Wednesday, February 13, 2008

Pram dan Kegelisahannya


Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sebuah nama yang masih terngiang-ngiang ‎di gendang telingaku. Masih terbayang senyumnya yang telah merasakan ‎kemenangan atas segala usahanya selama ini. Ya-ya, Pram menjelma menjadi ‎sosok yang menyenangkan bagiku- getaran jiwanya yang kumaksud -. Masih ‎ingat sekali kapan pertama kali nama Pram kudengar, saat ia ditangisi oleh ‎setiap anak bangsa. Ketika itu banyak teman-teman menyebut namanya seperti ‎mengalahkan sebuah dzikir kepada Tuhannya sendiri. Apakah saat itu Pram ‎telah sedemikian terkenal sehingga Tuhan pun bisa dilupakan? Tentunya tidak! ‎Beberapa hari ini, setelah aku selesai membaca serial novel sejarah Gajah Mada ‎milik Langkit Kresna Hariadi, aku berestafet membaca karya Pram. Bergetar dan ‎berdegup kenjang jantungku ketika baru menginjak lima halaman pertama. ‎Salah satu Roman tetraloginya yang berjudul BUMI MANUSIA atau This Earth ‎of Mankind telah habis kulalap. Kecepatan membacaku terhadap roman ini tidak ‎secepat ketika membaca novel-novel yang lain, karena aku banyak menemukan ‎perkataan Pram bah seperti intan. Berkilau indah dan menarik perhatian. Dan ‎sangat ambigu jika dipikirkan dengan terperinci.‎





Gaya berceritanya cukup mengalir dan perkataannya hampir tidak ada ‎kemandekan. Ini adalah karya yang unik sekaligus jarang. Aku menemukan ‎keunikan pada karya Pram yang satu ini dan (Apakah semua karyanya sama ‎seperti Bumi Manusia, akupun belum tahu). Karyanya ini ternyata pernah ‎dioralkan sebelum ditulis pada tahun 1973 dan ditulis dalam bentuk cerita ‎Roman pada tahun 1975. Ini adalah dasar yang unik yang pernah kubaca dan ‎kuketahui selama ini.‎

Melihat tulisannya yang tampak menggebu-gebu dan berkobar-kobar, tentu ‎tidak akan jauh dari sebuah psikitis sang penulis. Mungkin, Pram adalah ‎manusia yang super, bukan saja ia seorang penulis ulung, namun lebih jauh lagi ‎ia seorang Psikolog atau psikater hebat yang pernah kuketahui. Seorang penulis ‎memang harus mampu mempengaruhi pembacanya, sehingga bagi seorang ‎penulis sangat dibutuhkan sebuah ilmu psikolog. Ilmu ini akan dapat ‎menunjang terjadinya pengaruh terhadap pembaca.‎

Pram telah mampu lebih jauh dari pada hanya seorang penulis kawakan dan ‎psikater, ia juga seorang yang selalu mengedepankan ideologi keadilan, ‎kejujuran, kebersihan hati dan pemberontakan atas ketidak-benaran segala apa ‎yang ada di bumi. Setidaknya roman BUMI MANUSIA telah memuat berbagai ‎macam sindiran terhadap politik kolonial Belanda zaman dahulu (Dan apakah ‎hanya kolonial Belanda saja yang menjadi sasaran kepedasannya. Ini tentu ‎tidak!). Roman ini tidak hanya membelejeti sebuah kesalahan konsep kolonial ‎Belanda, namun juga dapat dijadikan tamparan pemerintahan saat. ‎

Kisah cinta yang dipaparkan cukup membuat bulu ronaku merinding. Bahkan ‎aku begidik ketika sampai pada babak pertentangan dan akhir dari buku ini. ‎Aku hampir menjerit ketika secara beruntun Pram menuturkan keadaan yang ‎serba tidak pasti dan permasalahan. Memang itulah sebuah permasalahan yang ‎hingga saat ini belum juga tuntas. Dari perbudakan, perebutan kekuasaan, ‎kesemena-menaan, kekuasaan otoriter, poligami, cinta, penghianatan dan ‎kesetiaan. Tentang kesamaan hak tanpa dipengaruhi oleh warna kulit, agama, ‎ras, dan lain-lain adalah bumbu yang selalu membuat batuk setiap orang. Inilah ‎Roman yang membuat hatiku terguncang dahsyat ketika membacanya.‎

Kalau dilihat dari segi tulisan, apa yang kukatakan di awal tulisan sebenarnya ‎tidak sebuah pujian omong kosong belaka. Tulisannya yang tampak tegas dan ‎terasa menggebu-gebu sangat mewakili apa itu sebuah roman pemberontakan. ‎Ya-ya, pemberontakan tentang ketidak-benaran sebuah konsep umum dan ‎konsep perbedaan atau perbedaan tatanan kehidupan di dalam sebuah ‎kehidupan. Kalau tulisan Pram bisa disandarkan dengan ilmu BALAGHA di ‎Arab, maka tulisan Pram sudah mewakili apa yang dinamakan IJAZ dan I’NAB. ‎Apa itu Ijaz? Ijaz adalah sebuah tulisan yang sedikit namun sarat makna yang ‎banyak dan luas. Sedangkan I’nab adalah memperpanjang sebuah tulisan ‎berdasarkan makna yang dibutuhkan. Tulisan Pram yang tampak ringkas, padat, ‎dan pendek itu telah mewakili makna yang luas. Ambigu yang dimainkan oleh ‎Pram dalam tulisannya patut dicermati dan dinikmati. Kalau mengingat tulisan ‎Pram yang ambigu, setidaknya aku mengingat sosok novelis tua asal Mesir. ‎Naguib Mahfouz (1911-2006) mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang tidak ‎kalah dengan Pram. ‎

Novelis Naguib Mahfouz mendapatkan nobel sastra Swedia lantaran tulisannya ‎yang ambigu, seperti halnya Pram yang mendapatkan penghargaan besar ‎melalui menjadi nominator nobel sastra Swedia. Ada satu perkataannya yang ‎hingga saat ini masih mendengung di telinga, yaitu ketika Pram menulis sebuah ‎perkataan yang tidak kalah indahnya dengan intan dan berlian. Pram berkata; ‎TANPA SEMANGAT, TAK AKAN ADA API. Perkataannya ini sangat ringkas ‎dan padat, namun penuh makna yang panjang dan luas sekali. Setidaknya ‎perkataannya itu telah mewakili sebuah ideologi yang mutlak telah dimiliki oleh ‎seorang Pram. ‎

Begitu pun dengan tulisannya yang berbunyi; Hidup bisa memberikan segala ‎pada barang siapa tahu dan pandai menerima. Tulisannya yang satu ini bisa ‎dikatan akan menjadi sebuah catatan emas bagiku. Lalu datang yang lain; ‎Seseorang harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim ‎tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya. Atau; Seorang terpelajar ‎harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.‎

Mungkin, yang mendasari lahirnya Roman BUMI MANUSIA adalah ketidak-‎puasannya tentang ketidak-adilan Orde Baru saat itu. Cerita yang dikisahkan ‎oleh Pram, kalau bisa ditarik benang merahnya, maka akan bisa mewakili cerita ‎ketidak-enakan Pram ketika menjadi tahanan atas ketidak-salahannya. Menjadi ‎tahanan yang tidak mempunyai kebebasan ternyata tidak enak dan menyakitkan. ‎Bahkan aku yakin, bahwa Pram tidak akan pernah memaafkan atas ketidak-‎adilan ini. Bahkan aku sendiri tidak rela atas semua itu terjadi. Ketika membaca ‎Roman ini, aku bisa merasakan dengan pasti bagaimana rasanya KETIDAK-‎BEBASAN, padahal raga dan tubuh ini milik diri sendiri, bukan milik orang lain. ‎Setidaknya Pram mengajarkan kepadaku, bahwa setiap manusia memiliki hak ‎yang sama dan kebebasan yang sama, jangan sok menjadi TUHAN yang otoriter. ‎Bahkan Tuhan pun bukan sosok yang otoriter dalam segala hal, Tuhan adalah ‎yang memberi pilihan pada setiap makhluknya. Dan bagaimana ada manusia ‎yang berani sesombong itu mencoba bersaing dengan Tuhan sendiri?.‎

Roman yang mengikuti madzab romantisme ini membuatku banyak ‎mengumpat, lantaran endingnya yang menyakitkan. Setidaknya tokoh Minke ‎‎(baca; Mingke) dengan Annelies membuat hati ini ketar-ketir sedak dini. Pram ‎juga dapat menggambarkan setiap tokoh dalam Roman ini sedemikian jelas, dari ‎Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, tuan Mellema, dua Robert dan lain-lainnya.‎

Akhir ceritanya cukup menyayat hati, tidak kalah dengan cerita Layla dan ‎Majnun, namun lebih menyyat hati lagi. Kalau Layla dan Majnun bisa bertemu ‎lagi walaupun dalam kematian, namun cerita ini diakhiri dengan perpisahan ‎antara Minke dan Annelies. Sungguh menyakitkan.‎

Melihat ini, aku bisa melihat bahwa sosok Pram selalu gelisah, baik tentang ‎masalah kehidupannya sendiri, atau ketika dia melihat kehidupan orang lain. ‎Kegelisahannya itu ditulis dan akhirnya bisa dinikmati oleh orang lain. Tidak ‎nyana, bahwa sebuah kegelisahan yang berkobar-kobar akhirnya bisa ‎mempengaruhi orang lain hingga begitu rupa. Ah, aku berharap kegelisahan itu ‎akan mendapatkan obatnya.‎

Dan akhirnya aku bisa berbangga bahwa aku pernah mengenal seorang Pram. ‎Entah apakah di tanah air sudah bisa melahirkan Pram ke dua. Dan apakah ‎suatu saat akan ada sastrawan tanah air yang bisa menembus nobel sastra ‎Swedia setelah Pram?. Semoga saja tingkat imajinasi di tanah air meninggat ‎setelah ditinggal Pram.‎

Bathniyyah, tanggal 12 Pebruari 2007 ‎



0 comments: