadang kutatap kehidupan penuh misteri
Kucoba berlari mencari jawaban atas diri ini
Memikirkan yang tidak dapat kupikirkan
Kuterjebak dalam jaring-jaring kegelapan
Kealpaanku dalam kebaikan
Cahaya kegelapan begitu menyilaukan mataku
Tak mampu lagi diri ini menatap sang waktu
Rasa pegal, nyeri, putus asa telah datang
Sang juru kunci tak mau menjamahku
Menjamah tubuh yang kotor ini
Atau karena aku tidak pernah lagi memberikan senyum kepadaNya
Senyum seorang hamba
Entah berapa kali aku coba
Tetap raga ini rapuh juga
Tuhan tetap menang dalam permainannya
Cairo, 24 Juli 200
Baca Selanjutnya Bro..
Kadang kutatap kehidupan penuh misteri
Kucoba berlari mencari jawaban atas diri ini
Memikirkan yang tidak dapat kupikirkan
Kuterjebak dalam jaring-jaring kegelapan
Kealpaanku dalam kebaikan
Cahaya kegelapan begitu menyilaukan mataku
Tak mampu lagi diri ini menatap sang waktu
Rasa pegal, nyeri, putus asa telah datang
Sang juru kunci tak mau menjamahku
Menjamah tubuh yang kotor ini
Atau karena aku tidak pernah lagi memberikan senyum kepadaNya
Senyum seorang hamba
Entah berapa kali aku coba
Tetap raga ini rapuh juga
Tuhan tetap menang dalam permainannya
Cairo, 24 Juli 200
Baca Selanjutnya Bro..
Labels:
Sastra-Puisi
Saturday, September 16, 2006
Gadis di Pinggir Mobil
Kupandangi lekat tubuh yang indah itu
Penuh dengan getaran sanubari yang membisu
Pandangan itu menusuk seperti sembilu
Langit tampak kelam setelah itu
Oh...gadis di pinggir mobil berwarna biru
Betapa hatiku telah luluh lantah ketika melihat dirimu
Begitu indah, sempurna garapan ilahi
Bibir bergetar sambil bertahmid memuji
Kurangkai kata-kata yang tak berarti
Untuk melukis getaran hebat di mata sang kekasih
Kucoba bersenandung seraya memuji
Kecantikan makhluk ilahi rabbi
Angin pun ikut berlomba bersama kami
Para pemuja rahasia-rahasia cinta ilahi
Bersamaan suka derita sepanjang hari
Cairo, 15 September 2006 Baca Selanjutnya Bro..
Penuh dengan getaran sanubari yang membisu
Pandangan itu menusuk seperti sembilu
Langit tampak kelam setelah itu
Oh...gadis di pinggir mobil berwarna biru
Betapa hatiku telah luluh lantah ketika melihat dirimu
Begitu indah, sempurna garapan ilahi
Bibir bergetar sambil bertahmid memuji
Kurangkai kata-kata yang tak berarti
Untuk melukis getaran hebat di mata sang kekasih
Kucoba bersenandung seraya memuji
Kecantikan makhluk ilahi rabbi
Angin pun ikut berlomba bersama kami
Para pemuja rahasia-rahasia cinta ilahi
Bersamaan suka derita sepanjang hari
Cairo, 15 September 2006 Baca Selanjutnya Bro..
Labels:
Sastra-Puisi
Sunday, July 16, 2006
Wanita......!!!
wanita.......!!!
Berapa kali aku harus menyakinkanmu
Sekali itu engkau tidak mempercayaiku
Engkau telah menyakiti hatiku
Walau aku tahu....!!!
Hukum agama melarangku
Walau aku harus menerjang tembok besi aturan-Nya
Walau aku tahu aku telah mendustai guruku
Kamu tahu untuk apa semua itu?
Kamu harus tahu!!!
Dosa kita sudah begitu banyak
Kesalaham kita sudah melampaui batas
Tapi,......
Engkau masih bisa tersenyum
Engkau tidak faham dengan ajakan baikku
Engkau malah mencibir diriku
Wanita....!!!
Engkau anggap diriku sampah belaka
Engkau anggap ucapanku hanya angin
Engkau tidak menyukai karena-Nya
Wanita....!!!
Seandainya engkau memahamiku
Insyaallah hidup akan lebih indah
Tapi,.....
Kenyataannya engkau hanya sebuah api saja
Telah membakar semua isi dunia
Menghalalkan semua cara
Bahkan agama tak lagi engkau jamah
Cairo, 15 Juli 2006
Baca Selanjutnya Bro..
Labels:
Sastra-Puisi
Sunday, June 25, 2006
Mendung Pun Bersedih
Mendung Pun Bersedih
Siang itu jalan begitu sepi
Tak kulihat lagi anak bermain, berlari
Bahkan burung pun tak lagi bernyanyi
Ketika keranda nan wangi dijunjung beramai
Ribuan atau bahkan jutaan orang di bumi
Melambaikan tangan sebagai akhir perpisahan kepadamu
Menagis meneteskan air mata untukmu
Tak pelak hati teriris tak terobati
Mendung menatap haru
Meneteskan rintik-rintik berderu
Diantara kenangan manis bersamamu
Gerombolan mendung silih berganti berdatangan
Bah malaikat yang memintakan ampunan
Hati semakin sempit, sakit ketika kumelihatmu
Walaupun engkau masih terlihat tersenyum kepadaku
Kairo, 30 Mei 2006
Baca Selanjutnya Bro..
Siang itu jalan begitu sepi
Tak kulihat lagi anak bermain, berlari
Bahkan burung pun tak lagi bernyanyi
Ketika keranda nan wangi dijunjung beramai
Ribuan atau bahkan jutaan orang di bumi
Melambaikan tangan sebagai akhir perpisahan kepadamu
Menagis meneteskan air mata untukmu
Tak pelak hati teriris tak terobati
Mendung menatap haru
Meneteskan rintik-rintik berderu
Diantara kenangan manis bersamamu
Gerombolan mendung silih berganti berdatangan
Bah malaikat yang memintakan ampunan
Hati semakin sempit, sakit ketika kumelihatmu
Walaupun engkau masih terlihat tersenyum kepadaku
Kairo, 30 Mei 2006
Labels:
Sastra-Puisi
Saturday, June 10, 2006
Kami Tak Butuh Engkau Lagi
Jalan......
Jalan masih begitu panjang
Kenapa engkau masih menerjang
Pagar merah mutih yang terpajang
Jalan....
Jalan masih lebar
Kenapa engkau harus melalui belakang
Bukannya depan masih ada?
Manusia......
Kenapa hidupmu penuh nista
Kenapa di dalam dirimu harus ada duri
Antara sesama teman di muka bumi
Bukan manusia selalu meludah
Bukan Manusia kalau anda tertawa
Saat orang-orang memerah derita
Saat bangsa penuh siksa
Engkau bukan manusia merah putih itu
Yang selalu berkibar dalam hati
Jika dalam hatimu masih ada dusta
Jika dalam hatimu masih ada benci sesama
Jika dalam hatimu ada keegoisan
jika dalam hatimu masih ada kursi
Engkau tetap bukan merah putih itu
Saat ini dan nanti
Selama engkau selalu menebar kesakitan, kemaksiatan, kedengkian dan dendam
Tak akan pernah
Dan tak akan pernah
Pergi...!!!!
Dari negeriku merah putih
Kami tak perlu para pembangkang
Kami tak perlu orang rakus
Kami tak butuh caci makimu
Kami butuh orang yang mau merajut Indonesia baru
indonesia yang makmur
indonesia yang rukun
Indonesia yang tentram sesamanya
Yang selalu sayang kepada yang lainnya
Pergi!!!!
Pergi kau dari dunia ini!!!
Dari negeri ini!!!!
By
Elfenan Baca Selanjutnya Bro..
Jalan masih begitu panjang
Kenapa engkau masih menerjang
Pagar merah mutih yang terpajang
Jalan....
Jalan masih lebar
Kenapa engkau harus melalui belakang
Bukannya depan masih ada?
Manusia......
Kenapa hidupmu penuh nista
Kenapa di dalam dirimu harus ada duri
Antara sesama teman di muka bumi
Bukan manusia selalu meludah
Bukan Manusia kalau anda tertawa
Saat orang-orang memerah derita
Saat bangsa penuh siksa
Engkau bukan manusia merah putih itu
Yang selalu berkibar dalam hati
Jika dalam hatimu masih ada dusta
Jika dalam hatimu masih ada benci sesama
Jika dalam hatimu ada keegoisan
jika dalam hatimu masih ada kursi
Engkau tetap bukan merah putih itu
Saat ini dan nanti
Selama engkau selalu menebar kesakitan, kemaksiatan, kedengkian dan dendam
Tak akan pernah
Dan tak akan pernah
Pergi...!!!!
Dari negeriku merah putih
Kami tak perlu para pembangkang
Kami tak perlu orang rakus
Kami tak butuh caci makimu
Kami butuh orang yang mau merajut Indonesia baru
indonesia yang makmur
indonesia yang rukun
Indonesia yang tentram sesamanya
Yang selalu sayang kepada yang lainnya
Pergi!!!!
Pergi kau dari dunia ini!!!
Dari negeri ini!!!!
By
Elfenan Baca Selanjutnya Bro..
Labels:
Sastra-Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)
Profil
HOMEPAGE
- Artikel (6)
- Catatan Kornish Nil (26)
- Kritik Sastra (2)
- Resensi (4)
- Sastra-Cerpen (1)
- Sastra-Puisi (6)
- The Most Greatest In Egypt (1)
