Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Friday, February 27, 2009

Across The Nightingale Floor


Oleh Lian Hearn

“IBUKU selalu mengancam akan mencabik- cabik aku menjadi delapan bila aku menjatuhkan ember, atau aku pura-pura tidak mendengar panggilannya untuk segera pulang saat hari telah senja dan teriakan jangkrik kian meninggi.”

Sepenggal paragraf di atas adalah awal dari cerita Kisah Klan Otori; Across The Nightingale Floor, karya Lian Hearn. Kono, menurut cerita, kisah ini ditulis oleh Lian Hearn dengan menyepi. Mencari kesunyian untuk dapat mengumpulkan semua ilham. Ya, tidak jarang memang, para penulis yang berhasil harus bersusah payah ketika menuangkan tinta penahnya. Diantaranya mungkin, seperti penulis Asmaraman Khoo Ping Hoo, Pram, atau penulis-penulis lainnya.






Kisah Klan Otori; Across The Nightingale Floor, memang lain dari lainnya. Seingatku, dari puluhan bacaan yang pernah kubaca, dan ratusan bahkan mungkin ribuan kisah yang pernah kujamah, hanya cerita Kisah Klan Otori ang memungkinkanku untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Ini, bukan karena hanya gaya bahasanya yang sungguh memikat, bukan karena metafornya yang meloncat-loncat, atau hanya karena ceritanya yang memang membuat terkagum-kagum. Kalau dilihat dari segala-galanya, mulai gaya bahasanya, metafornya, alur ceritanya, atau bahkan pesan cerita ini, sungguh mengagumkan.


Setidaknya, ada beberapa hal yang memikat di cerita ini; pertama; dari segi alurnya, jarang ditemui, kecuali ketika sang aku (Takeo) menceritakan tentang Kaede. Alurnya normal, tidak ribet seperti halnya kisah-kisah lainnya. Kisah dimulai dari masa kanak-kanak Tomasu yang akhirnya diganti nama oleh Lord Shigeru (Ayah Angkat Takeo), masa sedih, masa mencekam karena beberapa rahasia tentang Takeo mulai terkuak. Lalu perjalanan Takeo ikut berperang melawan Lord Iida yang ingin menguasai Tiga Negara sekaligus dan orang nilah yang telah menghancurkan perkampungan Takeo hingga diangkat menjadi anak angkat oleh Lord Shigeru dari Klan Otori.

"Dia memiliki semua ciri-ciri Kikuta: jari yang panjang, garis lurus yang melintang di telapak tangan, pendengaran yang tajam. Pendengaran yang tajam ini akan datang tiba-tiba di masa puber, terkadang diikuti dengan tidak bisa berbicara, umumnya sementara, tapi bisa juga selamanya...."

Takeo ternyata adalah keturunan Tribe Kikuta. Sebuah organisasi pembunuh bayaran yang terkenal kehebatannya. Dan ternyata, memang, di dalam diri Takeo menyimpan darah itu, darah seorang pembunuh. Sebab darah itulah, kelebihan-kelebihan dari moyangnya itu terus menghantuinya. Untung, Takeo dibesarkan oleh kaum Hidden sejak kecil yang terkenal dengan kelembutan dan kasih sayangnya, apalagi di sampingnya ada Lord Shigera yang memang terkenal kebijaksanaannya. Darah pembunuh yang dimilikinya tidka membuatnya menjadi jahat, bahkan kelebihan-kelebihan itu akhirnya menjadi berkah baginya, dna khususnya bagi klan Otori. Ketika masa puber, kelebihan-kelebihan itu benar-benar muncul, pendengaran telinganya menjadi begitu tajam, bahkan ia mempunyai kelebihan bisa menggandakan tubuhnya.

Muto Kenji, guru Takeo juga seorang Tribe pernah menyatakan bahwa, “ada lima keluarga Tribe. Mereka telah ada sebelum munculnya para bangsawan dan klan. Kisah ini berawal dari masa ketika sihir lebih kuat dari senjata, dan dewa-dewa inasih berjalan di bumi. Saat klan mulai bermunculan, dan orang-orang mulai membentuk ikatan berdasarkan kekuatan, Tribe tidak bergabung dengan salah satu klan. Guna melestarikan anugrah yang mereka miliki, mereka memilih untuk menjadi pengelana, pedagang, pemain drama, pemain sirkus, dan juga pemain sulap."

"Kikuta Isamu, yang aku yakini adalah ayahmu, termasuk salah satunya. Ibu dan ayah Isamu adalah sepupu sehingga dia menggabungkan anugrah paling kuat yang dimiliki Kikuta. Saat berumur tiga puluh tahun, dia menjadi pembunuh yang paling sempurna. Tak ada yang tahu berapa banyak yang telah dia bunuh; sebagian besar korbannya nampak seperti mati alami. Orang tidak tahu banyak tentang dirinya. Dia ahli membuat racun dari ramuan dari tumbuhan gunung yang dapat membunuh tanpa ada jejak."

Kedatangan Muto sebenarnya tidak hanya sekedar berpelesiran atau bekerja kepada Lord Otori, namun lebih dari itu. Kedatangannya khusus untuk menjemput Takeo, sebagai keturunan Tribe Kikuta. Namun, Takeo selalu menghindar, walaupun ia tidak mampu lari dari kenyataan bahwa dirinya adalah mlik Tribe Kikuta. Seandainya, dia menolak bergabung, akibatnya akan seperti ayahnya. Seeprti yang diceritakan oleh gurunya Muto Kenji. “Saat dia ke wilayah Timur—kau tahu daerah yang kumaksud—untuk mencari ramuan racun, dia menginap di desa milik kaum Hidden. Orang desa itu mengatakan tentang tuhan mereka, larangan untuk membunuh, dan tentang pembalasan di hari akhir—kau tahu itu semua, tak perlu kuceritakan lagi. Di tempat terpencil yang jauh dari pertempuran antar klan itu, Isamu merasa muak dengan hidup yang dia jalani. Mungkin dia menyesal. Mungkin juga karena kematian telah memanggilnya. Lalu, dia menarik diri dari Tribe dan bergabung dengan kaum Hidden."

Kedua; dalam hal SUDUT PANDANG, ada yang baru dalam cerita Lian Hearn ini. Sudut pandang dalam cerita ini tidak selamanya memakai ‘aku’ atau orang pertama. Namun, ada juga menggunakan ‘dia-an’ atau sudut pandang ke-tiga. Ini menjadi sebuah pelajaran khusus, bahwa dalam suatu cerita, pencerita tidak harus membuat Titik Sudut Pandang hanya satu sudut saja. Bisa juga diaduk antara sudut pandang orang pertama dengan ke-tiga. Dan ternyata, daya rasa dari bacaan seeprti ini lebih kuat dan melekat di hati.

Ketika Takeo bercerita tentang dirinya sendiri, ia menggunakan ‘aku-an’ sedangkan, ketika ia bercerita tentang Kaede – Putri sulung Lord Shirakawa, ia bercerita menggunakan ‘dia-an’. Dan inilah yang membuatku yakin, bahwa kelak –entah di Kisah Klan Otori bagian ke-dua, tiga atau empat-nya- Lady Kaede akan bersama. Mereka bersatu oleh cinta yang murni dan akibat pengorbanan yang tidak lazim.

Di sisi inilah, aku mendapatkan hal baru. Pelajaran baru tentang sastra. Bahwa Sudut Pandang bisa dibuat-buat berbeda dari lainnya. Dan tampaknya akan lebih menarik, karena dua sudut pandang itu dirangkapkan, sehingga kelemahan diantara keduanya saling mengisi dengan kelebihan masing-masing.

Ketiga; Dari segi kebahasaan dan metafor, cerita ini sungguh memikat hati. Banyak sekali ditemukan metafor yang meloncat-loncat dan berkilauan seperti berlian. Gaya bahsanya sungguh lugas, namun sarat makna yang terpendam. Cerita ini dibuat menggunakan akal sehat dan perasaan yang benar-benar jernih. Tidak mudah membuat cerita seperti ini, apalagi penulis telah berhasil membuat para pembacanya selalu penasaran di setiap babnya. Sehingga cerita ini tidak ditemukan ada klise dan jenuh. Apalagi sampai membuat bosan pembacanya.

Keempat; Pesan yang termuat di dalam cerita ini sungguh banyaknya. Seperti, pengorbanan cinta yang dipilih oleh Takeo sungguh menggugah. Lalu, ketenangan yang diperlihatkan oleh Lord Otori sungguh mengagumkan. Apalagi kebijaksanaannya. Belum lagi, kelebihan yang didapat oleh Takeo tidak membuatnya menjadi besar hati, sombong apalagi menjadi penjilat. Keteguhan dan ketulusan yang diperlihatkan oleh Takeo bisa dicontoh. Pengabdiannya terhadap Lord Otori yang tidak biasa. Dan betapa hebatnya pengorbanan terakhir Takeo, ketika dia harus memilih mengorbankan kekuasannya dan cintanya demi sebuah janji.

Akhirnya, betapa inginku untuk membaca Kisah Klan Otori bagian ke dua. Sebuah pertanyaan muncul di dalam hati. Apakah Takeo dan Lady Kaede masih tetap berjauhan? Dan apakah Takeo kuat memendam deritanya ketika harus ebrjauhan dengan kekasihnya itu? Semuanya akan terjawab, keresahan jiwa ini akan terobati setelah nanti membaca buku kedua itu.

“Jika bukan karena ulahmu, dia tak akan dikubur,” Pikir Takeo tanpa pernah mengucapkannya.


Kamar Apek, 18 Oktober 2008.



Baca Selanjutnya Bro..

Wednesday, February 13, 2008

Pram dan Kegelisahannya


Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sebuah nama yang masih terngiang-ngiang ‎di gendang telingaku. Masih terbayang senyumnya yang telah merasakan ‎kemenangan atas segala usahanya selama ini. Ya-ya, Pram menjelma menjadi ‎sosok yang menyenangkan bagiku- getaran jiwanya yang kumaksud -. Masih ‎ingat sekali kapan pertama kali nama Pram kudengar, saat ia ditangisi oleh ‎setiap anak bangsa. Ketika itu banyak teman-teman menyebut namanya seperti ‎mengalahkan sebuah dzikir kepada Tuhannya sendiri. Apakah saat itu Pram ‎telah sedemikian terkenal sehingga Tuhan pun bisa dilupakan? Tentunya tidak! ‎Beberapa hari ini, setelah aku selesai membaca serial novel sejarah Gajah Mada ‎milik Langkit Kresna Hariadi, aku berestafet membaca karya Pram. Bergetar dan ‎berdegup kenjang jantungku ketika baru menginjak lima halaman pertama. ‎Salah satu Roman tetraloginya yang berjudul BUMI MANUSIA atau This Earth ‎of Mankind telah habis kulalap. Kecepatan membacaku terhadap roman ini tidak ‎secepat ketika membaca novel-novel yang lain, karena aku banyak menemukan ‎perkataan Pram bah seperti intan. Berkilau indah dan menarik perhatian. Dan ‎sangat ambigu jika dipikirkan dengan terperinci.‎





Gaya berceritanya cukup mengalir dan perkataannya hampir tidak ada ‎kemandekan. Ini adalah karya yang unik sekaligus jarang. Aku menemukan ‎keunikan pada karya Pram yang satu ini dan (Apakah semua karyanya sama ‎seperti Bumi Manusia, akupun belum tahu). Karyanya ini ternyata pernah ‎dioralkan sebelum ditulis pada tahun 1973 dan ditulis dalam bentuk cerita ‎Roman pada tahun 1975. Ini adalah dasar yang unik yang pernah kubaca dan ‎kuketahui selama ini.‎

Melihat tulisannya yang tampak menggebu-gebu dan berkobar-kobar, tentu ‎tidak akan jauh dari sebuah psikitis sang penulis. Mungkin, Pram adalah ‎manusia yang super, bukan saja ia seorang penulis ulung, namun lebih jauh lagi ‎ia seorang Psikolog atau psikater hebat yang pernah kuketahui. Seorang penulis ‎memang harus mampu mempengaruhi pembacanya, sehingga bagi seorang ‎penulis sangat dibutuhkan sebuah ilmu psikolog. Ilmu ini akan dapat ‎menunjang terjadinya pengaruh terhadap pembaca.‎

Pram telah mampu lebih jauh dari pada hanya seorang penulis kawakan dan ‎psikater, ia juga seorang yang selalu mengedepankan ideologi keadilan, ‎kejujuran, kebersihan hati dan pemberontakan atas ketidak-benaran segala apa ‎yang ada di bumi. Setidaknya roman BUMI MANUSIA telah memuat berbagai ‎macam sindiran terhadap politik kolonial Belanda zaman dahulu (Dan apakah ‎hanya kolonial Belanda saja yang menjadi sasaran kepedasannya. Ini tentu ‎tidak!). Roman ini tidak hanya membelejeti sebuah kesalahan konsep kolonial ‎Belanda, namun juga dapat dijadikan tamparan pemerintahan saat. ‎

Kisah cinta yang dipaparkan cukup membuat bulu ronaku merinding. Bahkan ‎aku begidik ketika sampai pada babak pertentangan dan akhir dari buku ini. ‎Aku hampir menjerit ketika secara beruntun Pram menuturkan keadaan yang ‎serba tidak pasti dan permasalahan. Memang itulah sebuah permasalahan yang ‎hingga saat ini belum juga tuntas. Dari perbudakan, perebutan kekuasaan, ‎kesemena-menaan, kekuasaan otoriter, poligami, cinta, penghianatan dan ‎kesetiaan. Tentang kesamaan hak tanpa dipengaruhi oleh warna kulit, agama, ‎ras, dan lain-lain adalah bumbu yang selalu membuat batuk setiap orang. Inilah ‎Roman yang membuat hatiku terguncang dahsyat ketika membacanya.‎

Kalau dilihat dari segi tulisan, apa yang kukatakan di awal tulisan sebenarnya ‎tidak sebuah pujian omong kosong belaka. Tulisannya yang tampak tegas dan ‎terasa menggebu-gebu sangat mewakili apa itu sebuah roman pemberontakan. ‎Ya-ya, pemberontakan tentang ketidak-benaran sebuah konsep umum dan ‎konsep perbedaan atau perbedaan tatanan kehidupan di dalam sebuah ‎kehidupan. Kalau tulisan Pram bisa disandarkan dengan ilmu BALAGHA di ‎Arab, maka tulisan Pram sudah mewakili apa yang dinamakan IJAZ dan I’NAB. ‎Apa itu Ijaz? Ijaz adalah sebuah tulisan yang sedikit namun sarat makna yang ‎banyak dan luas. Sedangkan I’nab adalah memperpanjang sebuah tulisan ‎berdasarkan makna yang dibutuhkan. Tulisan Pram yang tampak ringkas, padat, ‎dan pendek itu telah mewakili makna yang luas. Ambigu yang dimainkan oleh ‎Pram dalam tulisannya patut dicermati dan dinikmati. Kalau mengingat tulisan ‎Pram yang ambigu, setidaknya aku mengingat sosok novelis tua asal Mesir. ‎Naguib Mahfouz (1911-2006) mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang tidak ‎kalah dengan Pram. ‎

Novelis Naguib Mahfouz mendapatkan nobel sastra Swedia lantaran tulisannya ‎yang ambigu, seperti halnya Pram yang mendapatkan penghargaan besar ‎melalui menjadi nominator nobel sastra Swedia. Ada satu perkataannya yang ‎hingga saat ini masih mendengung di telinga, yaitu ketika Pram menulis sebuah ‎perkataan yang tidak kalah indahnya dengan intan dan berlian. Pram berkata; ‎TANPA SEMANGAT, TAK AKAN ADA API. Perkataannya ini sangat ringkas ‎dan padat, namun penuh makna yang panjang dan luas sekali. Setidaknya ‎perkataannya itu telah mewakili sebuah ideologi yang mutlak telah dimiliki oleh ‎seorang Pram. ‎

Begitu pun dengan tulisannya yang berbunyi; Hidup bisa memberikan segala ‎pada barang siapa tahu dan pandai menerima. Tulisannya yang satu ini bisa ‎dikatan akan menjadi sebuah catatan emas bagiku. Lalu datang yang lain; ‎Seseorang harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim ‎tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya. Atau; Seorang terpelajar ‎harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.‎

Mungkin, yang mendasari lahirnya Roman BUMI MANUSIA adalah ketidak-‎puasannya tentang ketidak-adilan Orde Baru saat itu. Cerita yang dikisahkan ‎oleh Pram, kalau bisa ditarik benang merahnya, maka akan bisa mewakili cerita ‎ketidak-enakan Pram ketika menjadi tahanan atas ketidak-salahannya. Menjadi ‎tahanan yang tidak mempunyai kebebasan ternyata tidak enak dan menyakitkan. ‎Bahkan aku yakin, bahwa Pram tidak akan pernah memaafkan atas ketidak-‎adilan ini. Bahkan aku sendiri tidak rela atas semua itu terjadi. Ketika membaca ‎Roman ini, aku bisa merasakan dengan pasti bagaimana rasanya KETIDAK-‎BEBASAN, padahal raga dan tubuh ini milik diri sendiri, bukan milik orang lain. ‎Setidaknya Pram mengajarkan kepadaku, bahwa setiap manusia memiliki hak ‎yang sama dan kebebasan yang sama, jangan sok menjadi TUHAN yang otoriter. ‎Bahkan Tuhan pun bukan sosok yang otoriter dalam segala hal, Tuhan adalah ‎yang memberi pilihan pada setiap makhluknya. Dan bagaimana ada manusia ‎yang berani sesombong itu mencoba bersaing dengan Tuhan sendiri?.‎

Roman yang mengikuti madzab romantisme ini membuatku banyak ‎mengumpat, lantaran endingnya yang menyakitkan. Setidaknya tokoh Minke ‎‎(baca; Mingke) dengan Annelies membuat hati ini ketar-ketir sedak dini. Pram ‎juga dapat menggambarkan setiap tokoh dalam Roman ini sedemikian jelas, dari ‎Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, tuan Mellema, dua Robert dan lain-lainnya.‎

Akhir ceritanya cukup menyayat hati, tidak kalah dengan cerita Layla dan ‎Majnun, namun lebih menyyat hati lagi. Kalau Layla dan Majnun bisa bertemu ‎lagi walaupun dalam kematian, namun cerita ini diakhiri dengan perpisahan ‎antara Minke dan Annelies. Sungguh menyakitkan.‎

Melihat ini, aku bisa melihat bahwa sosok Pram selalu gelisah, baik tentang ‎masalah kehidupannya sendiri, atau ketika dia melihat kehidupan orang lain. ‎Kegelisahannya itu ditulis dan akhirnya bisa dinikmati oleh orang lain. Tidak ‎nyana, bahwa sebuah kegelisahan yang berkobar-kobar akhirnya bisa ‎mempengaruhi orang lain hingga begitu rupa. Ah, aku berharap kegelisahan itu ‎akan mendapatkan obatnya.‎

Dan akhirnya aku bisa berbangga bahwa aku pernah mengenal seorang Pram. ‎Entah apakah di tanah air sudah bisa melahirkan Pram ke dua. Dan apakah ‎suatu saat akan ada sastrawan tanah air yang bisa menembus nobel sastra ‎Swedia setelah Pram?. Semoga saja tingkat imajinasi di tanah air meninggat ‎setelah ditinggal Pram.‎

Bathniyyah, tanggal 12 Pebruari 2007 ‎



Baca Selanjutnya Bro..

Saturday, February 02, 2008

Dongeng Mahapatih Gajah Mada; Pak Langit Kresna Hariadi



Hampir saya tidak mengenal apa itu lelah, penat, capek, tidur, ngantuk, makan, bahkan buang hajat sekalipun. Adalah tiga seria novel Gajahmada milik Langit Kresna Hariadi (LKH) habis saya santap mulai dari seri pertamanya; Gajahmada, lalu seri ke dua Gajahmada; Bergelut dalam Kemelut TAHTA dan ANGKARA, lalu seri ke tiga-nya Gajahmada; Hamukti Palapa, selama lima hari berturut-turut tidak ada hentinya. Kalau bisa digambarkan dalam bentuk makanan, tentu tiga novel sejarah yang berlatar belakang tentang MAHAPATIH AMANGKUBUMI GAJAH MADA itu bisa dikatakan makanan yang sangat lezat, tidak hanya menjadikan perut yang tadinya lapar menjadi kenyang, namun menjadikan tubuh sehat, segar, dan menambah gizi yang banyak, bahkan menjadikan otak menjadi sedemikian segar.





Buku pertamanya dengan judul, Gajahmada; menceritakan tentang kisah pergolakan pada zaman Majapahit atau Wiwatika berlangsung. Pada saat itu terjadi makar atau pemberontakan yang dilakukan oleh Rakrian Kuti dan teman-temannya yang ingin berangan-angan menjadi raja Majapahit. Pemberontakan yang akan dilakukan oleh Ra Kuti dengan teman-temannya itu berhasil diendus oleh bekel Gajahmada. Pimpinan pasukan prajurit istimewa Bhayangkara itu berhasil menyelamatkan Raja Majapahit Prabu Sri Jayanegara dari percobaan pembunuhan dengan di bawa ke Bedander (LKH menyebutnya Bedadu yang akhirnya diluruskan oleh para sejarawan). Keberhasilan Gajahmada tidak hanya berhasil menyelamatkan Prabu Sri Jayanegara atau Kalagemet dari pembunuhan, namun berhasil merebut kembali tahta kerajaan dan berhasil membungkam pemberontakan Ra Kuti untuk selamanya.

Pada buku ke-dua dengan judul Gajahmada Bergelut dalam Kemelut TAHTA dan ANGKARA, menerangkan tentang kisah meninggalnya Prabu Sri Jayanegara diracun oleh Ra Tanca. Kematian Prabu Sri Jayanegara ini diikuti oleh beberapa misteri siapa yang berhak menempati damar kencana atau kursi kerajaan. Sekali lagi Gajahmada ternyata mempunyai andil yang tdak sedikit dalam perubahan kerajaan Majapahit, dia dengan kecerdasan dan penglihatan masa depannya memberikan pendapatnya kepada Ibu Suri Gayatri untuk memilih dua adik mendang Prabu Sri Jayanegara, yaitu putri Sri Gitarja dan putri Dyah Wiyat. Dia juga berhasil memadamkan beberapa pemberontakan kecil dan misteri-misteri pembunuhan yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk mengail ikan di tempat yang keruh. Keberhasilannya kali ini membuat pangkatnya diangkat lagi dan bahkan ditarik dari Daha ke istana kembali.

Pada buku ke-tiga dnegan judul Gajahmada; Hamukti Palapa; menerangkan tentang kisah sepak terjang Mahapatih Amangkubumi Gajahmada lebih hebta lagi. Pada kisah ini Gajahmada dibantu oleh pasukan Bhayangkara, Jalapati dan Sapu Bayu. Dan lebih-lebih atas bantuan temannya Aditiawarman putera Raja Melayu dan termasuk sepupu dari Prabu Sri Jayanegara. Pemberontakan Keta dan Sadeng dapat diselesaikan oleh Gajahmada dengan harga yang snagat murah, karena memang itulah kejeniusan berperang Gajahmada. Bahkan lebih jauh lagi dua pusaka Cihna gringsing lobheng lewih laka dan songsong Udan Riwis yang semula hilang berhasil didapatkan kembali. Dari keberhasilan demi keberhasilan itu, Gajahmada yang semula hanya berpangkat bekel dinaikkan menjadi Mahapatih Amangkubumi Mahapatih Amangkubumi. Di sini diterangkan pula bagaimana Mahapatih Gajahmada nebgucapkan Sumpah Palapa-nya.

Gaya bahasa yang dipakai oleh pak LKH sangat lugas, cair, dan tidak menyesatkan. Membaca tulisannya seraya saya seperti menontot film dengan adegan-adegannya yang terlihat jelas dipelupuk mata, baik adegan yang paling kecil pun. Setiap kata perkata dirangkai seperti mantra yang dapat mengantar pembacanya masuk ke sebuah dunia yang dihuni oleh pusaran badai, badai yang dapat menyeret pembacanya untuk semakin penasaran dan hanyut di sebuah dunia ratusan tahun silam.

Bagaimana tidak? Kalau setiap perkataan (tulisan) yang disajikan oleh LKH selalu menjajikan sebuah kegairahan untuk segera dapat menyelesaikan setiap detail rancangannya. Kejelasan dan sihir tulisannya membuat pembaca semakin bergairah untuk segera me-blejeti ¬setiap pakaian intrik di dalamnya, bahkan kejelasan tulisannya membuat saya seperti hadir dan melihat dengan dua mata kepala kisah di masa silam itu.

Sempat berkali-kali saya dibuat heboh dengan tulisannya, hingga saya berkali-kali harus bergumam sendiri hampir tidak percaya apa yang saya baca. “Luar biasa tulisannya, seperti sihir. Entah bagaimana ada seorang penulis mampu menulis sampai sedetail ini?!!!”, gumamku sendiri dan menekuri keganjilan tulisan LKH.

Terus terang, belum pernah saya membaca tulisan guru LKH, yaitu SH MINTARDJA. Apakah gaya bahasa yang dipakai cukup memukai seperti LKH. Mungkin butuh waktu untuk membaca karya SH Mintardja dan melihat koherensi antara keduanya. Karya-karya SH Mintardja yang pernah saya kenal adalah Nagasasra dan Sabuk Inten, Suramnya Bayang-Bayang, Tanah Warisan dan Api di Bukit Menoreh Menoreh yang disebut sebagai novel the never ending story, lantaran ditinggal meninggal sebelum selsai jalan ceritanya.

Setidaknya LKH yang sedang berselancar dalam dunia imajinasi dengan mengambil latar belakang sejarah, harus mendalami litertur lebih banyak, atau berkunjung langsung ke lokasi, atau bertanya pada sejarawan Indonesia. Setelah buku pertamanya dihujat habis-habisan oleh para pengkaji dan ahli sejarawan di tanah air.

Tulisan yang memukai itu sampai saat ini belum bernjak dari kehangatan ingatan saya. Bayangan adegan bagaimana Mahapatih Gajahmada memberi tugas kepada anak buahnya atau bagaimana menyebarkan telik sandi, membuat saya teringat-ingat terus. Setelah membaca tiga bukunya dan entah apakah suatu saat nanti saya bisa membaca sambungannya lagi apa tidak. Paling tidak saya berharap suatu saat nanti saya bisa menuntaskan segala penasaran saya dengan membaca sambungannya.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan lewat sebuah novel sejarah atau kalau saya bisa menyebut dengan novel realis-history (Novel fakta yang berlatar-belakang sejarah). Seperti saya bisa memahami sebuah alur sejarah di masa Majapahit tanpa lelah dan bingung. Atau boleh dikatakan membaca novel tanpa diketahui dan dirasakan pembacanya mempelajari juga sejarah yang semstinya memusingkan kepala. Dalam bukunya yang ke-dua, LKH tidak main-main lagi dalam penulisannya, karena berbagai data telah dilengkapinya. Bahkan kalau ada sebuah nama yang hanya karya imajinasinya, LKH akan langsung mengatakan bahwa itu nama buatannya sendiri dan tidak ada dalam sejarah. Begitu hati-hati LKH dalam memungut perjengkal tulisannya, hiingga membuat saya harus menggeleng-ngeleng kepala karena tahjub. Semua itu tidak dia dapatkan tanpa memeras keringat, karena sebelumnya ia pernah mengalami kesalahan dan menunai protes oleh kalangan banyak.

Semua itu menunjukkan bahhwa, ternyata sejarawan Indonesia tidak diam saja ketika ada sebuah kesalahan sejarah dilakukan oleh sebagian orang. Dan ini juga menjadi dalih bahwa geliat keilmuan di Indonesia menjadi semakin maju. Bahkan kritik sastra mulai berkembang semarak.

Setidaknya dari pengamatan saya terhadap sebuah novel, baik Indonesia atau manca-negara, saya menemukan sebuah kenyataan, bahwa LKH mempunyai gaya penyampaian dan karakteristik tersendiri di dalam novelnya ini. Entah apa gaya penulisan novelnya ini termasuk dari hasil belajarnya kepada SH Mntardja apa tidak, saya masih belum bisa menjawab. Gaya penyampaian itu menjadi kian terperinci, ketika sebuah aspek cerita dalam cerita diceritakan atau dikisahkan dalam bentuk nyata kembali. Seperti halnya yang dilakukannya ketika Ibu Suri Gayatri dan Kiai Maling Wiragati bercerita tentang masa lalunya, ternyata penulis tidak mengkisahkan dengan hanya melalui perkataan langsung Ibu Suri gayatri dan Kiai Wiragati, namun penulis langsung menceritakannya dan ini bisa dinamakan cerita di dalam cerita, yaitu ketika menceritakan sesuatu kisah ketika tokoh yang dikisahkan bercerita juga. Ciri seperti ini baru saya temukan pada diri LKH dan mungkin inilah gaya disiplinnya dalam menulis.

Kalau boleh menulis komentar lebih jauh, LKH dalam mengkisahkan ceritanya bisa disandingkan dengan novelis China Gu Long yang agak-agak njelimet dan menegangkan. Setidaknya LKH masih mempunyai kelebihan sedikit, yaitu ia berani atau mungkin mampu menggunakan perahu dan layar atas nama sejarah dalam penyampaian ceritanya, sedangkan Gu Long jarang sekali menyentu aspek sejarah. Lebih jauh lagi, novel sejarahnya yang panjang dan enam buku serinya itu, ternyata sulit disejajarkan dengan novelis-novelis lainnya. Seorang novelis besar Naguib Mahfouz-pun belum tentu akan mampu menulis novel sejarah sampai enam jilit atau serial. Padahal ia termasuk novelis mendunia, dan ternyata seorang LKH mampu berlayar di lautan fiksi dan imajinasi sampai sejauh itu melebihinya. Itu bisa dikatakan sangat luar biasa. Banyak orang mengetahui bahwa novelis Naguib Mahfouz (1911-2006) hanya mampu membuat novel sejarah menjadi trilogi saja. Seperti ‘Abs el-Aqdar, Radubis, dan Kafah Theba.

Kalau bercerita tentang novel sejarah atau sebuah novel berlatar belakang sebuah sejarah. Saya ingat dengan raja dirajanya CERSIL (Cerita Silat) Asmaraman Kho Ping Hoo yang mampu menulis cerita silat bersambung hingga sampai 17 seri. Ceritanya yang berlatar belakang sejarah dinasti China dari zaman lima wangsa (907- 960 )- dinasti Manchu atau Qing (1644-1911). Novel yang begitu panjang dan entah berapa puluh ribu halaman itu pun mempunyai kejeniusan sendiri dan akan menjadi catatan sendiri bagi saya. Bebeda dengan LKH, seorang Asmaraman Kho Ping Hoo yang buta huruf China mampu menulis dengan gaya yang berbeda dari novelis lainnya, karena yang disuguhkannya ternyata tidak hanya fantastiknya, romantisnya, khayalnya, sejarahnya, bahkan lebih dari itu. Di sana Asmaraman Kho Ping Hoo mampu menjelmakan tulisannya sebagai bahan kajian filsafat yang akan menjadikan pembacanya menjadi orang baru dengan pemandangan hidup yang lebih baru. Kalau Asmarman Kho Ping Hoo mampu menghadirkan sebuah perenungan berupah perkataan filsafat terhadap pandangan, hidup, politik, negara, budaya, agama, percintaan sampai pada alam bawah sadar manusia dan lebih-lebih kelebihannya dalam menyeret pembacanya ke alam bawah sadar. Itulah LKH yang saya kira tidak kalah jeniusnya dengan seorang KPH sekalipun.

Dari itu, saya berpendapat bahwa tulisan LKH tidak hanya akan mendapatkan atau bisa dikaji tentang novel sejarahnya, namun sajian gaya kepenulisannya yang berbeda bisa dikatakan akan mampu membawa madzab abru terhadap sebuah novel. Saya tidak akan kaget, jika suatu saat novel LKH akan menjelma sebagai buku sejarah yang wajib dibaca oleh generasinya. Dan saya berpendapat, nama Langit Kresna Hariadi atau LKH bisa disejajarkan dengan para novelis seperti Naguib Mahfouz atau KPH, atau bahkan gurunya seklalipun yaitu SH Mintardja.

Novel tentang Mahapatih Gajahmada yang ditulisnya, jangan hanya dibuat sebagai bahan bacaan yang biasa karena di dalamnya memuat pesan moral yang begitu banyak. Namun yang paling besar daris egala pesan adalah, bahwa negara Indonesia harus tetap bersatu jangan sampai terpecah belah oleh hanya sebuah TAHTA. Kalau kita sedikitboleh melihat Indonesia saat ini, maka kita akan merasakan apa itu sedih dan renyuh, karena gejala perpecahan itu mulai ada di setiap jengkal tanah air Indonesia. Sehingga saya berharap akann lahir seorang GAJAHMADA kedua yang dapat menyatukan kesatuan NUSANTARA.

Dari segi nama para tokoh yang disebutkan LKH bisa dikatakan masuk akal, karena memang pada zaman itu banyak sekali para penduduk Jawa yang memakai nama-nama binatang atau benda-benda, seperti Gajah Enggon, Gagak Bongol, Lembu Peteng, dan lain-lain. Karena pemakaian nama-nama itu memang pernah saya jumpai, bahkan hingga saat ini. Lebih menarik dan mempesona lagi, ternyata LKH tidak keluar dari ke-jawa-annya ketika menulis novelnya, karena dari segi gaya tulisan yang dihadirkan terlihat sekali bahwa ia termasuk orang Jawa yang sangat memahami adat dan kebudayaannya. Itu terlihat dari berbagai tulisannya yang banyak ditemui berbahasa Jawa kuno dan adat-adat seperti ilmu titen-nya dan adat-adat lainnya bisa diceritakan dengan mengalir tanpa kemandekan.
Akhirnya saya harus menyelesaikan komentar pendek saya bahwa LKH adalah novelis sejarah yang namanya bisa disejejarkan dengan novelis besar seperti, Naguib Mahfouz (Mesir), Asmaraman Kho Ping Hoo (Indonesia), Gu Long (China), Jin Yong (China) dengan novel triloginya Rajawali, Alexander Solzhenistsyn dengan novelnya August), Eiji Yoshikawa (dengan novelnya Mushashi), Luo Guanzhong (dengan novelnya Romance of the Three Kingdoms), Pramoedya Ananta Tour dengan Roman Tetralogi Buru-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bnagsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), John Shors dengan novelnya Beneath A Marble Sky, dan masih banyak para novelis lainnya yang mengusung karya fiksi dengan bumbu sejarah atau berlayar sejarah. Akhirnya saya harus mengakui bahwa LKH adalah novelis yang saya kagumi. Semoga saya bisa menjadi penulis bisa menelurkan tulisan-tulisan menggugah seperti dirinya dan saya saat ini juga akan menganggap LKH adalah salah satu guru, walaupun belum pernah bertemu, seperti halnya dirinya yang menganggap SH Mintardja sebagai gurunya.
Dan akhirnya lagi, selamat atas kesuksesan. Semoga LKH masih diberi hati yang suci, sehingga semua tulisannya yang dibaca ribuan bahkan kemungkinan jutaan orang termasuk karya suci darinya.
Sampai saat ini saya penasaran kisah selanjutnya, entah apakah Mahapatih Gajah Mada dapat melaksanakan Hamukti Palapa-nya apa tidak?.

”untuk mewujudkan mimpi
kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum
cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan
bersenang-senang dahulu sebagaimana hakikat arti dari hamukti wiwaha.
Aku memilih kebalikannya. Aku akan hamukti palapa sampai kapan pun,
sampai Majapahit yang aku inginkan dan kita inginkan bersama menjadi
kenyataan. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung, yang
itulah hakikat arti dari sumpahku, Sumpah Palapa, semata-mata demi
kebesaran Majapahit.”

”Aku bersumpah untuk tidak akan beristirahat,” Gajah Mada
berteriak. ”Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah
ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali,
Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amukti palapa.”

Atau artinya;
Sumpah Palapa tersebut berarti, jika telah berhasil menundukkan
Nusantara, aku baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, telah tunduk, barulah aku akan beristirahat.


Kairo, 01 Pebruari 2008
Oleh; Elfenan



Baca Selanjutnya Bro..

Sunday, October 14, 2007

Sinopsis Novel Senja Di Kornish Nil


Seperti juga senja yang ada di Kornish Nil, yang lama-kelamaan akan hilang ditelan kegelapan. Seperti itu juga hakikat dari sebuah kegembiraan yang akan sirna oleh kesedihan, keduanya akan berganti sesuai hukum Tuhan. Kegembiraan tidak ubahnya seperti keindahan senja yang hanya mampir sebentar dalam kehidupan, hanya beberapa detik, setelahnya akan datang masa gelap atau kesedihan. Sebenarnya kalau kita mau membuka sedikit mata, akan terlihat jelas bahwa diantara keduanya ada semacam keseimbangan yang tidak akan pernah terpisahakan, adanya keindahan senja karena adanya kegelapan malam, begitu pun dengan kegembiraan karena adanya kesedihan. Manusia bisa mengenal apa itu gembira, itu bukan lain karena manusia pernah merasakan sedih. Gembira dan sedih hakikatnya adalah gula-gula dan kenikmatan hidup terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Seperti halnya keindahan senja dan kegelapan adalah keindahan dan dibaliknya ada manfaat yang besar untuk manusia juga.



Semuanya diciptakan oleh Tuhan untuk manusia, supaya manusia tidak bosan dengan kehidupan ini. Karena manusia mempunya nafsu yang selalu ingin perubahan, bukan suatu ketetapan yang membosankan. Tuhan menciptakan sedih setelah gembira atau sebaliknya, pada dasarnya untuk memberikan kenikmatan hidup bagi nafsu manusia. Maha besar Tuhan yang menciptakan segalanya dengan teratur!.

Senja di Kornish bukanlah sekedar sebuah senja biasa. Keindahan senja di tempat ini, bagi orang-orang Mesir dan orang yang pernah melihatnya dikatakan tidak kalahnya dengan keindahan senja di sungai Seine, Perancis. Warna keemasannya mampu membuat orang terhanyut ke sebuah dunia dengan keindahan tanpa batas. Matahari yang bulat berwarna merah kemas-emasan itu tidak hanya membuat Kornish Nil menjadi lebih indah, tapi juga membuat badan menjadi agak lebih hangat. Walaupun begitu, embun dan halimun putih tipis yang ada di permukaan sungai Nil tidak mau kalah dengan cahaya senja yang keemas-emasan. Kaliborasi antara warna merah keemas-emasan dengan halimun putih tipis menghasilkan paduan warna dan keindahan tersendiri, keindahan-keindahan itu tidak akan bisa diperlihatkan di tempat lainnya, belum lagi ditambah pergerakan air sungai Nil yang bergerak santun, membuat kondisi di Kornish Nil tidak bedanya dengan surga yang pernah diimpi-impikan oleh setiap orang.

Ketika berjalan atau berhenti sambil menikmati udara dan keindahan warna senja kemerah-merahan bercampur keemas-emasan itu, suasana hati akan ikut berbunga-bunga. Hati yang gelisah, lelah, penat, marah, atau lagi lesu akan segera terhempas hilang semuanya. Kata orang Mesir, berjalan di pinggiran sungai Nil atau di Kornis Nil akan membuat jiwa seseorang melayang-layang diantara hamparan keindahan tanpa batas, makanya tidak heran jika ada seorang pendatang mengatakan bahwa keindahan Kornish Nil seperti sebuah replika dari surga.

Cerita ini dimulai dengan kedatangan seorang pemuda berdarah Indonesia-Mesir yang bernama Khalil di Mesir, ia datang dengan mengemban amanat dan wasiat terakhir dari mendiang ayahnya. Ia datang ke Mesir untuk mencari dan menyatukan keluarganya yang sudah terpisah slama dua puluh tahun silam. Setibanya di Mesir, ternyata tidak mudah untuk mencari jejak ibu dan adik-adiknya yang sudah dua puluh tahun terpisah darinya itu. Selama berbulan-bulan ia berusaha terus-menerus mencari kalurganya itu, tapi tetap sulit mencari jejak keberadaan mereka. Hingga hari-harinya di Mesir membuatnya mengenang kembali kisah sedih dua puluh tahun silam. Akibat salah paham dan fitanah dari orang lain, kedua orang tuanya harus berpisah selama itu. Karena mengenang kisah sedih inilah, tanpa sengaja ia mulai putus asa dan selalu murung. Hampir hari-harinya selalu ia gunakan untuk melihat keindahan senja di Kornish Nil, tapi kenyataanya ia tidak mendapatkan apa-apa di sana, hanya membuat serpihan luka lama menjadi terkuak kembali.

Apakah Khalil bisa mengobati luka-lukanya yang terkuak kembali akibat sulitnya mencari keluarganya itu? Dan apakah Khalil mampu menemukan dan menyatukan kembali keluarganya yang terpisah? Dalam perjalanan ini, Khalil banyak sekali menemukan rintangan, termasuk keadaannya sendiri yang selalu bersedih hati dan tentang kisah cintanya dengan dua orang gadis Sophie dan Yasmin yang membuatnya bingung untuk memilih, disamping misteri sulitnya mendapatkan informasi keberadaan keluarganya di Mesir. Apakah Khalil mampu menyelesaikan semua masalahnya itu?. Tentunya semua akan terjawab di dalam kisah Senja di Kornish Nil.





Baca Selanjutnya Bro..