Monday, June 22, 2009

Masih Ada Hari Esok

Senja hampir tenggelam, tingginya seukuran tombak dilihat dari jarak pandangku. Cahaya semburat merah itu menjadikan air sungai Nil berkilau-kilau. Indah! Di sampingku, di atas tempat duduk di Kornish Nil, ada yang lebih indah dari sekedar warna emas senja. Lebih cantik dari sekedar kilauan mutiara jamrud. Ia duduk sambil sesekali mengusap air matanya yang terus-menerus keluar. Tak ada suara rintihan yang keluar dari mulutnya yang indah itu, tapi derita itu bisa kurasakan. Derita itu tampak lantaran ada air mata yang keluar terus-menerus dan wajah yang amat sayu itu. Derita itu mengobrak-abrik dadaku. Hingga membuat langkahku berhenti. Aku kira derita itulah yang merantai kedua kakiku untuk tak jalan lagi.




Wajah itu memang menyakitkan hati kalau dilihat oleh mata. Tapi, ada aura hebat di wajah itu. Begitu hebatnya, hingga senja pun akan takut untuk terbit. Aura itu akan terasa lebih cemerlang apabila mendung itu tak membayanginya.

Sejenak aku pandangi wajah yang sedang menunduk itu. Hidungnya yang mancung memerah. Bulu mata itu hitam, berdiri melengkung dan tampak halus seperti kapas. Badannya agak bergetar lantaran tangis. Tiba-tiba ada kekuatan yang membuka borgol kakiku, ia berjalan tanpa keinginanku. Beberapa detik kemudian, pantatku sudah duduk bersebelahan dengannya. Duduk bersamanya, seperti duduk di atas balok es. Dingin dan beku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Sepertinya, kekuatan yang sekejap hadir itu sirna begitu saja. Sirna ditelan aura penderitaan yang dipancarkan olehnya.

Baru kali ini aku dapat merasakan bagaimana gak enaknya menjadi patung hidup. Tubuh ini tak mampu digerakkan oleh kemauan kita sendiri. Aku memang sudah layaknya disebut mayat hidup. Sungguh aneh perasaan seperti ini. Sungguh aneh. Aku hanya bisa melirik ke arahnya, sambil berharap ia bisa menyapaku. Tapi mungkinkah ia akan menyapaku, sednagkan dirinya sednag sibuk oleh dunianya sendiri. Dunia yang gelap dan suram. Mengerikan.

Sambil bengong tak mampu berbuat apa-apa. Aku berharap ada wahyu datang menghampiri dadaku. Mengisyaratiku sesuatu atau memberi kekuatan untuk beranjak pergi saja. Namun, di menit 15-an, yang sudah kurasakan seperti setengah hari, ada kekuatan aneh merasuki tubuhku. Kali ini, kekuatan itu dapat kurasakan sangat dahsyat, aku dapat membaca dengan jelas perintah gilanya. Ini benar-benar gila. Kekuatan Jin Ifrit penunggu Sungai Nil, mungkin, yang sedang merasukiku.

Tanganku tiba-tiba saja bergerak lincah mengambil notebook berwarna kuning kecil di sakuku. Notebook yang tak pernah tertinggal jika aku berpergian ke mana saja. Notebook kuyakini sebagai pengganti estasi, aku bisa gila tanpanya. Kali ini, jariku memainkan peran sangat hebat. Tulisanku sungguh aneh kurasakan. Ini ide tergila yang pernah kulakukan. Apakah kali ini Jin Ifrit benar-benar telah menguasai diriku, ataukah ruh Kahlil Gibran yang sedang mengeksekusiku?


*******************


Sore itu aku ingin menyendiri. Aku ingin menyejukkan hatiku. Mungkin, bersama Nil aku bisa terbang ke Bneua Antartika sambil menyelam di air esnya. Aku ingin membekukan hatiku yang sedang terbakar ini. Tak ada tempat untuk melarikan diri, kecuali Kornish Nil. Ketika kumenyendiri, bukan obat yang kudapat, malah racun yang semakin hebat yang kuteguk. Aku tak bisa menahan luapan tangisku. Aku hanay mampu menyegah supaya tangisku tak memecah menjadi jeritan pilu. Biarkan air mata ini meleleh, dengan ini aku berharap hati ini ikut meleleh. Setengah jam, satu jam, dua jam, hingga tiga jam aku duduk sendirian sambil menatap matahari yang mulai turun. Aku memang tak mau tahu dengan lainnya. Biarkan ornag lai melihatku, aku tak mau tahu apa kata ornag. Aku ingin sendiri. Hingga datanglah seseorang, seseorang yang dengan lancang terus menerus melihat ke arahku. Hingga dia berhenti dan duduk di sampingku. Ia diam membisu. Aku pun tak mengganggunya, selagi ia tak menggangguku.

Aku sempat melirik dan melihat dengan jelas ke arahnya. Orang Indonesia dnegan badan okey. Wajah tampan, kulit putih, tinggi dan berbadan kekar. Pokoknya tipe cowok maco ala diriku. Jarang-jaranga da ornag Indonesia punya badan segede itu. Setampan itu. Setinggi itu. Lengkap sebenarnya, sayang hatiku sedang kacau. Aku yakin ia sedang memperhatikanku, ingin berkenalan denganku. Aku sangat tahu tipe-tipe laki-laki seperti itu. Semua laki-laki memang buaya!

Tiba-tiba saja, ia menyeodorkan sesuatu kepadaku. Sambil menatapku dengan pasti ia ingin memberi sesuatu. Ia ingin aku mengambilnya. Pertama, aku kira yang diberikan adalah tisu, sebab aku sedang menangis, tapi dugaanku salah. Ternyata kertas berwarna kuning. AKu buka lipatan segi tiga itu. Kubaca sebentar. Tak kusangka. Begitu hebat tulisan itu. Benar-benar sinting. Baru kali ini aku menemukan orang paling gila. Bukan. Seniman gila maksudku. Atau??? Mungkinkah dia bisu, sehingga membutuhkan kertas untuk berkomunikasi.

Aku bertatapan sebentar dengannya dan senyumn itulah yang membuatku melayang. Benar-benar senyum pamungkas yang pernah kuterima. Untuk sesaat aku bisa lupa akan derita yang sedang kutanggung lantaran senyum itu. Dan sesaat kemudian senyum itu hilang. Hilang bersama dengan tubuh yang gagah itu. Aku tertegun melihat cowok itu pergi meninggalkanku sendirian. Aku ingin mengejarnya, tapi kakiku tak mampu kuangkat. Aku tak punya tenaga untuk berjalan. Tulisan yang dikerjakannya sungguh berat. Sungguh berat untuk diterima.

Jangan kau teteskan air mata di sini
Sebab, air nil akan terasa asin

Jangan risaukan yang kemarin,
Karena, masih ada esok

Tak akan engkau dapatkan obat di sini
Sebab obat itu ada di hatimu

Segelap-gelapnya wajahmu
Tetap secerah mentari pagi

Luapakan derita
Sirnakan semua yang ada

Senja Nil
Seindah harimu besok
Seindah senyummu esok
Ketika beban itu kaubasuh dengan Nil

Lupakan segalanya...
Engkau akan lebih cerah dari yang tercerah...

15 Juni 2009


Baca Selanjutnya Bro..

Thursday, April 23, 2009

Prolog To Most Greatest In Egypt


Sudah lama aku ingin mencoba menulis tentang hal-hal yang agung di Mesir, namun tak pernah terelesiasikan. Aku terlalu malas. Hari ini aku benar-benar ingin menulis, sebagai langkah awal, aku telah menulis prolognya.


Baca Selanjutnya Bro..

Friday, February 27, 2009

Hatshepsut; Perempuan Fir'aun Terhebat Sepanjang Zaman



Hatshepsut (kadang-kadang dieja Hatchepsut yang berarti Perempuan Bangsawan Paling Terkemuka)[3] adalah firaun kelima dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno. Para Egiptologiwan umumnya menganggapnya sebagai salah seorang firaun perempuan yang paling berhasil di Mesir, yang memerintah lebih lama daripada perempuan penguasa manapun dalam sebuah dinasti bumiputra.

Hatshepsut dipercayai pernah memerintah sebagai salah seorang penguasa dari sekitar 1479 hingga 1458 SM (Tahun 7 hingga 21 dari Thutmose III).[4] Ia dianggap sebagai ratu penguasa yang paling awal dikenal dalam sejarah dan perempuan kedua yang diketahui naik takhta sebagai "Raja Mesir Hulu dan Hilir" setelah Ratu Sobekneferu dari Dinasti ke-12.

Pada 27 Juni 2007, sebuah mumi dalam makam KV60 di Lembah Para Raja diidentifikasikan sebagai Hatshepsut.[2]






Dalam budaya populer

Ketika gerakan feminis menjadi matang, tokoh-tokoh penting perempuan dari zaman dahulu dicari dan keberhasilan mereka semakin dipublikasikan. Hatshepsut berubah dari pemimpin Mesir yang paling tak dikenal pada awal abad ke-20 menjadi tokoh paling terkenal dari negara itu pada akhir abad tersebut. Berbagai biografi seperti misalnya Hatshepsut oleh Evelyn Wells meromantisasikannya sebagai perempuan yang cantik dan pasifis — "perempuan besar pertama dalam Sejarah". Hal ini cukup berlawanan dengan pandangan abad ke-19 tentang Hatshepsut yang melukiskannya sebagai ibu tiri yang kejam, yang merebut takhta dari Thutmose III.

Novel Mara, Daughter of the Nile oleh Eloise Jarvis McGraw, mempertahankan pandangan tentang ibu tiri yang kejam dengan menempatkan Hatshepsut sebagai tokoh utama cerita itu. Plotnya berkembang sekitar upaya-upaya Mara, seorang budak perempuan, dan sejumlah bangsawan untuk menggulingkan Hatshepsut dan mengangkat pewaris yang "sah", Thutmose III, sebagai Firaun. Mereka mempersalahkan berbagai proyek pembangunan Hatshepsut sebagai penyebab kebangkrutan negara Mesir. Ia juga digambarkan telah menahan Thutmose III sebagai tawanan di lingkungan tembok istana.

Pada 1960 sebuah lingkaran utama asteroid yang ditemukan oleh Cornelis Johannes van Houten, Ingrid van Houten-Groeneveld dan Tom Gehrels dinamai 2436 Hatshepsut untuk menghormatinya. Ada teori popular yang menyatakan bahwa Hatshepsut adalah putrid yang menemukan Musa saat terapung-apung di sungai Nil, namun teori ini umumnya dibantah oleh para Egiptologiwan dan pakar Alkitab.[5]

Sekurang-kurangnya ada tiga pengarang yang telah menulis novel fiksi sejarah yang menggambarkan Hatshepsut sebagai pahlawannya: Hatshepsut: Daughter of Amun oleh Moyra Caldecott, Child of the Morning oleh Pauline Gedge dan Pharaoh oleh Eloise Jarvis McGraw, dan seri novel misteri Lieutenant Bak yang mengambil tempat pada masa pemerintahannya.

Hatshepsut juga muncul dalam plot Illinois Jane and the Pyramid of Peril, sebuah sandiwara lucu oleh T. James Belich (Colorado Tolston). Di sini dilukiskan Hatshepsut menemukan ramuan panjang umur. Dalam cerita ini, hilangnya Hatshepsut digambarkan telah menyebabkan ia abadi, meskipun ia tak pernah secara langsung tampil dalam sandiwara ini.

Humoris Amerika, Will Cuppy, menulis sebuah esai tentang Hatshepsut yang diterbitkan setelah kematiannya dalam buku The Decline and Fall of Practically Everybody. Tentang salah satu tulisannya di dinding, ia menulis,

Tentang penampilan Hatshepsut pada suatu tahap kariernya, kita berutang kepada salah satu tulisan di dinding. Di situ dikatakan bahwa "memandang dia jauh lebih cantik dari apapun juga, kemolekannya dan bentuk tubuhnya sungguh bagaikan seorang dewi." Sebagian menganggap aneh bahwa seorang Firaun perempuan ternyata begitu berani, dalam usia 50-an seperti Hatshepsut. Sama sekali tidak. Ia Cuma mengatakan bagaimana keadaannya sekitar 35 tahun sebelumnya, sebelum ia menikahi Thutmose II dan kemudian menghantam Thutmose III. "Ia adalah seorang putri, cantik dan memekar," demikian dikatakan dalam hieroglif, dan kita tidak mempunyai alasan untuk meragukannya. Memang, tak ada salahnya menceritakan kepada dunia bagaimana rupa seseorang pada 1514 SM.[6]

Dalam pertunjukan laga hidup untuk anak-anak, The Secret of Isis (1975), tokoh utamanya, Andrea Thomas, menemukan sebuah jimat Mesir kuno dan kemudian menyadari bahwa ia adalah seorang keturunan Hatshepsut dan pewaris daya kekuatan Isis. Hatshepsut dirujuk dalam narasi pembukaan.

Dalam Civilization IV ia digambarkan sebagai pemimpin Mesir yang menggantikan Cleopatra VII dari Civilization III.

Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hatshepsut



Baca Selanjutnya Bro..

Ratu Cleopatra VII Philopator


Cleopatra VII Philopator (Yunani: Κλεοπάτρα Φιλοπάτωρ; Januari 69 SM – 12 Agustus 30 SM) adalah ratu Mesir kuno, anggota terakhir dinasti Ptolemeus. Walaupun banyak ratu Mesir lain yang menggunakan namanya, dialah yang dikenal dengan nama Cleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Ia adalah penguasa Mesir bersama ayahnya Ptolemeus XII, saudara laki-laki sekaligus suaminya: Ptolemeus XIII dan Ptolemeus XIV, dan akhirnya anaknya Caesarion. Cleopatra berhasil mengatasi kudeta yang dirancang oleh pendukung saudara laki-lakinya dengan bersekutu dengan Julius Caesar dan dilanjutkan Mark Antony. Cleopatra memiliki 1 anak dari Julius Caesar dan 3 anak dari Mark Antony (dua diantaranya adalah kembar).

Cleopatra bunuh diri sewaktu Augustus (Octavianus) naik tahta dan menyerang Mesir, dengan cara memasukkan tangannya sendiri kedalam keranjang penuh ular berbisa ( Asp / sejenis Cobra asal Afrika Utara). Kisah hidupnya sering didramatisasikan dalam berbagai bentuk karya, termasuk "Antony and Cleopatra" dari William Shakespeare dan beberapa film modern.






Masa kecil

Sedikit yang diketahui tentang masa kecil Cleopatra, tetapi Cleopatra berdarah Yunani, bukan keturunan Mesir. Ia dilahirkan pada awal tahun 69 SM, anak ke-3 dari 6 orang dan lahir di kalangan Dinasti Ptolemaik Yunani. Ia mempunyai 2 orang kakak dan seorang adik perempuan serta dua adik laki-laki. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Alexandria yang merupakan kota terbesar dan termewah saat itu.

Kerajaan dari ayah Cleopatra tidak aman akibat tekanan dan konflik dari luar dan dalam perebutan kekuasaan, serta konflik dalam seperti pemerintahan sentralisasi dan korupsi politik. Hal ini memimpin pemberontakan dan hilangnya Siprus dan Cyrenaica yang menyebabkan masa kekuasaan Ptolemeus sebagai salah satu yang paling mematikan di dinasti tersebut. Semasa kecil, Cleopatra telah melihat persengketaan dalam keluarganya sendiri. Dikatakan bahwa ayahnya selamat dari 2 usaha pembunuhan ketika seoragn pelayan menemukan ular berbisa yang mematikan di tempat tidurnya dan pelayan yang mencicipi minuman anggur tuannya yang selanjutnya pelayan tersebut meninggal. Kakak perempuan tertuanya, Tryphaena juga mencoba untuk meracuni Cleopatra sehingga ia mulai menggunakan juru cicip. Ketika ia berusia belasan tahun, ia menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri dan ayahnya menjadi boneka Kekaisaran Romawi akibat beban utang yang terlalu tinggi, tetapi masih berharap agar Romawi tidak menaklukan Mesir. Keadaan itu menyebabkan Ptolemeus XII diusir rakyat dari Alexandria yang akhirnya melarikan diri ke Romawi. Pada tahun 58 SM, ibunya, Cleopatra V mengambil alih pemerintahan bersama anaknya, Berenice IV dengan bantuan gubernur Suriah yang dikuasai Romawi, Aulus Gabinius selama setahun hingga ibunya meninggal, lalu Berenice IV memerintah sendiri. Ptolemeus XII menggulingkan anak perempuan tertuanya pada tahun 55 SM dan menghukum mati anaknya, Berenice IV. Kakak perempuan Cleopatra lainnya, Tryphaena mengambil tahta dan tidak lama kemudian ia meninggal yang menyisakan Cleopatra dengan suaminya dan adiknya, Ptolemeus XIII sebagai penerus tahta.

Dari ayahnya, Ptolemeus XII, Cleopatra mengetahui akan kekuatan leluhurnya. Leluhurnya telah melakukan penaklukan besar hampir 3 abad yang lalu.
Silsilah keluarga Cleopatra

Naik tahta

Ptolemeus XII meninggal pada bulan Maret tahun 51 SM, membuat Cleopatra yang saat itu berusia sekitar 18 tahun dan Ptolemeus XIII yang berusia sekitar 12 tahun sebagai pemimpin gabungan. 3 tahun pertama kekuasaan mereka sulit karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir sungai Nil dan konflik politik. Walaupun Cleopatra menikahi adiknya, ia menunjukan bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk berbagi kekuasaan dengannya.

Diturunkan dari tahta

Pada bulan Agustus tahun 51 SM, relasi mereka rusak. Cleopatra menurunkan nama Ptolemeus dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri di uang koin yang berada diluar tradisi Ptolemaik yang menyatakan bahwa pemimpin wanita dibawahkan oleh pemimpin laki-laki. Hal ini menghasilkan kelompok rahasia orang yang tidak termasuk dalam istana, dipimpin oleh eunuch Pothinus, menurunkan Cleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus pemimpin pada tahun 48 SM (atau lebih awal, dan terdapat sebuah dekrit pada tahun 51 SM dengan nama Ptolemeus sendiri). Ia mencoba untuk melakukan pemberontakan disekitar Pelusium, tapi ia terpaksa melarikan diri dari Mesir dengan adiknya yang tersisa, Arsinoë.[1]

Kembali naik tahta

Ketika Cleopatra pergi dari Mesir, Pompey melibatkan diri dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur tahun 48 SM, Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar ke Alexandria dan mencari suaka. Ptolemeus saat itu berusia 15 tahun dan menunggu kedatangannya. Pada tanggal 28 September 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan opsirnya yang sekarang bekerja untuk Ptolemaik. Ia dipenggal didepan istri dan anaknya, yang berada di kapal yang baru saja ia turuni. Ptolemeus berpikir bahwa dengan ia telah memerintahkan kematian Pompey untuk menyenangkan Julius Caesar. Hal ini adalah kesalahan Ptolemeus yang besar. Ketika Caesar tiba di Mesir dua hari kemudian, Ptolemeus memberikan kepala Pompey. Caesar yang melihat hal ini sangat marah karena fakta bahwa walaupun ia musuh politik Caesar, Pompey adalah konsul Roma dan duda dari anak Julis Caesar, Julia. Caesar menguasai ibukota Mesir dan menjadikannya wasit dari klaim antara Ptolemeus dan Cleopatra.

Cleopatra mengambil kesempatan ini dan kembali ke istana dan bertemu dengan Caesar. Dipercaya bahwa Caesar terpesona dengan langkahnya, dan Cleopatra menjadi kekasihnya. 9 bulan setelah pertemuan pertama mereka, Cleopatra melahirkan bayi. Pada saat ini, Caesar meninggalkan rencananya untuk menggabungkan Mesir, dan mendukung klaim Cleopatra atas tahta. Setelah perang saudara pendek, Ptolemeus XIII tenggelam di sungai Nil dan Caesar mengembalikan Cleopatra ke tahtanya, dengan adiknya yang lain Ptolemeus XIV sebagai wakil pemimpin baru.

Hubungan Cleopatra dengan Julius Caesar

Walaupun perbedaan umur Cleopatra dan Julius Caesar sebesar 30 tahun, Cleopatra dan Caesar menjadi kekasih selama Caesar berada di Mesir tahun 48 SM sampai 47 SM. Mereka bertemu ketika Cleopatra berusia 21 tahun dan Caesar berusia 50 tahun. Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Cleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut "Caesarion" yang berarti "Caesar kecil"). Cleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, Octavian. Caesarion dimaksudkan untuk mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat.

Cleopatra dan Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Sebelum atau sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir. Ketika Ptolemeus XIV meninggal karena kesehatannya memburuk, Cleopatra menjadikan Caesarion penerusnya. Untuk menjaganya dan Caesarion, adiknya Arsinoe meninggal.

Hubungan Cleopatra dengan Mark Antony
Anthony dan Cleopatra, dibuat oleh Lawrence Alma-Tadema.

Pada tahun 42 SM, Mark Antony, salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil Cleopatra untuk bertemunya di Tarsus untuk menjawab pertanyaan kesetiaannya. Cleopatra tiba dan memikat Antony yang menyebabkan Anthony menghabiskan musim dingin tahun 41 SM–40 SM dengannya di Alexandria. Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia melahirkan 2 anak, Alexander Helios dan Cleopatra Selene II.

Empat tahun kemudian, tahun 37 SM, Antony mengunjungi Alexandria sekali lagi untuk berperang dengan Parthian. Ia memperbarui hubungannya dengan Cleopatra, dan sejak saat itu Alexandria menjadi rumahnya. Ia menikahi Cleopatra menurut ritus Mesir (surat dikutip di Suetonius mengusulkan ini), walaupun ia sedang berada pada waktu menikahi Octavia Minor. Ia dan Cleopatra memiliki anak yang bernama Ptolemeus Philadelphus.

Dengan donasi Alexandria pada tahun 34 SM, dan juga serangan Anthony atas Armenia, Cleopatra dan Caesarion dimahkohtai sebagai wakil pemimpin Mesir dan Siprus. Alexander Helios menjadi pemimpin Armenia, Media, dan Parthia; Cleopatra Selene II menjadi pemimpin Cyrenaica dan Libya. Ptolemeus Philadelphus menjadi penguasa Phoenicia, Suriah, dan Sisilia. Cleopatra juga mendapat gelar "Ratu atas Raja".

Sikap Anthony dipandang buruk oleh Romawi dan Octavian meyakinkan senat untuk berperang dengan Mesir. Pada tahun 31 SM, pasukan Anthony menghadapi serangan armada Romawi di pantai Actium. Dengan terjadinya pertempuran Actium, Octavian menyerang Mesir. Dengan tanpa pengungsi lain yang melarikan diri, Anthony melakukan aksi bunuh diri dengan menusukan pedangnya pada tanggal 12 Agustus 30 SM.

Kematian

Mark Antony bunuh diri yang menyebabkan Cleopatra juga bunuh diri. Tidak diketahui bagaimana ia meninggal, tetapi menurut legenda, ia mengambil keputusan untuk bunuh diri setelah ia menyadari bahwa ia gagal mencapai tujuannya. Ia meninggal akibat membiarkan dirinya digigit ular berbisa yang diselipkan kedalam bakul berisi buah ara. Dalam detik terakhir kematiannya, ia menyatakan takdirnya sebagai dewi.[2]

Anak Cleopatra, Caesarion mengklaim sebagai pharaoh Mesir, tetapi Octavian menang lebih dulu. Caesarion ditangkap dan dieksekusi, takdirnya dilaporkan dikunci oleh perkataan terkenal Octavian: "Dua Caesar terlalu banyak." Hal ini mengakhiri garis pharaoh Mesir. 3 anak dari Cleopatra dan Antony diampuni dan dibawa kembali ke Roma dan mereka dirawat oleh istri Anthony, Octavia Minor.

Pelayan Cleopatra, Iras and Charmion juga bunuh diri. Anak perempuan Anthony, Octavia diampuni dan juga anaknya, Iullus Antonius. Anaknya yang tertua, Marcus Antonius Antyllus, dibunuh ketika memohon untuk kehidupannya di Caesarium.

Cleopatra dalam kebudayaan populer

Cerita Cleopatra telah mengagumkan penulis dan artis. Selain ia adalah figur politik yang kuat, ia juga muncul sebagai orang yang dapat bersekutu dengan 2 orang terkuat (Julius Caesar dan Mark Antony) pada masanya. Ia muncul baik dalam buku, film, novel, drama, permainan video, lukisan dan serial televisi. Contohnya pada drama Antony dan Cleopatra tahun 1609 buatan William Shakespeare. Film pertama yang berkaitan dengan Cleopatra adalah Antony and Cleopatra dengan Florence Lawrence sebagai Cleopatra. Film pertama dengan subyek Cleopatra, Ratu Mesir, dibintangi oleh Helen Gardner. Banyak artis yang juga menjadikan Cleopatra sebagai objek lukisannya, contohnya Guido Cagnacci yang melukis tentang kematian Cleopatra pada tahun 1658

Catatan kaki

1. ^ Peter Green (1990). Alexander to Actium: The Historical Evolution of the Hellenistic Age. Berkeley: University of California Press, 661–664. ISBN 0-520-05611-6.
2. ^ Smith, William (ed.) (1867). Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Boston: Little, Brown & Company, 802.


Pengambilan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Cleopatra_VII




Baca Selanjutnya Bro..

Kupu Kupu

Ia menatapku dengan diam
Guratan dahinya penuh beribu pertanyaan
Kupu-kupu terbang dengan indahnya
Begitupun wajah itu begitu indah



Siapakah ia?
Akupun tak tahu
Apa maunya?
Ia yang hanya tahu!

Aku masih mencari tahu tentangnya
Tentang ia
Tentang kediamannya
tentang Kemauannya

Hampa
kosong
Diam
Tak bergerak
Dan kenyataannya diam dalam pertanyaan

Mata itu.....
Sorotanya......
Masih memendam pertanyaan
Aku masih tidak tahu....
Apa maunya.....

By
Elfenan
Baca Selanjutnya Bro..

Jiwa Nan Rapuh

Jiwa Nan Rapuh

Kadang kutatap kehidupan penuh misteri
Kucoba berlari mencari jawaban atas diri ini
Memikirkan yang tidak dapat kupikirkan
Kuterjebak dalam jaring-jaring kegelapan
Kealpaanku dalam kebaikan



Cahaya kegelapan begitu menyilaukan mataku
Tak mampu lagi diri ini menatap sang waktu
Rasa pegal, nyeri, putus asa telah datang
Sang juru kunci tak mau menjamahku
Menjamah tubuh yang kotor ini
Atau karena aku tidak pernah lagi memberikan senyum kepadaNya
Senyum seorang hamba
Entah berapa kali aku coba
Tetap raga ini rapuh juga
Tuhan tetap menang dalam permainannya
Cairo, 24 Juli 200


Baca Selanjutnya Bro..

Across The Nightingale Floor


Oleh Lian Hearn

“IBUKU selalu mengancam akan mencabik- cabik aku menjadi delapan bila aku menjatuhkan ember, atau aku pura-pura tidak mendengar panggilannya untuk segera pulang saat hari telah senja dan teriakan jangkrik kian meninggi.”

Sepenggal paragraf di atas adalah awal dari cerita Kisah Klan Otori; Across The Nightingale Floor, karya Lian Hearn. Kono, menurut cerita, kisah ini ditulis oleh Lian Hearn dengan menyepi. Mencari kesunyian untuk dapat mengumpulkan semua ilham. Ya, tidak jarang memang, para penulis yang berhasil harus bersusah payah ketika menuangkan tinta penahnya. Diantaranya mungkin, seperti penulis Asmaraman Khoo Ping Hoo, Pram, atau penulis-penulis lainnya.






Kisah Klan Otori; Across The Nightingale Floor, memang lain dari lainnya. Seingatku, dari puluhan bacaan yang pernah kubaca, dan ratusan bahkan mungkin ribuan kisah yang pernah kujamah, hanya cerita Kisah Klan Otori ang memungkinkanku untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Ini, bukan karena hanya gaya bahasanya yang sungguh memikat, bukan karena metafornya yang meloncat-loncat, atau hanya karena ceritanya yang memang membuat terkagum-kagum. Kalau dilihat dari segala-galanya, mulai gaya bahasanya, metafornya, alur ceritanya, atau bahkan pesan cerita ini, sungguh mengagumkan.


Setidaknya, ada beberapa hal yang memikat di cerita ini; pertama; dari segi alurnya, jarang ditemui, kecuali ketika sang aku (Takeo) menceritakan tentang Kaede. Alurnya normal, tidak ribet seperti halnya kisah-kisah lainnya. Kisah dimulai dari masa kanak-kanak Tomasu yang akhirnya diganti nama oleh Lord Shigeru (Ayah Angkat Takeo), masa sedih, masa mencekam karena beberapa rahasia tentang Takeo mulai terkuak. Lalu perjalanan Takeo ikut berperang melawan Lord Iida yang ingin menguasai Tiga Negara sekaligus dan orang nilah yang telah menghancurkan perkampungan Takeo hingga diangkat menjadi anak angkat oleh Lord Shigeru dari Klan Otori.

"Dia memiliki semua ciri-ciri Kikuta: jari yang panjang, garis lurus yang melintang di telapak tangan, pendengaran yang tajam. Pendengaran yang tajam ini akan datang tiba-tiba di masa puber, terkadang diikuti dengan tidak bisa berbicara, umumnya sementara, tapi bisa juga selamanya...."

Takeo ternyata adalah keturunan Tribe Kikuta. Sebuah organisasi pembunuh bayaran yang terkenal kehebatannya. Dan ternyata, memang, di dalam diri Takeo menyimpan darah itu, darah seorang pembunuh. Sebab darah itulah, kelebihan-kelebihan dari moyangnya itu terus menghantuinya. Untung, Takeo dibesarkan oleh kaum Hidden sejak kecil yang terkenal dengan kelembutan dan kasih sayangnya, apalagi di sampingnya ada Lord Shigera yang memang terkenal kebijaksanaannya. Darah pembunuh yang dimilikinya tidka membuatnya menjadi jahat, bahkan kelebihan-kelebihan itu akhirnya menjadi berkah baginya, dna khususnya bagi klan Otori. Ketika masa puber, kelebihan-kelebihan itu benar-benar muncul, pendengaran telinganya menjadi begitu tajam, bahkan ia mempunyai kelebihan bisa menggandakan tubuhnya.

Muto Kenji, guru Takeo juga seorang Tribe pernah menyatakan bahwa, “ada lima keluarga Tribe. Mereka telah ada sebelum munculnya para bangsawan dan klan. Kisah ini berawal dari masa ketika sihir lebih kuat dari senjata, dan dewa-dewa inasih berjalan di bumi. Saat klan mulai bermunculan, dan orang-orang mulai membentuk ikatan berdasarkan kekuatan, Tribe tidak bergabung dengan salah satu klan. Guna melestarikan anugrah yang mereka miliki, mereka memilih untuk menjadi pengelana, pedagang, pemain drama, pemain sirkus, dan juga pemain sulap."

"Kikuta Isamu, yang aku yakini adalah ayahmu, termasuk salah satunya. Ibu dan ayah Isamu adalah sepupu sehingga dia menggabungkan anugrah paling kuat yang dimiliki Kikuta. Saat berumur tiga puluh tahun, dia menjadi pembunuh yang paling sempurna. Tak ada yang tahu berapa banyak yang telah dia bunuh; sebagian besar korbannya nampak seperti mati alami. Orang tidak tahu banyak tentang dirinya. Dia ahli membuat racun dari ramuan dari tumbuhan gunung yang dapat membunuh tanpa ada jejak."

Kedatangan Muto sebenarnya tidak hanya sekedar berpelesiran atau bekerja kepada Lord Otori, namun lebih dari itu. Kedatangannya khusus untuk menjemput Takeo, sebagai keturunan Tribe Kikuta. Namun, Takeo selalu menghindar, walaupun ia tidak mampu lari dari kenyataan bahwa dirinya adalah mlik Tribe Kikuta. Seandainya, dia menolak bergabung, akibatnya akan seperti ayahnya. Seeprti yang diceritakan oleh gurunya Muto Kenji. “Saat dia ke wilayah Timur—kau tahu daerah yang kumaksud—untuk mencari ramuan racun, dia menginap di desa milik kaum Hidden. Orang desa itu mengatakan tentang tuhan mereka, larangan untuk membunuh, dan tentang pembalasan di hari akhir—kau tahu itu semua, tak perlu kuceritakan lagi. Di tempat terpencil yang jauh dari pertempuran antar klan itu, Isamu merasa muak dengan hidup yang dia jalani. Mungkin dia menyesal. Mungkin juga karena kematian telah memanggilnya. Lalu, dia menarik diri dari Tribe dan bergabung dengan kaum Hidden."

Kedua; dalam hal SUDUT PANDANG, ada yang baru dalam cerita Lian Hearn ini. Sudut pandang dalam cerita ini tidak selamanya memakai ‘aku’ atau orang pertama. Namun, ada juga menggunakan ‘dia-an’ atau sudut pandang ke-tiga. Ini menjadi sebuah pelajaran khusus, bahwa dalam suatu cerita, pencerita tidak harus membuat Titik Sudut Pandang hanya satu sudut saja. Bisa juga diaduk antara sudut pandang orang pertama dengan ke-tiga. Dan ternyata, daya rasa dari bacaan seeprti ini lebih kuat dan melekat di hati.

Ketika Takeo bercerita tentang dirinya sendiri, ia menggunakan ‘aku-an’ sedangkan, ketika ia bercerita tentang Kaede – Putri sulung Lord Shirakawa, ia bercerita menggunakan ‘dia-an’. Dan inilah yang membuatku yakin, bahwa kelak –entah di Kisah Klan Otori bagian ke-dua, tiga atau empat-nya- Lady Kaede akan bersama. Mereka bersatu oleh cinta yang murni dan akibat pengorbanan yang tidak lazim.

Di sisi inilah, aku mendapatkan hal baru. Pelajaran baru tentang sastra. Bahwa Sudut Pandang bisa dibuat-buat berbeda dari lainnya. Dan tampaknya akan lebih menarik, karena dua sudut pandang itu dirangkapkan, sehingga kelemahan diantara keduanya saling mengisi dengan kelebihan masing-masing.

Ketiga; Dari segi kebahasaan dan metafor, cerita ini sungguh memikat hati. Banyak sekali ditemukan metafor yang meloncat-loncat dan berkilauan seperti berlian. Gaya bahsanya sungguh lugas, namun sarat makna yang terpendam. Cerita ini dibuat menggunakan akal sehat dan perasaan yang benar-benar jernih. Tidak mudah membuat cerita seperti ini, apalagi penulis telah berhasil membuat para pembacanya selalu penasaran di setiap babnya. Sehingga cerita ini tidak ditemukan ada klise dan jenuh. Apalagi sampai membuat bosan pembacanya.

Keempat; Pesan yang termuat di dalam cerita ini sungguh banyaknya. Seperti, pengorbanan cinta yang dipilih oleh Takeo sungguh menggugah. Lalu, ketenangan yang diperlihatkan oleh Lord Otori sungguh mengagumkan. Apalagi kebijaksanaannya. Belum lagi, kelebihan yang didapat oleh Takeo tidak membuatnya menjadi besar hati, sombong apalagi menjadi penjilat. Keteguhan dan ketulusan yang diperlihatkan oleh Takeo bisa dicontoh. Pengabdiannya terhadap Lord Otori yang tidak biasa. Dan betapa hebatnya pengorbanan terakhir Takeo, ketika dia harus memilih mengorbankan kekuasannya dan cintanya demi sebuah janji.

Akhirnya, betapa inginku untuk membaca Kisah Klan Otori bagian ke dua. Sebuah pertanyaan muncul di dalam hati. Apakah Takeo dan Lady Kaede masih tetap berjauhan? Dan apakah Takeo kuat memendam deritanya ketika harus ebrjauhan dengan kekasihnya itu? Semuanya akan terjawab, keresahan jiwa ini akan terobati setelah nanti membaca buku kedua itu.

“Jika bukan karena ulahmu, dia tak akan dikubur,” Pikir Takeo tanpa pernah mengucapkannya.


Kamar Apek, 18 Oktober 2008.



Baca Selanjutnya Bro..

Friday, August 01, 2008

Nefertiti; Pesona Telah Datang




Di depan Istana Putih terdapat taman yang sangat indah. Taman itu ditumbuhi oleh rumput yang hijau, terhampar seperti permadani berwarna hijau. Selain beberapa pohon kurma dan pohon palem, di dalam taman terdapat beratus-ratus bunga dengan warna yang bermacam-macam. Ada bunga teratai dengan berbagai warna dan ukuran, mawar dan lain-lainnya. Di samping taman itu, tidak terlalu jauh dari Istana Putih, terlihat anak sungai Nil meliuk-liuk, menari dan berirama dengan merdunya. Airnya bergelombang santun. Matahari yang sedang tersenyum malu-malu itu terlihat enak dipandang. Wajahnya bagai dihamburi oleh jutaan intan yang berkilauan indah. Kilauan air anak sungai Nil pun memancar seperti hamparan jamrud.

“Matahari itu yang membuat semuanya tampak hidup. Air sungai Nil berkilauan bah ditaburi intan-berlian. Kumbang datang menyapa bunga-bunga yang sedang mekar indah itu. Manusia mendapatkan kehangatan dan kehidupan. Matahari yang menghidupkan segala-galanya di bumi itu. Ya, matahari yang menghidupi segala makhluk, bukan Osiris, Horus, bahkan Seth atau dewa-dewa lainnya.” Di dalam dada anak kecil itu bergemuruh kata-kata yang memeberontak. Sungguh aneh, anak sekecil itu sudah mampu memikirkan hal yang sebesar itu. Anak kecil itu menoleh, ketika ia mendengar ada suara langkah kaki dari belakangnya.



“Nefertiti, apa yang sedang engkau lakukan di sini?” Gadis kecil yang dipanggil Nefertiti itu hanya diam. Kepalanya di balikkan kembali. Dua matanya yang selalu berbinar-binar terang tak jemuh-jemuhnya melihat matahari di timur itu. Seakan ia sedang menjawab, “aku sedang melihatnya. Melihat Dewa segala alam. Dewa yang memberi kenikmatan kepada semua makhluk di bumi ini.”

“Engkau menyukainya? Apakah engkau tahu, bahwa ia adalah Dewa Aten?” Kata anak laki-laki di sampingnya. Anak laki-laki itu sudah duduk di samping Nefertiti. Dua mata Nefertiti tiba-tiba terlihat lebih terang dari matahari yang ditatapnya itu.

“Aten?” Tanya Nefertiti tidak mengerti. Anak laki-laki yang ada di sampingnya tidak menjawab. Tiba-tiba saja anak laki-laki itu menjadi bisu. Tidak bisa bicara.

“Amenhotep, apa maksud perkataanmu itu? Setahuku, tidak ada Dewa bernama Aten dalam keyakinan kita. Bukankah begitu, Amenhotep? Ibu Tiye belum pernah memberi tahu kepadaku, bahwa dewa matahari itu bernama Aten. Mereka memang pernah bercerita, bahwa dewa matahari bernama Ra dan dewa bulan bernama Amon. Bukan dewa Aten! Lalu apa dewa Aten yang engkau maksud itu?” Nefertiti memburu. Anak laki-laki yang dipanggilnya Amenhotep itu tetap membungkam mulutnya. Mukanya ditekuk ke bawah.

Sebelum Amenhotep menjawab pertanyaan Nefertiti, ia terlebih dahulu melirikkan matanya ke kiri dan kanan. Tidak ada!, teriak hati kecil Amenhotep yang mempunyai nama lengkap Amenhotep IV. “Nefertiti, apakah engkau mau menjaga rahasia terbesarku?”

“Rahasia apa?” Tuntut Nefertiti. “Apakah engkau mau? Kalau mau, saya akan menceritakannya kepadamu.” Potong cepat Amenhotep. Nadanya memaksa. Dua matanya menyala seperti ada api di dalamnya. Nefertiti hampir terlonjak kaget ketika menemukan dua mata menyala itu. Setahunya, belum pernah ia melihat dua mata Amenhotep IV menyala seperti api. Ini pertama kalinya ia melihat. Namun, dua tangan Amenhotep memegang erat tangan Nefertiti. “Kalau tidak. Jangan banyak bicara. Dan lupakan perkataanku tadi. Jangan engkau sebarkan kepada orang lain. Mengerti!?!”

“Baiklah, saya akan menjaga rahasiamu,” Jawabnya kemudian. Itupun setelah ia berpikir, bahwa ada sesuatu yang unik dalam pikiran Amenhotep dan ada sesuatu yang ia ingin ketahui. Bukankah ia sendiri mengkultuskan matahari? Tidak ada salahnya untuk mengetahui rahasai terbesar seorang yang ia kagumi. Mungkinkah ia akan mengatakan bahwa Amenhotep menyukaiku?, kata hati kecilnya berharap-harap.

“Engkau mau bersumpah?” Ucap Amenhotep IV untuk menyakinkan. “Saya bersumpah demi para dewa; Isis, Nephthys, Hator, Osiris dan Horus, bahwa saya akan menyimpan rahasiamu, Amenhotep.” Sumpah Nefertiti sambil mengangkat tangan kanannya ke langit. Dua mata Amenhotep yang tadi membara, tiba-tiba padam seperti terkena air es oleh sumpah Nefertiti.

Wajah Amenhotep IV yang tadi tampak garang, tiba-tiba bercahaya oleh sebuah senyuman puas. Amenhotep IV telah berubah menjadi anak laki-laki kecil yang lugu, polos dan biasa. Semua pikiran, ambisi, dan keyakinannya dihalangi oleh sifat kekanak-kanakannya, kepolosannya dan keluguannya. Orang-orang disekitarnya tidak tahu, bahwa Amenhotep mempunyai gagasan, bisa disebut ambisi, yang berbeda dengan pendahulunya, atau bahkan ayahnya Amenhotep III sebagai Pharaoh di Mesir yang menguasai Nil dari hulu sampai hilir. Ayahnya adalah Pharaoh terbesar yang pernah menyatukan berbagai bangsa di dalam kekuasaannya dan memajukan roda pemerintahannya bersama ibunya Ratu Tiye. Kekuasaannya yang luas, meliputi berbagai bangsa dan ras menjadi damai dan tenang dalam pemerintahan ayahnya Raja Amenhotep III.

Ia sendiri adalah anak sulung dari Raja Amenhotep III dan akan menjadi pewaris kerajaannya setelah kakaknya Tuthmose meninggal di usia muda. Ia mempunyai tiga saudari yaitu Beketaten, Sitamun, and Isis. Kelak ia akan menjadi Pharaoh terkenal dan diingat banyak orang. Gayanya yang nyentrik, penuh seni, pembaharuan dan satu-satunya Pharaoh Mesir yang tidak mau disembah, dan pembaharuannya dalam keyakinan dinasti ke-18 akan banyak diingat orang setelahnya.

Sambil berucap, Amenhotep menatap matahari yang sedang bersinar terang-terangnya itu. Tatapan matanya kadang-kadang jatuh ke arah wajah Nefertiti yang sedang mekar-mekarnya. “Wajahnya tiap hari tambah sedap dipandang, benar-benar sesuai dengan namanya. Nefer-titi, Pesona Telah Datang! Suatu hari nanti, saya ingin dia yang mendampingiku duduk di kursi singgasanah kerajaan ini.” Bisik hati Amenhotep saat matanya jatuh di pipi kanan Nefertiti.

Nefertiti menoleh seakan merasakan debaran jantung Amenhotep. Ia merasakan ‘sinyal-sinyal cinta’ Amenhotep. Sebuah kesepakatan suci yang tersimpan rapi di dalam hati Amenhotep. Begitu pun Amenhotep, Nefertiti pula tidak mampu menyembunyikan rasa sukanya kepada Amenhotep. Bukti rasa sukanya adalah sumpahnya untuk menyimpan rahasia Amenhotep. Sumpah yang baru diucapkannya bukan sekali-kali karena ia takut dengan ancaman Amenhotep, namun itulah lagu hatinya, pengakuan cintanya. Ia merasakan betapa berharganya suatau saat jika ia bisa memimpin rakyat Mesir bersama Amenhotep. Menjadi Ratu yang ikut serta dalam pemerintahan seperti halnya Ratu Hatshepsut. Ratu Mesir terhebat dalam sejarah Pharaoh di Mesir selama berabad-abad. Hatshepsut adalah Pharaoh perempuan yang pernah memegang kerajaan di Mesir paling lama dan hebat dari Pharaoh-pharaoh perempuan lainnya. Walaupun ambisi Nefertiti tidak sebanding dengan Amenhotep, namun ambisi dua anak baru memasuki dunia dewasa itu bisa dikatakan sepadan, bahkan sama. Membangun keyakinan baru dan menghapus keyakinan-keyakinan lama.

“Suatu saat nanti, ketika saya sudah memegang Waas –tongkat kekuasaan atau simbol kekuasaan- maka pertama-tama yang ingin kulakukan adalah menjadikan Aten sebagai satu-satunya dewa bagi seluruh makhluk di bumi. Semua dewa yang disembah oleh nenek moyang kita hanyalah fiksi. Tidak nyata. Dewa matahari Aten-lah yang tampak dan jelas fungsinya.”

“Ya, akhir-akhir ini saya juga memikirkannya ketika sedang duduk di sini disaat matahari baru muncul atau terbenam. Di otakku sering bermunculan pertanyaan, siapa sebenarya dewa bagi bumi dan makhluk yang mendiaminya ini? Apakah Isis yang menciptakan air sungai Nil dari tetesan air matanya, atau Osiris yang menjaga Nil dari kehancuran oleh Seth, ataukah Horus yang menjaga dari datangnya kegelapan dan utusannya Apeb makhluk paling menakutkan itu. Saya tidak tahu dan percayalah, bahwa saya adalah orang pertama yang akan mendukung keinginanmu itu, Amenhotep.”

Dua mata Amenhotep berkaca-kaca mendengar jawaban tidak terduga-duga Nefertiti. Hampir saja ia memeluk Nefertiti seandainya ia tidak cepat-cepat menyadari, bahwa dewa Aten melihatnya. Betapa malu dirinya dilihat dewa Aten. Ingin rasanya ia mengajak Nefertiti lari ke dalam Istana Putih dan memeluknya di sana. Menciumnya dan berterima kasih atas dukungannya. “Inilah ratuku nanti!” Hati Amenhotep berteriak kencang. Ia berharap dewa Aten tidak mengetahui bahasa hatinya.

<><><><><><><><><><>

Tidak ada yang tahu bagaimana isi otak Amenhotep. Jalinan pemikirannnya dan ambisisusnya. Beberapa tahun kemudian, ketika ayahnya Amenhotep III memaksanya menikah, sebenarnya, yang ingin ia pilih adalah Nefertiti. Namun sang ayah, memilihkan adiknya Sitamun sebagai calon permaisuri untuknya. Tidak mungkin ia menolaknya. Adat istiadat keluarganya memang harus dinomor satukan, kecuali apa yang sudah diyakininya tentunya, akhirnya ia menerima walaupun dengan hati gunda dan tidak senang. Nefertiti yang mengetahui perjodohan itu memilih mengurung di dalam kamar dan jarang keluar. Di dalam kamarnya itu, ia bisa menumpahkan semua kesedihannya melalui air mata. Kadang-kadang ia berdoa kepada dewa Aten yang telah diyakininya, berharap perjodohan itu gagal dan berpindah kepadanya. Apakah ada keajaiban seperti itu?

Jalinan asmaranya dengan Amenhotep IV semakin kuat di dalam penderitaan. Bukan ia semakin kecewa atau putus asa, akan tetapi ia semakin kuat berdoa kepada dewa Aten, ketika matahari pagi menyinari kamarnya lewat jendela. Ia tahu, kejaiban akan datang kalau keyakinananya kuat dan landasan pikirannya benar. Semakin kuat ia berdoa. Semakin ia jarang bertemu dengan Amenhotep IV, kekasihnya. Ia hanya bertemu beberapa kali dalam sehari yaitu ketika makan bersama atau ketika ia sedang keluar kamar untuk mencari bunga lotus, bunga kesukaannya dan lambang kecantikannya.

“Nefertiti, apakah engkau marah kepadaku? Sehingga engkau selalu berdiam di dalam kamar dan tidak pernah mau menemuiku.” Tanya Amenhotep IV suatu sore hari ketika mereka bertemu di pinggir anak sungai Nil.

Nefertiti menghindari pandangan Amenhotep IV yang tampak selalu memaksa. Ia tahu bahwa, bagaimana pun juga, ia akan tetap bisa berdampingan dengan Amenhotep IV. Tadi malam ia diberi tahu oleh ibu tirinya Ratu Tiye, bahwa ia akan dicalonkan sebagai selir bagi Amenhotep IV. Ia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa selir lebih baik daripada ia sama sekali tidak berdampingan dengan Amenhotep IV. Ia tidak bisa hidup tanpa Amenhotep IV, seperti halnya ia tidak akan pernah bisa hidup tanpa dewa Aten. Ia tidak menjawab pertanyaan Amenhotep IV. Ia memilih pergi menghindar. Hatinya sepertinya hancur berkeping-keping. Panggilan Amenhotep IV tidak dihiraukan lagi.

<><><><><><><><><><>

Suatu hari, ketika Amenhotep IV sudah memegang Waas dan menikah dengan adiknya Sitamun, hati Nefertiti semakin hancur. Ingin rasanya ia menceburkan dirinya ke dalam sungai Nil, berharap ular raksasa sebagai lambang kegelapan yaitu Apeb melahapnya. Menguasainya. Dan jiwa jahatnya memasukinya untuk membalas dendam atas sakit hatinya, karena Amenhotep IV memungkiri janjinya. Namun dewa Horus dengan lambang burung elang yang dijadikan lambang di mahkotanya masih membukakan jalan untuknya. Menjernihkan otaknya dan memberinya ide baru.

Beberapa bulan kemudian, Sitamun meninggal setelah menderita sakit cukup lama. Kematian Sitamun memberinya lowongan untuk mendapatkan Amenhotep IV seutuhnya. Dan benar saja, bahwa permaisuri yang dipilih oleh Amenhotep IV sendiri adalah dirinya. Amenhotep IV telah menjadi Pharaoh dan siapa pun tidak berhak memaksanya, menyruhnya atau menggertaknya. Ayahnya Amenhotep III pun tidak berhak memaksanya untuk menikah kepada siapapun, bahkan ibunya Tiye sekalipun, apalagi para rakyatnya.

Nefertiti sekarang menjadi perempuan pertama di Mesir. Kekuasannya hanya terbatas atas suaminya, bahkan kadang-kadang suaminya menurut kepadanya. Ambisi Nefertiti semakin melambung. Suaminya Pharaoh Amenhotep IV telah mengubah namanya menjadi Akhenaten (Jiwa dari Aten) dan nama Ratu Nefertiti menjadi Neferneferuaten-Nefertiti (Dewa Aten Memancarkan Sinarnya, kerana Pesona Telah Datang). Agama baru telah dihidupkan. Rakyat Mesir tidak lagi beragama politeis akan tetapi menjadi agama monoteis. Mereka mengikuti cara sembahyang Akhenaten ketika menyembah Dewa Matahari Aten, satu-satunya dewa yang disembah dan dipercaya. Kalau Akhenaten hanya memperbaiki dalam hal cara ibadah kepada Dewa Aten, berbeda dengan Nefertiti yang membangun dan memajukan hal-hal lainnya. Ia yang mampu meredam gejolak pemberontakan para pendeta Amon yang kehilangan pekerjaannya akibat pergantian agama oleh Akhnaten. Bahkan setelah suaminya Akhenaten meninggal, nanti ia akan bertahta sendirian dan merajai Mesir dengan nama lain yaitu Smenkhkare. Di waktu akhir pemerintahan Akhnaten pun, nama Nefertiti sudah tidak lagi terdengar, hanya nama Smenkhkare yang menjadi mashur dan banyak dikenal orang.

Setelah suaminya Pharaoh Akhnaten meninggal, ia mengubah namanya dan memindahkan kota pemerintahannya dari Amarna ke Memphis. Dialah Nefertiti yang agung dan Pesona Telah Datang yang pernah memerintah dengan Akhnaten sebelum masa pemerintahan putra tirinya Tutankhamen. Ia menghilang setelah berkuasa bersama suaminya Akhnaten dan mengubah kultur Mesir menjadi baru. Perkawinan Nefertiti dengan Pharaoh Akhnaten hanya dikaruniai enam anak perempuan, yaitu Meritaten, Meketaten, Ankhesenepaten (Berubah Ankhesenamun), Neferneferuaten, Neferneferure, Setepenre. Ia pergi bersama angin dan hilang ditelan ombak Nil. Jiwanya terbang dan bersinar seperti Dewa Matahari Aten yang diyakininya. Menyinari bangsanya. Mengontrol kekuasaannya di Dunia Kematian. Nefertiti dan Akhnaten tetap hidup dengan wajah baru yang bersinar-sinar terang.

NB; Banyak teori mengenai Nefertiti. Identias asli Nefertiti juga masih dalam perdebatan para Arkeolog di dunia. Apakah ia asli orang Mesir atau orang Mittani (Iran) yang didatangkan untuk perjodohan. Siapa nama orang tuanya, apakah ia putra dari Ay yang mempunyai istri bergelar ‘Ibu Susuan Nefertiti’. Atau konspirasi lainnya. Hingga sekarang, Nefertiti menjadi bacaan paling unik dan mengesankan. Jasadnya tidak ditemukan seperti jasad-jasad para Pharaoh lainnya. Ia terkenal dengan patung kepalanya yang ada di Musium Berlin, Jerman.


Baca Selanjutnya Bro..

Monday, February 25, 2008

Film Ayat Ayat Cinta, between realism and shortcut to money Bg 1

Film Ayat Ayat Cinta;
Between realism and shortcut to money Bg 1

Oleh; Elfenan


Novel Ayat Ayat Cinta atau biasa disingkat dengan AAC karya Kang Abik, siapa yang tidak tahu?. Bahkan setiap orang yang ditanya akan mengacungi jempol atau bahkan memberikan keempat jempol kedua kaki dan tangannya sekaligus. Bahkan seandainya saya ditanya tentang AAC, mungkin saya akan menambah dengan sepuluh jempol lagi dengan meminjam jempol kaki dan tangan orang lain. Itulah fenomena dari sebuah novel yang telah berhasil mendobrak sejarah kesusasteraan Indonesia akhir-akhir ini. Entah berap puluh kali novel itu dicetak ulang dan entah berapa ratus ribu eksemplar yang telah dicetaknya?.





Pada tanggal 24 Pebruari 2008 pagi, saya sempat mengobrol lewat sms dengan ‘kekasih’. Yang saya obrolkan bukan soal apa atau siapa, namun tentang film AAC yang kabarnya akan segera ditayang lebarkan di Indonesia (bahkan sudah ditayangkan). Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa film ini tidak akan bagus, karena pembuatannya tidak benar-benar pada tempatnya. Pada tahun 2007 kru yang dipimpin oleh sutradara Hanung Bramantyo tiba di Mesir, kegiatan pra-produksi film ini ujung-jungnya kandas di tengah jalan. Padahal semuanya sudah dipersiapkan, dari mulai riset tempat sampai mau mulai mengkontrak artis Mesir. Lebih jauh lagi, aktor Fedi Nuril pun sempat bertempat tinggal lama di Mesir, bahkan dia belajar untuk mempelajari kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir.

Namun, semuanya gagal, karena ada sedikit masalah antara pihak perfileman Indonesia dengan Mesir. Hanung mengatakan bahwa kegagalan itu karena adanya miskomunikasi antara kedua pihak. Dalam wawancara Gatra dia mengatakan, “Maksudnya kecurangan: kami belum kontrak, belum ada kesepakatan, tapi mereka sudah men-support kami. Ngajak kami makan, hunting lokasi, akhirnya di-charge mahal,”. Lalu masalah mulai berbelit ketika pihak Mesir meminta uang yang banyak kepada pihak Indonesia. Ternyata, untuk membuat film di Mesir tidak muda. Setidaknya tidak hanya Hanung saja yang mengalami. Pihak lain, seperti pembuatan film ‘The Librarian’ juga mengalami hal senada. Ujung-ujungnya mereka membuat film dengan latar belakang Mesir, namun tempta suttinya tidak pada tempatnya.

Mungkin karena sudah terlanjur mengekpos ke luar, sehingga proyek film Ayat Ayat Cinta mau tidak mau harus digarap juga, walaupun tidak pada tempatnya. Setidaknya itulah yang mungkin dilakukan. Akhirnya baru pertengahan tahun 2007 terdengar kabar bahwa Hanung mencoba membuat replika setting dengan berleyar di tiga tempat, yaitu Indonesia (Semarang), Malaysia dan terakhir India. Ini tidak heran kalau produsernya masih ada keturunan India, yaitu Punjabi.

Apa yang saya pikirnya sebelumnya ternyata benar, bahwa berurusan dengan Mesir tidak lah mudah. Apalagi novel itu ada ‘bau kritik pedas untuk Mesir’. Belum lagi, Mesir memang mata duitan dan menganggap negaranya adalah negara yang paling maju, beradab, tinggi, aman dan seterusnya. ‘Kesombongan’ Mesir seperti itu tidaklah aneh bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.

Akhirnya proyek film Ayat Ayat Cinta jadi juga setelah emngarungi tiga negara. Ketika saya melihat triler film ini, saya sempat tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman. Bahkan ada teman-teman yang berkata dengan nada sini. “Wah, orang-orang ini memang edan. Hanya dengan biaya sedikit, mereka ingin mengeruk keuntungan sangat banyak.” Perkataannya ini membuatku agak aneh dan tidak paham. Akhirnya ia menjelaskan dengan detail. Kata teman saya itu, biaya membuat film di Mesir tidak murah, dari perizinan sampai hanting lokasi dan peminjaman alat-alat perfileman sangat mahal. Kata dia, para sutradara dan produser Indonesia masih belum siap dengan keadaan ini. Lalu ia berseloroh begini, “ Bagaimana perfileman Indonesia maju, kalau mereka tidak berani membuat film yang bagus, walaupun dengan biaya yang sangat mahal.”

Ujung-ujungnya trailer Ayat Ayat Cinta menjadi bahan tertawaan, apalagi banyak tempat yang diperlihatkan di film itu yang salah atau setidaknya kurang pas dan memuaskan. Saya lihat dengan seksama trailer dan klip Ayat Ayat Cinta, dan ternyata memang terdapat banyak kenyataan yang mengiriskan dna ambigu. Setidaknya ada beebrapa yang kalau dihubungkan dengan kenyataan di Mesir atau di novelnya tidak pas. Seperti tempatnya tidak di Helwan, namun berada di kawasan Nasr City, atau lebih tepatnya di daerah hayl Asyir di daerah Gami’. Alamat Swesri B Hayl Asyir jelas berada di daerag Gami’, Nasr City atau tepatnya berada di apartemen yang pernah saya tinggali. Lalu keadaan Nil, memang kawasan sungai Nil yang ada di film itu bukan aslinya, karena suttingya berada di Sungai Gangga, India.

Apa yang dikatakan Maria tentang Nil. “Kalau tidak ada Nil, pasti tidak ada Mesir” kata Maria kepada Fahri. Atau ucapan senada pernah diucapkan seorang sejarawan dan filosof Hirodotus ratusan tahun yang lalu, bahwa Mesir adalah hadiah dari sungai Nil. Kalau keadaan sungai Nil di film AAC terlihat sangat sepi dan tidak didapati perumahan, padahal hakikat dan kenyataannya sungai Nil selalu ramai dan dipinggirnya dipenuhi bangunan pencakar langit. Kawasan Nil atau akrap disapa Kornish Nil tidka pernah lenggang dan sepi, jadi bagaimana dengan film ini. Apakah hal itu tidak lucu dan akan dibuat lelucon dan bahan tertawaan orang.

Ditambah lagi tentang sebuah tanda salib yang berada di tangan Maria. Tanda salib memang akrap terlihat menempel ditangan kiri setiap penduduk Mesir yang beragama Kristen atau Koptik, namun letaknya salah. Kalau kita pernah ke Mesir, maka tidak akan pernah dijumpai ada tanda salib yang menempel di tangan kiri seperti itu, yang ada hanya terletak di luar telapak tangan kiri, atau tepatnya berada di atas ibu jari, itupun ukurannya kecil tidak sebeasar itu.

Lalu beranjak dari tato Hena atau Nuba yang terlihat menghiasi tangan Aisha. Kalu dilihat secara detail, maka akan terlihat perbedaan antara benar-benar tato perempuan Nuba dengan tato India, baik dari corak gambarnya atau warna yang dihasilkan. Lalu jendela yang ada di rumah Maria, jendela dengan ornamen seperti itu jarang ditemui di apartemen-apartemen Mesir, kecuali apartemen kuno yang sudah berumuran ratusan tahun. Jendela dengan ornamen seperti itu banyak ditemui di daerah Khan el-Khalili dan el-Khalifa atau di tempat-tempat bersejarah lainnya, namun di derah seperti Nasr City atau lainnya sangat jarang.

Beranjak lebih jauh lagi, cara pengkisahan yang ada di fil Ayat Ayat Cinta ternyata berbeda dari novel aslinya, bahkan ada penambahan yang ambigu dan pengurangan sesuatu yang mestinya lebih penting. Ada kelakar teman lainnya ketika nonton film ini, kata dia, “Film ini membuat image mahasiswa Indonesia akan hancur, bahkan akan menghancurkan reputasi dan pesona asli novelnya.”. Saya sepakat dengan perkataan teman saya itu, bahkan film yang sealiran dengan fil ini, seperti The Da Vinci Code, Imarah Ya’kubiyan (Apartemen Yakub) dan lainnya saja selalu diperfilemkan sama dengan asli novelnya. Sehingga keaslian film itu terjaga dan aura pesona novelnya tidak keganggu dengan munculnya penggambaran lewat audio-visual. Kalau dipikir-pikir memang lucu dan membuat hati jadi geli.

Apa yang saya tulis dahulu ternyata tidak omong kosong dan terbukti bahwa film ini tidak akan membuat tahjub mala menjadi bahan tertawaan orang. Bahkan kemungkinan akan ada sebagian para pengagum novelnya yang tidak puas. Namun apa yang telah dilakukan Hanung dan krunya memang hebat, patut mendapatkan ancungan jempol. Saya hanya berharap semoga suatu saat ada film Ayat Ayat Cinta dengan edisi revisi atau barunya. Diamana filmnya benar-benar sesuai dengan jalan cerita novelnya yang mengagumkan.

Akhirnya, saya berdoa semoga para penonton tidak mempunyai pikiran seperti saya terhadap film ini. Semoga penduduk Indonesia memberikan anugerah sebesar-besarnya terhadap film ini, bukan anugerah pelecehan. Dan selamat menikmati film ini walaupun hakikatnya para penonton ‘dikibulin’.

Khan el-Khalili, 25 Pebruari 2008

Baca Selanjutnya Bro..

Wednesday, February 13, 2008

Pram dan Kegelisahannya


Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sebuah nama yang masih terngiang-ngiang ‎di gendang telingaku. Masih terbayang senyumnya yang telah merasakan ‎kemenangan atas segala usahanya selama ini. Ya-ya, Pram menjelma menjadi ‎sosok yang menyenangkan bagiku- getaran jiwanya yang kumaksud -. Masih ‎ingat sekali kapan pertama kali nama Pram kudengar, saat ia ditangisi oleh ‎setiap anak bangsa. Ketika itu banyak teman-teman menyebut namanya seperti ‎mengalahkan sebuah dzikir kepada Tuhannya sendiri. Apakah saat itu Pram ‎telah sedemikian terkenal sehingga Tuhan pun bisa dilupakan? Tentunya tidak! ‎Beberapa hari ini, setelah aku selesai membaca serial novel sejarah Gajah Mada ‎milik Langkit Kresna Hariadi, aku berestafet membaca karya Pram. Bergetar dan ‎berdegup kenjang jantungku ketika baru menginjak lima halaman pertama. ‎Salah satu Roman tetraloginya yang berjudul BUMI MANUSIA atau This Earth ‎of Mankind telah habis kulalap. Kecepatan membacaku terhadap roman ini tidak ‎secepat ketika membaca novel-novel yang lain, karena aku banyak menemukan ‎perkataan Pram bah seperti intan. Berkilau indah dan menarik perhatian. Dan ‎sangat ambigu jika dipikirkan dengan terperinci.‎





Gaya berceritanya cukup mengalir dan perkataannya hampir tidak ada ‎kemandekan. Ini adalah karya yang unik sekaligus jarang. Aku menemukan ‎keunikan pada karya Pram yang satu ini dan (Apakah semua karyanya sama ‎seperti Bumi Manusia, akupun belum tahu). Karyanya ini ternyata pernah ‎dioralkan sebelum ditulis pada tahun 1973 dan ditulis dalam bentuk cerita ‎Roman pada tahun 1975. Ini adalah dasar yang unik yang pernah kubaca dan ‎kuketahui selama ini.‎

Melihat tulisannya yang tampak menggebu-gebu dan berkobar-kobar, tentu ‎tidak akan jauh dari sebuah psikitis sang penulis. Mungkin, Pram adalah ‎manusia yang super, bukan saja ia seorang penulis ulung, namun lebih jauh lagi ‎ia seorang Psikolog atau psikater hebat yang pernah kuketahui. Seorang penulis ‎memang harus mampu mempengaruhi pembacanya, sehingga bagi seorang ‎penulis sangat dibutuhkan sebuah ilmu psikolog. Ilmu ini akan dapat ‎menunjang terjadinya pengaruh terhadap pembaca.‎

Pram telah mampu lebih jauh dari pada hanya seorang penulis kawakan dan ‎psikater, ia juga seorang yang selalu mengedepankan ideologi keadilan, ‎kejujuran, kebersihan hati dan pemberontakan atas ketidak-benaran segala apa ‎yang ada di bumi. Setidaknya roman BUMI MANUSIA telah memuat berbagai ‎macam sindiran terhadap politik kolonial Belanda zaman dahulu (Dan apakah ‎hanya kolonial Belanda saja yang menjadi sasaran kepedasannya. Ini tentu ‎tidak!). Roman ini tidak hanya membelejeti sebuah kesalahan konsep kolonial ‎Belanda, namun juga dapat dijadikan tamparan pemerintahan saat. ‎

Kisah cinta yang dipaparkan cukup membuat bulu ronaku merinding. Bahkan ‎aku begidik ketika sampai pada babak pertentangan dan akhir dari buku ini. ‎Aku hampir menjerit ketika secara beruntun Pram menuturkan keadaan yang ‎serba tidak pasti dan permasalahan. Memang itulah sebuah permasalahan yang ‎hingga saat ini belum juga tuntas. Dari perbudakan, perebutan kekuasaan, ‎kesemena-menaan, kekuasaan otoriter, poligami, cinta, penghianatan dan ‎kesetiaan. Tentang kesamaan hak tanpa dipengaruhi oleh warna kulit, agama, ‎ras, dan lain-lain adalah bumbu yang selalu membuat batuk setiap orang. Inilah ‎Roman yang membuat hatiku terguncang dahsyat ketika membacanya.‎

Kalau dilihat dari segi tulisan, apa yang kukatakan di awal tulisan sebenarnya ‎tidak sebuah pujian omong kosong belaka. Tulisannya yang tampak tegas dan ‎terasa menggebu-gebu sangat mewakili apa itu sebuah roman pemberontakan. ‎Ya-ya, pemberontakan tentang ketidak-benaran sebuah konsep umum dan ‎konsep perbedaan atau perbedaan tatanan kehidupan di dalam sebuah ‎kehidupan. Kalau tulisan Pram bisa disandarkan dengan ilmu BALAGHA di ‎Arab, maka tulisan Pram sudah mewakili apa yang dinamakan IJAZ dan I’NAB. ‎Apa itu Ijaz? Ijaz adalah sebuah tulisan yang sedikit namun sarat makna yang ‎banyak dan luas. Sedangkan I’nab adalah memperpanjang sebuah tulisan ‎berdasarkan makna yang dibutuhkan. Tulisan Pram yang tampak ringkas, padat, ‎dan pendek itu telah mewakili makna yang luas. Ambigu yang dimainkan oleh ‎Pram dalam tulisannya patut dicermati dan dinikmati. Kalau mengingat tulisan ‎Pram yang ambigu, setidaknya aku mengingat sosok novelis tua asal Mesir. ‎Naguib Mahfouz (1911-2006) mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang tidak ‎kalah dengan Pram. ‎

Novelis Naguib Mahfouz mendapatkan nobel sastra Swedia lantaran tulisannya ‎yang ambigu, seperti halnya Pram yang mendapatkan penghargaan besar ‎melalui menjadi nominator nobel sastra Swedia. Ada satu perkataannya yang ‎hingga saat ini masih mendengung di telinga, yaitu ketika Pram menulis sebuah ‎perkataan yang tidak kalah indahnya dengan intan dan berlian. Pram berkata; ‎TANPA SEMANGAT, TAK AKAN ADA API. Perkataannya ini sangat ringkas ‎dan padat, namun penuh makna yang panjang dan luas sekali. Setidaknya ‎perkataannya itu telah mewakili sebuah ideologi yang mutlak telah dimiliki oleh ‎seorang Pram. ‎

Begitu pun dengan tulisannya yang berbunyi; Hidup bisa memberikan segala ‎pada barang siapa tahu dan pandai menerima. Tulisannya yang satu ini bisa ‎dikatan akan menjadi sebuah catatan emas bagiku. Lalu datang yang lain; ‎Seseorang harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim ‎tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya. Atau; Seorang terpelajar ‎harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.‎

Mungkin, yang mendasari lahirnya Roman BUMI MANUSIA adalah ketidak-‎puasannya tentang ketidak-adilan Orde Baru saat itu. Cerita yang dikisahkan ‎oleh Pram, kalau bisa ditarik benang merahnya, maka akan bisa mewakili cerita ‎ketidak-enakan Pram ketika menjadi tahanan atas ketidak-salahannya. Menjadi ‎tahanan yang tidak mempunyai kebebasan ternyata tidak enak dan menyakitkan. ‎Bahkan aku yakin, bahwa Pram tidak akan pernah memaafkan atas ketidak-‎adilan ini. Bahkan aku sendiri tidak rela atas semua itu terjadi. Ketika membaca ‎Roman ini, aku bisa merasakan dengan pasti bagaimana rasanya KETIDAK-‎BEBASAN, padahal raga dan tubuh ini milik diri sendiri, bukan milik orang lain. ‎Setidaknya Pram mengajarkan kepadaku, bahwa setiap manusia memiliki hak ‎yang sama dan kebebasan yang sama, jangan sok menjadi TUHAN yang otoriter. ‎Bahkan Tuhan pun bukan sosok yang otoriter dalam segala hal, Tuhan adalah ‎yang memberi pilihan pada setiap makhluknya. Dan bagaimana ada manusia ‎yang berani sesombong itu mencoba bersaing dengan Tuhan sendiri?.‎

Roman yang mengikuti madzab romantisme ini membuatku banyak ‎mengumpat, lantaran endingnya yang menyakitkan. Setidaknya tokoh Minke ‎‎(baca; Mingke) dengan Annelies membuat hati ini ketar-ketir sedak dini. Pram ‎juga dapat menggambarkan setiap tokoh dalam Roman ini sedemikian jelas, dari ‎Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, tuan Mellema, dua Robert dan lain-lainnya.‎

Akhir ceritanya cukup menyayat hati, tidak kalah dengan cerita Layla dan ‎Majnun, namun lebih menyyat hati lagi. Kalau Layla dan Majnun bisa bertemu ‎lagi walaupun dalam kematian, namun cerita ini diakhiri dengan perpisahan ‎antara Minke dan Annelies. Sungguh menyakitkan.‎

Melihat ini, aku bisa melihat bahwa sosok Pram selalu gelisah, baik tentang ‎masalah kehidupannya sendiri, atau ketika dia melihat kehidupan orang lain. ‎Kegelisahannya itu ditulis dan akhirnya bisa dinikmati oleh orang lain. Tidak ‎nyana, bahwa sebuah kegelisahan yang berkobar-kobar akhirnya bisa ‎mempengaruhi orang lain hingga begitu rupa. Ah, aku berharap kegelisahan itu ‎akan mendapatkan obatnya.‎

Dan akhirnya aku bisa berbangga bahwa aku pernah mengenal seorang Pram. ‎Entah apakah di tanah air sudah bisa melahirkan Pram ke dua. Dan apakah ‎suatu saat akan ada sastrawan tanah air yang bisa menembus nobel sastra ‎Swedia setelah Pram?. Semoga saja tingkat imajinasi di tanah air meninggat ‎setelah ditinggal Pram.‎

Bathniyyah, tanggal 12 Pebruari 2007 ‎



Baca Selanjutnya Bro..

Saturday, February 02, 2008

Dongeng Mahapatih Gajah Mada; Pak Langit Kresna Hariadi



Hampir saya tidak mengenal apa itu lelah, penat, capek, tidur, ngantuk, makan, bahkan buang hajat sekalipun. Adalah tiga seria novel Gajahmada milik Langit Kresna Hariadi (LKH) habis saya santap mulai dari seri pertamanya; Gajahmada, lalu seri ke dua Gajahmada; Bergelut dalam Kemelut TAHTA dan ANGKARA, lalu seri ke tiga-nya Gajahmada; Hamukti Palapa, selama lima hari berturut-turut tidak ada hentinya. Kalau bisa digambarkan dalam bentuk makanan, tentu tiga novel sejarah yang berlatar belakang tentang MAHAPATIH AMANGKUBUMI GAJAH MADA itu bisa dikatakan makanan yang sangat lezat, tidak hanya menjadikan perut yang tadinya lapar menjadi kenyang, namun menjadikan tubuh sehat, segar, dan menambah gizi yang banyak, bahkan menjadikan otak menjadi sedemikian segar.





Buku pertamanya dengan judul, Gajahmada; menceritakan tentang kisah pergolakan pada zaman Majapahit atau Wiwatika berlangsung. Pada saat itu terjadi makar atau pemberontakan yang dilakukan oleh Rakrian Kuti dan teman-temannya yang ingin berangan-angan menjadi raja Majapahit. Pemberontakan yang akan dilakukan oleh Ra Kuti dengan teman-temannya itu berhasil diendus oleh bekel Gajahmada. Pimpinan pasukan prajurit istimewa Bhayangkara itu berhasil menyelamatkan Raja Majapahit Prabu Sri Jayanegara dari percobaan pembunuhan dengan di bawa ke Bedander (LKH menyebutnya Bedadu yang akhirnya diluruskan oleh para sejarawan). Keberhasilan Gajahmada tidak hanya berhasil menyelamatkan Prabu Sri Jayanegara atau Kalagemet dari pembunuhan, namun berhasil merebut kembali tahta kerajaan dan berhasil membungkam pemberontakan Ra Kuti untuk selamanya.

Pada buku ke-dua dengan judul Gajahmada Bergelut dalam Kemelut TAHTA dan ANGKARA, menerangkan tentang kisah meninggalnya Prabu Sri Jayanegara diracun oleh Ra Tanca. Kematian Prabu Sri Jayanegara ini diikuti oleh beberapa misteri siapa yang berhak menempati damar kencana atau kursi kerajaan. Sekali lagi Gajahmada ternyata mempunyai andil yang tdak sedikit dalam perubahan kerajaan Majapahit, dia dengan kecerdasan dan penglihatan masa depannya memberikan pendapatnya kepada Ibu Suri Gayatri untuk memilih dua adik mendang Prabu Sri Jayanegara, yaitu putri Sri Gitarja dan putri Dyah Wiyat. Dia juga berhasil memadamkan beberapa pemberontakan kecil dan misteri-misteri pembunuhan yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk mengail ikan di tempat yang keruh. Keberhasilannya kali ini membuat pangkatnya diangkat lagi dan bahkan ditarik dari Daha ke istana kembali.

Pada buku ke-tiga dnegan judul Gajahmada; Hamukti Palapa; menerangkan tentang kisah sepak terjang Mahapatih Amangkubumi Gajahmada lebih hebta lagi. Pada kisah ini Gajahmada dibantu oleh pasukan Bhayangkara, Jalapati dan Sapu Bayu. Dan lebih-lebih atas bantuan temannya Aditiawarman putera Raja Melayu dan termasuk sepupu dari Prabu Sri Jayanegara. Pemberontakan Keta dan Sadeng dapat diselesaikan oleh Gajahmada dengan harga yang snagat murah, karena memang itulah kejeniusan berperang Gajahmada. Bahkan lebih jauh lagi dua pusaka Cihna gringsing lobheng lewih laka dan songsong Udan Riwis yang semula hilang berhasil didapatkan kembali. Dari keberhasilan demi keberhasilan itu, Gajahmada yang semula hanya berpangkat bekel dinaikkan menjadi Mahapatih Amangkubumi Mahapatih Amangkubumi. Di sini diterangkan pula bagaimana Mahapatih Gajahmada nebgucapkan Sumpah Palapa-nya.

Gaya bahasa yang dipakai oleh pak LKH sangat lugas, cair, dan tidak menyesatkan. Membaca tulisannya seraya saya seperti menontot film dengan adegan-adegannya yang terlihat jelas dipelupuk mata, baik adegan yang paling kecil pun. Setiap kata perkata dirangkai seperti mantra yang dapat mengantar pembacanya masuk ke sebuah dunia yang dihuni oleh pusaran badai, badai yang dapat menyeret pembacanya untuk semakin penasaran dan hanyut di sebuah dunia ratusan tahun silam.

Bagaimana tidak? Kalau setiap perkataan (tulisan) yang disajikan oleh LKH selalu menjajikan sebuah kegairahan untuk segera dapat menyelesaikan setiap detail rancangannya. Kejelasan dan sihir tulisannya membuat pembaca semakin bergairah untuk segera me-blejeti ¬setiap pakaian intrik di dalamnya, bahkan kejelasan tulisannya membuat saya seperti hadir dan melihat dengan dua mata kepala kisah di masa silam itu.

Sempat berkali-kali saya dibuat heboh dengan tulisannya, hingga saya berkali-kali harus bergumam sendiri hampir tidak percaya apa yang saya baca. “Luar biasa tulisannya, seperti sihir. Entah bagaimana ada seorang penulis mampu menulis sampai sedetail ini?!!!”, gumamku sendiri dan menekuri keganjilan tulisan LKH.

Terus terang, belum pernah saya membaca tulisan guru LKH, yaitu SH MINTARDJA. Apakah gaya bahasa yang dipakai cukup memukai seperti LKH. Mungkin butuh waktu untuk membaca karya SH Mintardja dan melihat koherensi antara keduanya. Karya-karya SH Mintardja yang pernah saya kenal adalah Nagasasra dan Sabuk Inten, Suramnya Bayang-Bayang, Tanah Warisan dan Api di Bukit Menoreh Menoreh yang disebut sebagai novel the never ending story, lantaran ditinggal meninggal sebelum selsai jalan ceritanya.

Setidaknya LKH yang sedang berselancar dalam dunia imajinasi dengan mengambil latar belakang sejarah, harus mendalami litertur lebih banyak, atau berkunjung langsung ke lokasi, atau bertanya pada sejarawan Indonesia. Setelah buku pertamanya dihujat habis-habisan oleh para pengkaji dan ahli sejarawan di tanah air.

Tulisan yang memukai itu sampai saat ini belum bernjak dari kehangatan ingatan saya. Bayangan adegan bagaimana Mahapatih Gajahmada memberi tugas kepada anak buahnya atau bagaimana menyebarkan telik sandi, membuat saya teringat-ingat terus. Setelah membaca tiga bukunya dan entah apakah suatu saat nanti saya bisa membaca sambungannya lagi apa tidak. Paling tidak saya berharap suatu saat nanti saya bisa menuntaskan segala penasaran saya dengan membaca sambungannya.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan lewat sebuah novel sejarah atau kalau saya bisa menyebut dengan novel realis-history (Novel fakta yang berlatar-belakang sejarah). Seperti saya bisa memahami sebuah alur sejarah di masa Majapahit tanpa lelah dan bingung. Atau boleh dikatakan membaca novel tanpa diketahui dan dirasakan pembacanya mempelajari juga sejarah yang semstinya memusingkan kepala. Dalam bukunya yang ke-dua, LKH tidak main-main lagi dalam penulisannya, karena berbagai data telah dilengkapinya. Bahkan kalau ada sebuah nama yang hanya karya imajinasinya, LKH akan langsung mengatakan bahwa itu nama buatannya sendiri dan tidak ada dalam sejarah. Begitu hati-hati LKH dalam memungut perjengkal tulisannya, hiingga membuat saya harus menggeleng-ngeleng kepala karena tahjub. Semua itu tidak dia dapatkan tanpa memeras keringat, karena sebelumnya ia pernah mengalami kesalahan dan menunai protes oleh kalangan banyak.

Semua itu menunjukkan bahhwa, ternyata sejarawan Indonesia tidak diam saja ketika ada sebuah kesalahan sejarah dilakukan oleh sebagian orang. Dan ini juga menjadi dalih bahwa geliat keilmuan di Indonesia menjadi semakin maju. Bahkan kritik sastra mulai berkembang semarak.

Setidaknya dari pengamatan saya terhadap sebuah novel, baik Indonesia atau manca-negara, saya menemukan sebuah kenyataan, bahwa LKH mempunyai gaya penyampaian dan karakteristik tersendiri di dalam novelnya ini. Entah apa gaya penulisan novelnya ini termasuk dari hasil belajarnya kepada SH Mntardja apa tidak, saya masih belum bisa menjawab. Gaya penyampaian itu menjadi kian terperinci, ketika sebuah aspek cerita dalam cerita diceritakan atau dikisahkan dalam bentuk nyata kembali. Seperti halnya yang dilakukannya ketika Ibu Suri Gayatri dan Kiai Maling Wiragati bercerita tentang masa lalunya, ternyata penulis tidak mengkisahkan dengan hanya melalui perkataan langsung Ibu Suri gayatri dan Kiai Wiragati, namun penulis langsung menceritakannya dan ini bisa dinamakan cerita di dalam cerita, yaitu ketika menceritakan sesuatu kisah ketika tokoh yang dikisahkan bercerita juga. Ciri seperti ini baru saya temukan pada diri LKH dan mungkin inilah gaya disiplinnya dalam menulis.

Kalau boleh menulis komentar lebih jauh, LKH dalam mengkisahkan ceritanya bisa disandingkan dengan novelis China Gu Long yang agak-agak njelimet dan menegangkan. Setidaknya LKH masih mempunyai kelebihan sedikit, yaitu ia berani atau mungkin mampu menggunakan perahu dan layar atas nama sejarah dalam penyampaian ceritanya, sedangkan Gu Long jarang sekali menyentu aspek sejarah. Lebih jauh lagi, novel sejarahnya yang panjang dan enam buku serinya itu, ternyata sulit disejajarkan dengan novelis-novelis lainnya. Seorang novelis besar Naguib Mahfouz-pun belum tentu akan mampu menulis novel sejarah sampai enam jilit atau serial. Padahal ia termasuk novelis mendunia, dan ternyata seorang LKH mampu berlayar di lautan fiksi dan imajinasi sampai sejauh itu melebihinya. Itu bisa dikatakan sangat luar biasa. Banyak orang mengetahui bahwa novelis Naguib Mahfouz (1911-2006) hanya mampu membuat novel sejarah menjadi trilogi saja. Seperti ‘Abs el-Aqdar, Radubis, dan Kafah Theba.

Kalau bercerita tentang novel sejarah atau sebuah novel berlatar belakang sebuah sejarah. Saya ingat dengan raja dirajanya CERSIL (Cerita Silat) Asmaraman Kho Ping Hoo yang mampu menulis cerita silat bersambung hingga sampai 17 seri. Ceritanya yang berlatar belakang sejarah dinasti China dari zaman lima wangsa (907- 960 )- dinasti Manchu atau Qing (1644-1911). Novel yang begitu panjang dan entah berapa puluh ribu halaman itu pun mempunyai kejeniusan sendiri dan akan menjadi catatan sendiri bagi saya. Bebeda dengan LKH, seorang Asmaraman Kho Ping Hoo yang buta huruf China mampu menulis dengan gaya yang berbeda dari novelis lainnya, karena yang disuguhkannya ternyata tidak hanya fantastiknya, romantisnya, khayalnya, sejarahnya, bahkan lebih dari itu. Di sana Asmaraman Kho Ping Hoo mampu menjelmakan tulisannya sebagai bahan kajian filsafat yang akan menjadikan pembacanya menjadi orang baru dengan pemandangan hidup yang lebih baru. Kalau Asmarman Kho Ping Hoo mampu menghadirkan sebuah perenungan berupah perkataan filsafat terhadap pandangan, hidup, politik, negara, budaya, agama, percintaan sampai pada alam bawah sadar manusia dan lebih-lebih kelebihannya dalam menyeret pembacanya ke alam bawah sadar. Itulah LKH yang saya kira tidak kalah jeniusnya dengan seorang KPH sekalipun.

Dari itu, saya berpendapat bahwa tulisan LKH tidak hanya akan mendapatkan atau bisa dikaji tentang novel sejarahnya, namun sajian gaya kepenulisannya yang berbeda bisa dikatakan akan mampu membawa madzab abru terhadap sebuah novel. Saya tidak akan kaget, jika suatu saat novel LKH akan menjelma sebagai buku sejarah yang wajib dibaca oleh generasinya. Dan saya berpendapat, nama Langit Kresna Hariadi atau LKH bisa disejajarkan dengan para novelis seperti Naguib Mahfouz atau KPH, atau bahkan gurunya seklalipun yaitu SH Mintardja.

Novel tentang Mahapatih Gajahmada yang ditulisnya, jangan hanya dibuat sebagai bahan bacaan yang biasa karena di dalamnya memuat pesan moral yang begitu banyak. Namun yang paling besar daris egala pesan adalah, bahwa negara Indonesia harus tetap bersatu jangan sampai terpecah belah oleh hanya sebuah TAHTA. Kalau kita sedikitboleh melihat Indonesia saat ini, maka kita akan merasakan apa itu sedih dan renyuh, karena gejala perpecahan itu mulai ada di setiap jengkal tanah air Indonesia. Sehingga saya berharap akann lahir seorang GAJAHMADA kedua yang dapat menyatukan kesatuan NUSANTARA.

Dari segi nama para tokoh yang disebutkan LKH bisa dikatakan masuk akal, karena memang pada zaman itu banyak sekali para penduduk Jawa yang memakai nama-nama binatang atau benda-benda, seperti Gajah Enggon, Gagak Bongol, Lembu Peteng, dan lain-lain. Karena pemakaian nama-nama itu memang pernah saya jumpai, bahkan hingga saat ini. Lebih menarik dan mempesona lagi, ternyata LKH tidak keluar dari ke-jawa-annya ketika menulis novelnya, karena dari segi gaya tulisan yang dihadirkan terlihat sekali bahwa ia termasuk orang Jawa yang sangat memahami adat dan kebudayaannya. Itu terlihat dari berbagai tulisannya yang banyak ditemui berbahasa Jawa kuno dan adat-adat seperti ilmu titen-nya dan adat-adat lainnya bisa diceritakan dengan mengalir tanpa kemandekan.
Akhirnya saya harus menyelesaikan komentar pendek saya bahwa LKH adalah novelis sejarah yang namanya bisa disejejarkan dengan novelis besar seperti, Naguib Mahfouz (Mesir), Asmaraman Kho Ping Hoo (Indonesia), Gu Long (China), Jin Yong (China) dengan novel triloginya Rajawali, Alexander Solzhenistsyn dengan novelnya August), Eiji Yoshikawa (dengan novelnya Mushashi), Luo Guanzhong (dengan novelnya Romance of the Three Kingdoms), Pramoedya Ananta Tour dengan Roman Tetralogi Buru-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bnagsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), John Shors dengan novelnya Beneath A Marble Sky, dan masih banyak para novelis lainnya yang mengusung karya fiksi dengan bumbu sejarah atau berlayar sejarah. Akhirnya saya harus mengakui bahwa LKH adalah novelis yang saya kagumi. Semoga saya bisa menjadi penulis bisa menelurkan tulisan-tulisan menggugah seperti dirinya dan saya saat ini juga akan menganggap LKH adalah salah satu guru, walaupun belum pernah bertemu, seperti halnya dirinya yang menganggap SH Mintardja sebagai gurunya.
Dan akhirnya lagi, selamat atas kesuksesan. Semoga LKH masih diberi hati yang suci, sehingga semua tulisannya yang dibaca ribuan bahkan kemungkinan jutaan orang termasuk karya suci darinya.
Sampai saat ini saya penasaran kisah selanjutnya, entah apakah Mahapatih Gajah Mada dapat melaksanakan Hamukti Palapa-nya apa tidak?.

”untuk mewujudkan mimpi
kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum
cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan
bersenang-senang dahulu sebagaimana hakikat arti dari hamukti wiwaha.
Aku memilih kebalikannya. Aku akan hamukti palapa sampai kapan pun,
sampai Majapahit yang aku inginkan dan kita inginkan bersama menjadi
kenyataan. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung, yang
itulah hakikat arti dari sumpahku, Sumpah Palapa, semata-mata demi
kebesaran Majapahit.”

”Aku bersumpah untuk tidak akan beristirahat,” Gajah Mada
berteriak. ”Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah
ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali,
Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amukti palapa.”

Atau artinya;
Sumpah Palapa tersebut berarti, jika telah berhasil menundukkan
Nusantara, aku baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, telah tunduk, barulah aku akan beristirahat.


Kairo, 01 Pebruari 2008
Oleh; Elfenan



Baca Selanjutnya Bro..

Wednesday, October 24, 2007

Sakkia Abdel Muneim El Sawy


Kehausan akan curahan seni, budaya dan sastra benar-benar telah menjadikanku semakin menggeliat tidak tentu. Sudah lama aku ingin jalan-jalan sambil ditemani kesejukan hati ke sebuah tempat dimana para artis, seniman, teateris, sastrawan, penulis, pemikir, ulama’, mahasiswa, dan para wartawan berkumpul. Di Mesir, kita hanya akan menemukan beberapa markas para seniman berkumpul, itupun tidak pernah menyeluruh seperti apa yang dicapai oleh Sakkia Abdel Muneim El Sawy. Di tempat inilah dari sastrawan sampai pemuda-pemudi yang haus akan dunia seni, sastra, budaya, agama sampai dunia kepemudaan berkumpul. Sudah lama sekali aku ingin berkelana melihat bagaimana sebenarnya dunia
  • Sakkia
  • yang dibangun oleh penulis besar, wartawan Gumhouria dan novelis ini. Sakkia atau bisa dikatakan tempat bercurahnya keilmuan dan kebudayaan ini dibangun pada tanggal 15 Juli 2002 oleh wartawan Abdel Muneim El Sawy.


    Bisa dikatakan Sakkia masih baru dibangun, walaupun begitu suaranya sudah berdengung sampai kepelosok-pelosok desa di Mesir, bahkan banyak juga para seniman dan sastrawan dari manca negara, seperti Perancis, Itali, Amerika, Inggris dan Scotlandia makang di tempat ini. Hari Senin, tepatnya tanggal 22 Oktober 2007 kemarin aku bersama dua teman berkunjung ke dunia Sakkia yang berada di akhir jalan atau jembatan 26 July, Zamalek, Cairo, Mesir. Rasa penasaranku terhadap tempat ini membuatku benar-benar tidak bisa tenang, setelah melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki sambil sesekali bertanya, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan kami. Aku sendiri kaget ketika melihat tempat Sakkia yang didengung-dengungkan sebagai tempat para artis, sastrawan, seniman, penulis dan pemuda-pemudi berkumpul ternyata hanya seperti itu. Dahulu ketika pertama kali aku mendengarkan nama Sakkia dari beberapa iklan dan khususnya dari majalahnya yang diberinama Sakkia El Waraqiyya. Aku membayangkan bahwa gedung Sakkia sangat besar dan mewah, tapi setelah melihatnya sendiri, ternyata semuanya lain. Bahkan salah satu temanku tertawa nyengir melihat gedung Sakkia yang aneh itu.

    Gedung Sakkia yang diberi nama Khan Sakkia ternyata hanya gedung sederhana yang dibangun di bawah jembatan 26 July. Ketika melihat seperti itu, aku jadi ingat negeriku Indonesia. Di Indonesia, di kolong jembatan seperti itu adalah tempat dimana para saudara-saudaraku yang diberi embel-embel sebagai orang-orang gelandangan bertempat tinggal, daerahnya kumuh dan menjijikkan. Tapi di Mesir ini, tempat seperti itu malahan dijadikan sebagai tempat berkumpul para orang-orang keren. Aku sangat kecewa terhadap apa yang kulihat. Tapi dibenakku ada selentingan rasa memuji pendirinya, karena ternyata seorang wartawan besar seperti Abdel Muneim mempunyai cita rasa dan inisiatif yang berbeda dan menyeni sekali. Ketika aku terbengong-bengong melihat gedung kecil yang ada di bawah jembatan itu, salah satu temanku mengajak untuk masuk. Ketika masuk aku bertambah bengong, karena pemandangan antara di luar dengan di dalamnya sangat berbeda. Lima menit kami membaca beberapa pengumuman tentang jadwal acara, seperti kajian ilmiah, teater, pementasan puisi, pameran lukisan, pameran musik, nonton film bareng sampai ajang perkumpulan anak muda biasa.

    Di setiap sudut dinding di dalam Khan Sakkia terdapat sebuah pengumuman yang tertulis bahwa di daerah ini dilarang merokok, siapa yang melanggar akan dikenai denda 100 pound (200 ribu rupiah). Aku hanya bisa begumam “luar biasa tempat ini!”. Lalu telingaku mendengar suara alunan musik band. Belum lagi aku bertanya ke teman dimana asal suara itu, salah satu temanku sudah menyeretku untuk masuk ke sebuah ruangan yang ada di belakang. Baru saja aku masuk ke ruangan itu, aku bertambah terbengong-bengong seperti seorang pemuda melihat cewek cakep. Yang kulihat bukan sekedar cewek cantik saja, tapi pemandnagan di dalam ruangan ini begitu indah, nyaman, tenang dan romantis. Ruangan tang diberi nama Qa’ah Nahr (River Hall) ini berada di samping anak sungai Nil, sambil menikmati lantunan pameran musik, kita juga bisa menikmati keindahan sungai Nil. Group Band Arab yang sedang latihan itu ternyata melantunkan lagu Arab yang digubah sedemikian rupa hingga menyerupai lagu-lagu Inggris, belum pernah aku mendengarkan Band Arab seperti ini.

    Lalu salah satu temanku mengusulka untuk memesan kopi dan sambil menyeruput kopi aku dan teman-teman menikmati beberapa lagu dari Band Arab. Aku menikmati lagunya di pinggir sungai Nil da mataku tidka henti-hentinya menatap aliran Nil yang berjalan dengan santun dna sopan. Di dalam ruangan ini disediakan beberapa makanan dan minuman yang snagat murah. Bisa dikatakan tempat tidak sekedar sebagai tempat pameran musik dan teater saja, tapi lebih jauh lagi sebagai kafe, perpustakaan dan tempat liburan yang romantis. Lagu Band Arab sudah selesai dan saat ini para pemainnya sudah turun dan sedang bebincang-bincnag di sebelah tempat kami duduk. Kami pun berbincnag-bincang sekitar setengh jam. Tiba-tiba salah satu temanku menunjukkan kepadaku adagadis Mesir cantik. Sekilas aku melirik dan aku sampai bengong melihat seorang gadis berpakaian serba hitam itu melenggang dengan tenang menuju ke para pemain Band yang rata-rata mempunyai tubuh keren itu. Gadis itu sepertinya bukan asli ornag Mesir, karena wajahnya mirip sekali orang Eropa. Berkali-kali kami membicarakan dan mencoba menembak sebenarnya gadis itu aslid ari Mesir apa berdarah Eropa.

    Tidak terasa bahwa kami sudah hampir sejam berada di dalam ruangan ini. Dan ada beberap petugas menyuruh kami keluar, karena Band Arab yang tadi sedang latihan sebentar lagi akan manggung. Bagi yang ingin melihat pementasannya itu harus membeli tiket dulu. Akhirnya kami keluar untuk mencari informasi tentang cara pendaftaran keanggotaan Sakkia. Di ruangan yang diberi nama Qa’ah Hikmah (Wisdom Hall) itu kami mendapatkan informasi pendaftaran. Untuk mendapatkan kartu keanggotaan, kami harus mengisi folmulir dan membayar pendaftaran 20 pound untuk masa satu tahun. Bagi anggota Sakkia bisa mendapatkan potongan 5 pound setiap ada pagelaran seni dan kebudayaan, juga kita bisa meminjam beberapa buku di perpustakaan Sakkia.

    Lebih lanjut lagi, ternyata Sakkia mempunyai tiga ruangan khusus, yaitu ruang sungai (River Hall) yang digunakan untuk pementasan tentang dunia pemusikan. Ruang himah (Wisdom Hall) adalah ruangan yang digunakan sebagai tempat pengajian tentang keagamaan. Sedangkan ruang kata (Word Hall) adalah tempat pagelaran teater, pembacaan puisi dan kajian ilmiah dan kebudayaan. Di tempat lain juga ada sebuah ruangan untuk perpustakaan bagi anak kecil, pelajar, mahasiswa dan para guru.setelah emngetahui beberapa informasi seperti itu, aku dapat melihat bahwa area tempat Sakkia ternyata cukup luas dan panjang, karena ia berada di bawah jembatan dan di samping aliran sungai Nil. Aku pun jadi tahu, bahwa arsiktur pembuatan tempat ini memang cicik sekali, karena tidak mengganggu orang lain. Orang tidak akan tahu dan mendengar suara musik yang keras jika di atasnya telah ada suara berisik dari mobil yang lewat jembatan. Diantara kelebihan Sakkia dnegan tempat lain seperti Opera House, Britist Council, El Harrawy dan lain-lainnya adalah bahwa tempat ini bisa menggabungkan diri antara dunia seni-budaya dengan keilmiahan dan dunia agama. Dan tempat yang sederhana itu ternyata memiliki keistimewaan yang suli dicari ditempat lainnya. Diakhir kata aku bisa mengatakan, bahwa sesuatu yang dibangun dari sebuah kesedarhanaan dan pemikiran yang ikhlas, akan menunai suatu yang tinggi dan maha dahsyat.

    24 Oktober 2007


    Baca Selanjutnya Bro..

    Mengelupas Definisi Sastra


    Mengelupas definisi sastra sampai ke akar-akarnya tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan, mengelupasi definisi sastra yang begitu banyaknya hampir sama sulitnya dengan menghitung warna dalam pelangi, karena disamping kita belum bisa menemukan definisi yang betul-betul mencukupi, juga di sekitar sana masih ada definisi-definisi liar yang disuguhkan oleh perorangan yang ikut andil dalam mendefinisikan sastra sesuai dengan keinginannya. Definisi-definis liar inilah yang membuat para pakar bahasa dan sastrwan sendiri menjadi pening.
    Tapi dari semua definisi yang diberikan oleh orang-orang, baik dari para pakar bahasa, sastrawan ataupun orang awam sendiri kita bisa mengambil tiga inti dasar dari definisi-definisi itu. Tiga inti yang ada pada definisi-definisi itu adalah keindahan, tulisan dan obyek sastra. Dari tiga inti dasar definisi sastra ini, telah muncul warna-warni sastra yang membingungkan. Dari tiga inti dasar definisi sastra ini juga muncul berbagai permasalahan yang membuat seorang sastrawan harus berfikir secara keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Permasalahan-permasalahan itu muncul baru-baru ini, ketika kebudayaan menjadi semakin tua dan berkembang.



    I– Keindahan
    Apakah sastra itu harus indah?, mungkin seringkali pertanyaan itu menyentuh benak kita, kerap kali sastra dihubungkan dengan keindahan dan kertistikan. Bahkan ada beberapa golongan yang mengklaim bahwa sastra itu harus indah, jika ada karya sastra tanpa keindahan dan keartistikan, maka karya sastra itu bukan disebut sastra lagi. Apakah semua itu betu?, untuk menjawab itu, saya ingin menanyakan kepada Anda-anda sekalian, seberapa banyak karya sastra yang Anda baca dan seberapa banyak Anda mengetahui tentang sastra.
    Dari definisi yang kita dapatkan dalam kamus KBBI kemarin, bahwa sastra harus memiliki ciri keunggulan, diantaranya adalah keindahan. Ciri khas ini harus selalu melekat pada sebuah karya sastra (ibda’), baik dalam bentuk prosa atau puisi. Lah, terus bagaimana dengan para sastrawan dan penyair yang membuat sebuah karya sastra tanpa adanya keindahan di dalamnya?. Apakah itu termasuk karya sastra?. Pada dasarnya keindahan hanyalah sebuah ciri pada sastra yang bisa dihilangkan dan digantikan dengan ciri yang lain, seperti halnya sebuah perhiasan dan baju yang ada pada diri manusia. Semua itu bisa diibaratkan sebagai seorang perempuan yang cantik, apakah seorang yang cantik itu dilihat dari keindahan perhiasan dan bajunya, tentu tidak!. Kecantikan tidak harus disandarkan kepada keindahan sebuah perhiasan yang dipakai seseorang, kecantikan dan keindahan pada seseorang lebih banyak terpancar pada dirinya sendiri, cara pandang seseorang padanya, dan perbedaan sudut pandang seseorang. Seperti itu juga sebuah karya sastra, keindahan hanya sebagai salah satu ciri khasnya, yang terpenting adalah sesuatu yang memancar dari diri sastra itu, bukan embel-embel yang lainnya.
    Memang sebuah sastra tidak bisa terlepas dari keindahan, entah itu dalam takaran sedikit atau banyak. Tapi keindahan itupun masih umum, karena keindahan sendiri bisa diartikan menjadi banyak, entah keindahan dalam bahasanya, filsafatnya, pesan akhirnya, ataupun keindahan sebuah alurnya. Tapi diantara semua keindahan itu, yang paling ditekankan adalah keindahan pada pesan sastra dan alurnya, bukan keindahan bahasa yang di dalamnya tidak ada isinya. Isi pada sebuah sastra adalah perkara yang paling penting, karena bagus tidaknya sebuah sastra bisa dilihat dari isi yang dimuat oleh sebuah karya sastra. Jadi keindahan pada sebuah karya sastra bisa dibilang hanya sebuah perhiasan sastra yang bisa dipakai atau dicopot, sedangkan isi pada sastra itu yang menentukan semuanya. Kalau kita bisa melihat seperti karya sastranya novel Ngauib Mahfouz (Awlad Haritna), Dan Brown (Da Vinci Code), Seno Gumira Ajidarma (Negeri Senja), dan puisinya Muchtar Lubis (Harimau), dan lain-lainnya. Di sana kita bisa menemukan tulisan yang jauh dari sebuah keindahan (kata-kata), karena semuanya lebih banyak menyuguhkan sebuah simbol-simbol yang membuat kita harus mengerutkan kening untuk dapat memecahkannya. Tapi dari semua karya sastra itu kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat mahal tentang kebebasan perpikir, berpendapat dan demokrasi pada sebuah negara. Begitu juga dengan novel filsafat karya Jostein Gaarder dengan judul Dunia Sophie-nya yang memuat pelajaran tentang filsafat, semuanya jauh dari keindahan bahasa yang banyak diagung-agungkan oleh orang-orang hingga saat ini. Dengan adanya sebuah karya yang seperti itu apakah keindahan bahasa dalam sastra menjadi sebuah ciri khas yang tidak bisa dihilangkan?. Keindahan bahasa tidaklah mutlak harus ada pada sebuah karya sastra, yang terpenting adalah pesan yang dibawa oleh karya satra itu.

    II– Tulisan
    Definisi yang akan saya kupas adalah definisi yang menyatakan bahwa sastra adalah karya tulis, atau creative writing of recognized artistic value. Sastra adalah sebuah cerminan ide atau bahasa yang dituangkan lewat sebuah karya atau tulisan. Secara mutlak, patokan sastra tidak harus dituangkan dengan cara tulis, kenapa?. Karena menuangkan sebuah gagasan dalam otak manusia tidak hanya lewat tulisan, di sana masih ada banyak wahana yang bisa dibuat untuk wadah sebuah gagasan (karya sastra).
    Sarana yang dipakai manusia untuk mengaktualisasikan ide-ide, gagasan-gagasan dan hasil pikirannya tidak terbatas pada tulisan saja, sarana-sarana lainnya basih banyak sekali, diantaranya adalah bercerita dari mulut ke mulut (safawiyah/oral), tulisan, gambar (visual), suara (audio), audio-visual, gerakan, atau tidak gerak sama sekali. Jadi tulisan bukan satu-satunya sarana yang ada pada kehidupan kita, di sana masih ada puluhan, bahkan ratusan sarana lainnya yang terus menerus muncul di dalam kehidupan kita. Coba kita tengok sarana pertama kita ketika pertama kali kita lahir ke dunia ini, dengan menangis. Menangis adalah sarana pertama manusia untuk merealisasikan kedukaan dan kegembiraannya dan sarana komunikasi terhebat bagi manusia ke manusia lainnya.
    Mungkin, definisi itu bisa disepakati dan dipakai patokan bagi sastra pada zaman puluhan tahun silam, tapi untuk saat ini apakah definisi itu masih bisa berlaku, apakah definisi seperti itu masih bisa membuat seseorang diam?, tentu tidak. Mungkin pula, pada waktu itu media yang paling baik untuk mengaktualisasikan sastra adalah lewat tulisan, disamping mudah juga hasilnya cukup bagus dan bisa dijangkau oleh semua kalangan. Sedangkan media atau sarana yang lainnya sangat sulit didapatkan dan digunakan. Faktor sejarah seperti itu tidak bisa dipungkiri lagi, karena adanya saat ini adalah hasil dari masa silam, dan adanya saat ini akan membawa hasil di masa depan. Setiap sesuatu selalu berupa bersamaan dengan berubahnya arah jarum jam dari setik sampai jam. Begitupun dengan sastra dan definisi-definisinya, sudah selayaknya untuk diubah juga, karena definisi yang kita pakai sudah cukup tua, cukup untuk dipensiunkan dan dirubah dengan yang baru yang mampu mencakup semuanya.
    Dengan kenyataan saat ini, seperti sarana gambar (visual) misalnya, sastra semakin luas cakupannya. Dari gambar (visual) itu, seperti lukisan, karikatur, foto dan lain-lainnya telah mewakili sastra dan seni untuk mengaktualisasikan ide-ide dan gagasan-gagasan pada diri manusia, seperti halnya dengan novel, cerpen, puisi, naskah drama dan lain-lain yang dihasilkan lewat sarana tulisan. Begitu juga dengan sarana suara (audio) yang menghasilkan karya seni dan sastra lewat sandiwara, cerita dan lain-lainnya. Atau gabungan antara gambar (visual) dan suara (audio) yang diwakili oleh film, sinetron dan lain-lainnya. Dan masih banyak lagi sarana-sarana lainnya yang ada pada kehidupan kita saat ini.
    Tentang hubungan sastra dan seni, bisa dikatakan sebagai satu tubuh, karena kedua-duanya berjalan seiringan, seni seperti halnya keindahan. Kedua-duanya termasuk ciri dari sebuah sastra.
    Makanya dari itu semuanya, penulis mencoba untuk mendefinisikan sastra sebagai cerminanan dari kehidupan-baik dari sastrawan itu sendiri atau dari lainnya- yang direfleksikan melalui media-media, baik bahasa, tulisan, ataupun audio-visual dengan hiasan artistik, keindahan dan lainnya, dan dengan tujuan tertentu. Bukan sekedar mendefinisikan saja, tapi lebih banyak untuk mencoba melakukan rangkulan-rangkulan ke semua aspek. Walaupun penulis sendiri tidak memungkiri adanya kekurangan-kekurangan saat ini atau yang akan datang, karena penulis lebih suka tidak mendefinisikan sastra sesuai dengan pernyataan Ibn khaldun tentang sastra yang mengatakan, “Sastra tidak bisa didefinisikan dan tidak ada definisinya”.

    III– Obyek Sastra
    Obyek sastra bisa muncul dari dalam diri sastrawan sendiri atau dari luar, bisa berbentuk sebuah kritikan, emosi, informasi, pembelajaran dan lain-lainnya. Seperti yang dikatakan oleh Mahmud Stanie bahwa unsur pembangun sastra (obyek sastra) banyak sekali, bisa dari budaya dimana sastrawan itu tinggal, atau kebudayaan orang lain dimana sastrawan mendapatkan inspirasi darinya. Cara berfikir, tempat tinggal, budaya, geografis dan politik bisa memunculkan berbagai corak sastra. Makanya obyek sastra atau unsur pembangun sastra bisa dikatakan ada dua secara garis besarnya, yaitu intrinsik (unsur dalam) dan ekstrinsik (unsur dari luar). Maksud dari unsur intrinsik adalah bahwa obyek pembangun sastra ada pada diri sastrawan sendiri, di mana semua ide, gagasan dan khayalan keluar dari dalam diri sastrawam. Seperti ketika seseorang menulis sebuah novel yang diambil dari kisah perjalanan kehidupan sendiri atau dari buku hariannya, maka obyek sastra yang diambil adalah dirinya sendiri.
    Berbeda dengan ketika ada seseorang menulis sebuah sajak yang diambil dari cerita orang lain atau menceritakan orang lain, seperti sajak dari W. S. Rendra Paman Doblang, Rendra menceritakan tentang seorang yang dipenjara oleh penguasa yang diktator, ia ingin menceritakan tentang seorang penguasa yang diktator. Unsur yang ini dinamakan unsur ekstrinsik. “Sastra adalah cerminan dari kehidupan dari pernik-perniknya sampai yang besar”, kata Dr. Syafiq Abdur Razaq Abi Sa’dah dosen fakultas bahasa Arab universitas al-Azhar.
    Dari kedua unsur inilah ide-ide mengalir deras, ide dan gagasan akan datang bersamaan dengan kehidupan manusia dari zaman ke zaman, karena hakekat sastra adalah salinan atau cerminan sebuah kehidupan manusia, makanya benar apa yang dikatakan Plato, bahwa sastra adalah sebuah karya tiruan realitas, yang notebenenya adalah tiruan dari dunia ide.
    Makanya ada benarnya ketika ada seseorang mengatakan bahwa dengan membaca karya sastra, Anda sama dengan melihat dan membaca sebuah kehidupan manusia, bisa dibilang sastra mirip seperti surat kabar, cuma bedanya sastra dihiasi dengan berbagai perhiasan yang menarik. Ada juga yang mengatakan bahwa sastra adalah hasil karya berupa hayalan tingkat tinggi seseorang, dengan mengatakan seperti ini, Anda menyatakan kebenaran apa yang dikatakan oleh Plato, Anda menyetujui dan menyepakatinya, padahal tidak juga. Buktinya adalah tidak semua karya sastra berasal dari hayalan saja, ada juga yang berasal dari dunia realis dan benar-benar ada dalam kehidupan kita.
    Terus apa hubungan budaya dan sastra?, kalau saya bisa mengatakan, sastra muncul dari budaya, sastra juga bagian dari budaya. Begitu juga budaya kadang-kdang bisa tercipta karena budaya. Seperti novelnya Arthur C. Clarke yang berjudul Space Odyssey, Arthur mengkisahkan tentang sebuah komputer yang bisa menerima perintah-perintah manusia, komputer itu juga mampu diajak berbicang-bincang layaknya manusia. Dari novel Arthur ini, para ilmuan hingga saat ini mencoba membuat komputer semisal komputer yang ada di novelnya . Ini yang dinamakan sebuah karya sastra bisa membangun sebuah peradaban dan budaya, dan masih banyak karya sastra lainnya yang semisalnya.
    Hubungan sastra dan budaya bisa diibaratkan seperti seekor ayam dan sebutir telur. Kita akan sulit menentukan mana yang dahulu dari keduanya, karena keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
    Budaya adalah obyek luar bagi sastra, ia juga bisa memunculkan corak yang bermacam-macam. Corak sastra ini akan muncul bersamaan dengan bermacam-macamnya budaya yang ada di bumi. Seperti budaya China yang membawa corak sastra China dengan peperangan-peperangannya. Juga budaya Arab yang membawa corak sastra Islam.
    Akhirnya sastra adalah karya terbesar, termulia, dan terhebat. Seorang sastrawan adalah seorang pencerita hebat, ia juga termasuk psikolog yang menghubungkan manusia dengan manusia.
    Sastra begitu besar, tidak mungkin manusia untuk mendefinisikannya, karena sastra tidak butuh didefinisikan dan tidak perlu didefinisikan.

    Bibliografi

    Abdur Razaq Abu Sa’dah, Syafiq, Muthalaat fil Adabil Umawi, al-Azhar, Kairo, 2006.
    Abdur Razaq Abu Sa’dah, Syafiq, Qithafun min Tsimaril Adabil Umawi, al-Azhar, Kairo, 1992.
    Al-Askandari, Ahmad, et. al. Al-Mufassil fi Tharikhil Adabil Arabi, Maktabah al-Adab, vol. 1, Kairo, 2005.
    Ahmad Badawi, Ahmad, Asasun Naqd al-Adab indal Arab , Nahdhah Misr, Giza, cet. VII, 2004.
    Hussain, Thaha, Fil Adabil Jahili, Dar el-Ma’arif, Kairo, cet. X, tanpa tahun terbit.
    Dhaif, Syauqi, Al-Ashrul Jahili, Dar el-Ma’arif, Kairo, cet. IV, tanpa tahun terbit.
    Gunawan, Adi, Kamus Praktis Ilmiah Populer, Kartika, Surabaya, tanpa tahun terbit.
    Afif, Hamid, Menyampaikan Ideologi Lewat Sastra, makalah kajian lepas Gamajatim pada tanggal 30 September, Kairo, 2006.
    Niswah el Fidaa, Dhoriefah, Problematika Definisi Sastra, makalah kajian lepas Gamajatim pada tanggal 30 September, Kairo, 2006.


    Baca Selanjutnya Bro..